Sakke Hudali, Kearifan Lokal Usai Musim Tanam Padi di Desa Pantis Pahae Julu Taput

- Editorial Team

Jumat, 26 Maret 2021

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Tapanuli Utara, TRIBRATA TV

Disela-sela kegiatan Musyawarah Desa (Musdes) Khusus Penetapan KPM BLT Desa Pantis Kecamatan Pahae Julu Kabupaten Tapanuli Utara (Taput), Sumut pada Jumat (26/3/2021), warga mengikuti tradisi setempat yang diberi sebutan “Sakke Hudali”. Pada kesempatan itu warga mendaulat Camat, Maradu Sitompul serta tim dari Dinas PMD Taput, Redianto Sinaga untuk mengikuti acara tradisi yang sudah turun temurun tersebut dilaksanakan.

Sakke Hudali (Sakke = menggantungkan/ menyimpan, Hudali= Pacul) merupakan kearifan lokal yang diwariskan secara turun temurun. Secara harafiah dimaknai sebagai kegiatan menyimpan alat-alat pertanian setelah masa tanam padi usai.

BACA JUGA  Revitalisasi SMPN 1 Simangumban Disorot, Warga Minta Pengawasan

Sebagai wujud rasa syukur atas selesainya melakukan penanaman padi, proses Sakke Hudali diawali dengan pemotongan dan pembagian daging kerbau atau sapi ke masyarakat. Pemilihan ternak tersebut lazim dilakukan karena masyarakatnya yang heterogen yakni beragama Kristen dan Muslim.

Rangkaian kegiatan Sakke Hudali akan dilanjutkan pada sore harinya yakni dengan melakukan doa bersama. Bagi warga beragama Kristen akan melakukan doa bersama di gereja, sementara yang muslim di mesjid setempat.

Tujuannya untuk meminta restu dari Sang Pencipta, agar kiranya tanaman padi warga menghasilkan panen yang memuaskan.

BACA JUGA  Serahkan KK, KIA dan Akte Lahir, Bupati Taput Kunker ke Dusun Hajoran Desa Silantom Jae Kecamatan Pangaribuan

Esok harinya, setiap warga wajib beristirahat total (mirip Nyepi di Bali). Masyarakat “dilarang” melakukan aktivitas pertanian, dan umumnya hanya bercengkerama dengan tetangga.

Tujuannya untuk mengumpulkan energi baru, setelah terkuras untuk proses pengolahan lahan dan penanaman bibit padi.

Sayangnya, seiring perkembangan waktu, tradisi ini semakin terkikis. Jika puluhan tahun yang lalu desa-desa di Luat Pahae wajib melakukan ritual ini, namun belakangan ini tinggal beberapa desa yang masih mempertahankannya. (Harapan Sagala)

BACA JUGA  PT TPL Bantu Bibit Kopi Kepada Petani

—————————————

Apabila ada pihak yang merasa dirugikan dan atau keberatan dengan penayangan artikel dan atau berita tersebut di atas, Anda dapat mengirimkan artikel dan atau berita berisi sanggahan dan atau koreksi, sebagaimana diatur dalam Pasal 1 ayat (11) dan (12) Undang-Undang No. 40 tahun 1999 tentang Pers. Artikel/ berita dimaksud dapat dikirimkan melalui kontak redaksi kami”.

Bergabung dengan SALURAN WA untuk dapatkan berita-berita terbaru TRIBRATA TV Online

Berita Lainnya

‎Biro Bantuan Hukum BKSG-LKI Kota Medan Resmi Terbentuk
‎9 Tahun Urus Izin Gereja GPT Tidak Keluar, Syarat Lengkap Pemko Medan Hanya Janji
Kapolres Samosir Tegaskan Komitmen Pemberantasan Narkotika dan Ilegal Logging
Nama Kolonel Maludin Simbolon Resmi Diabadikan Jadi Nama Ruas Jalan Utama di Samosir
Polres Tebing Tinggi Sosialisasikan Tertib Berlalu Lintas di SMKN 1
Hari Kedua Penyaluran PIP di Kabupaten Samosir, Rapidin Datang ke Sekolah Terpencil
Buka Pendidikan Bintara Polri di SPN Hinai, Wakapolda Sumut Tekankan Moral, Integritas, dan Pelayanan
Memenuhi Unsur, Oknum Pengacara Tersangka di Polda Sumut ‎

Berita Lainnya

Selasa, 21 Juli 2026 - 22:20 WIB

‎Biro Bantuan Hukum BKSG-LKI Kota Medan Resmi Terbentuk

Selasa, 21 Juli 2026 - 16:25 WIB

‎9 Tahun Urus Izin Gereja GPT Tidak Keluar, Syarat Lengkap Pemko Medan Hanya Janji

Selasa, 21 Juli 2026 - 14:42 WIB

Kapolres Samosir Tegaskan Komitmen Pemberantasan Narkotika dan Ilegal Logging

Selasa, 21 Juli 2026 - 11:31 WIB

Nama Kolonel Maludin Simbolon Resmi Diabadikan Jadi Nama Ruas Jalan Utama di Samosir

Selasa, 21 Juli 2026 - 09:19 WIB

Polres Tebing Tinggi Sosialisasikan Tertib Berlalu Lintas di SMKN 1

Berita Terbaru