Sleman,TRIBRATA.TV — Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Kepala BKKBN, Wihaji, bertemu ratusan Tim Pendamping Keluarga (TPK) Kabupaten Sleman dalam rangka peringatan Hari Keluarga Nasional (Harganas) ke-33 Tahun 2026 di Balai Budaya Tamanmartani, Kalasan, Kamis (25/6/2026).
Dalam kegiatan tersebut, Menteri Wihaji didampingi Wakil Bupati Sleman Danang Maharsa, jajaran organisasi perangkat daerah (OPD), serta unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda). Selain berdialog dengan para kader TPK, Wihaji juga berinteraksi langsung dengan sejumlah keluarga berisiko stunting yang hadir dalam acara tersebut.

Pada kesempatan itu, Wihaji menegaskan pentingnya peran kader TPK sebagai ujung tombak upaya percepatan penurunan stunting dan penguatan ketahanan keluarga. Ia bahkan menguji pemahaman para kader mengenai tugas pokok dan fungsi mereka melalui sejumlah pertanyaan terkait pelaksanaan pendampingan keluarga di lapangan.
Dalam arahannya, Wihaji menyampaikan bahwa pemerintah pusat berkomitmen melakukan pengawasan langsung hingga tingkat akar rumput sesuai arahan Presiden Republik Indonesia. Menurutnya, efektivitas program harus dibuktikan melalui kondisi nyata di lapangan, bukan hanya melalui forum-forum diskusi.
“Saya mendapat perintah dari Bapak Presiden untuk turun ke lapangan. Jangan banyak diskusi, jangan banyak seminar, jangan banyak FGD. Cek lapangan, apakah betul tugas-tugas itu bisa dilaksanakan dengan baik,” ujar Wihaji.
Sementara itu, Wakil Bupati Sleman Danang Maharsa menyambut baik kunjungan Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga sebagai momentum strategis untuk memperkuat sinergi antara pemerintah pusat dan daerah dalam pembangunan keluarga berkualitas.
Danang menegaskan Pemerintah Kabupaten Sleman siap mendukung kebijakan kependudukan nasional, termasuk dalam upaya percepatan penurunan stunting. Menurutnya, keberhasilan penanganan stunting tidak hanya bergantung pada pemenuhan gizi, tetapi juga pada akurasi data sasaran penerima intervensi.
“Stunting bukan sekadar angka. Ini menyangkut masa depan anak-anak kita. Karena itu verifikasi dan validasi data menjadi kunci agar intervensi tepat sasaran dan keluarga yang berisiko bisa segera didampingi,” kata Danang.
Sebagai bentuk kesiapan pelaksanaan program di lapangan, Pemkab Sleman telah mengoptimalkan kinerja tenaga lini lapangan yang tersebar di 16 kapanewon. Saat ini, Kabupaten Sleman memiliki 2.088 anggota Tim Pendamping Keluarga, 212 kelompok Bina Keluarga Balita (BKB) dengan 8.345 anggota, 134 kelompok Bina Keluarga Remaja (BKR) dengan 3.977 anggota, serta 175 kelompok Bina Keluarga Lansia (BKL) dengan 4.556 anggota.
Selain itu, Sleman juga memiliki 16 Sekolah Lansia dan 131 kelompok Pusat Informasi dan Konseling Remaja (PIK-R) dengan total 2.620 anggota yang mendukung penguatan pembangunan keluarga di daerah.
Peringatan Harganas ke-33 di Sleman juga diwarnai dengan integrasi program edukasi literasi keuangan keluarga bersama Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Program tersebut ditujukan untuk meningkatkan kemandirian ekonomi keluarga di Kampung Keluarga Berkualitas sekaligus memperkuat kemampuan keluarga dalam mengelola risiko keuangan secara bijak.(Dik.)
—————————————
“Apabila ada pihak yang merasa dirugikan dan atau keberatan dengan penayangan artikel dan atau berita tersebut di atas, Anda dapat mengirimkan artikel dan atau berita berisi sanggahan dan atau koreksi, sebagaimana diatur dalam Pasal 1 ayat (11) dan (12) Undang-Undang No. 40 tahun 1999 tentang Pers. Artikel/ berita dimaksud dapat dikirimkan melalui kontak redaksi kami”.
Bergabung dengan SALURAN WA untuk dapatkan berita-berita terbaru TRIBRATA TV Online








