Sleman,TRIBRATA.TV – Peringatan Malam 10 Suro di lereng Gunung Merapi berlangsung khidmat melalui kegiatan Laku Tapa Brata yang digelar oleh Abdi Dalem Hargo Merapi di Petilasan Mbah Maridjan, Kinahrejo, Cangkringan, Kabupaten Sleman, Rabu (24/6/2026) malam. Kegiatan tersebut dihadiri Wakil Bupati Sleman Danang Maharsa, Juru Kunci Merapi Asihono atau Mbah Asih, tokoh masyarakat, budayawan, serta warga setempat.
Laku Tapa Brata menjadi salah satu tradisi tahunan masyarakat lereng Merapi dalam menyambut 10 Suro atau 10 Muharam. Tradisi ini tidak hanya dimaknai sebagai pelestarian budaya warisan leluhur, tetapi juga sebagai sarana refleksi spiritual dan doa bersama untuk keselamatan masyarakat.

Juru Kunci Merapi, Asihono atau Mbah Asih, mengatakan bahwa tradisi tersebut telah dilaksanakan secara turun-temurun dan rutin digelar sejak tahun 2006. Kegiatan ini juga menjadi bentuk penghormatan terhadap nilai-nilai luhur yang diwariskan oleh almarhum Mbah Maridjan, sosok yang dikenal luas sebagai penjaga tradisi dan kearifan lokal di lereng Merapi.
“Laku Tapa Brata dilakukan pada Malam 10 Suro dan telah berlangsung sejak tahun 2006. Kegiatan ini menjadi sarana pelestarian tradisi budaya dan saya sekaligus melanjutkan Almarhum Bapak Maridjan,” ujar Mbah Asih.
Menurutnya, Laku Tapa Brata memiliki makna yang lebih luas daripada sekadar ritual budaya. Tradisi ini menjadi wadah mempererat kebersamaan masyarakat sekaligus memperkuat nilai-nilai spiritual dalam kehidupan sehari-hari.
Ia juga mengapresiasi keterlibatan generasi muda yang mulai aktif mengikuti kegiatan tersebut. Partisipasi kaum muda dinilai penting untuk menjaga keberlangsungan tradisi dan kearifan lokal agar tetap lestari di tengah perkembangan zaman.
“Dengan Laku Tapa Brata menjadi sarana untuk memohon pertolongan dan perlindungan Allah SWT untuk dijauhkan dari mara bahaya,” katanya.
Sementara itu, Wakil Bupati Sleman Danang Maharsa menyampaikan bahwa Laku Tapa Brata merupakan tradisi yang memiliki nilai budaya dan spiritual yang kuat. Menurutnya, kegiatan tersebut menjadi momentum bagi masyarakat untuk melakukan introspeksi diri sekaligus mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Danang menilai keberadaan Gunung Merapi selama ini telah memberikan banyak manfaat bagi masyarakat, mulai dari sumber mata pencaharian hingga kekayaan sumber daya alam yang mendukung kehidupan warga di sekitarnya. Karena itu, tradisi Laku Tapa Brata juga menjadi bentuk rasa syukur atas nikmat yang diberikan Tuhan.
“Semoga Laku Tapa Brata terus lestari sebagai salah satu tradisi warga lereng Merapi yang tidak lekang oleh zaman,” ujar Danang.
Prosesi Laku Tapa Brata diawali dengan pembacaan macapat, dilanjutkan doa bersama dan tirakat sebagai bentuk refleksi diri serta permohonan keselamatan bagi masyarakat. Seluruh rangkaian kegiatan berlangsung dalam suasana khidmat, penuh ketenangan, dan kebersamaan di kawasan Petilasan Mbah Maridjan yang memiliki nilai historis bagi masyarakat lereng Merapi.
Hingga kini, warisan nilai-nilai luhur yang diteladankan almarhum Mbah Maridjan dalam menjaga tradisi, mengabdi kepada masyarakat, dan menghormati alam tetap hidup di tengah masyarakat lereng Merapi. Nilai-nilai tersebut terus menjadi inspirasi dalam upaya pelestarian budaya dan kearifan lokal di wilayah tersebut.(Dik.)
—————————————
“Apabila ada pihak yang merasa dirugikan dan atau keberatan dengan penayangan artikel dan atau berita tersebut di atas, Anda dapat mengirimkan artikel dan atau berita berisi sanggahan dan atau koreksi, sebagaimana diatur dalam Pasal 1 ayat (11) dan (12) Undang-Undang No. 40 tahun 1999 tentang Pers. Artikel/ berita dimaksud dapat dikirimkan melalui kontak redaksi kami”.
Bergabung dengan SALURAN WA untuk dapatkan berita-berita terbaru TRIBRATA TV Online








