Takalar, TRIBRATA TV
Pemerintah Kabupaten Takalar secara resmi memperkuat komitmennya dalam memberantas penyakit Tuberkulosis (TBC) melalui peluncuran inovasi Assamaturu Bebas TBC (Aksi Sistematis Bebaskan TBC). Langkah strategis ini digagas langsung oleh Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Takalar, dr. Hj. Nilal Fauziah, M.Kes, demi mewujudkan target besar Takalar Bebas TBC pada Tahun 2030.
Acara peluncuran yang berlangsung di Ruang Pola Kantor Bupati Takalar pada Rabu (17/6/2026) ini dirangkaikan dengan pengukuhan 110 Duta Assamaturu Bebas TBC oleh Bupati Takalar, Mohammad Firdaus Daeng Manye. Agenda ini dihadiri oleh unsur Forkopimda, pimpinan OPD, camat, lurah, kepala desa, organisasi profesi kesehatan, hingga tokoh masyarakat dan adat.
Dalam sambutannya, Kepala Dinas Kesehatan Takalar, dr. Hj. Nilal Fauziah, menjelaskan bahwa nama “Assamaturu” diambil dari bahasa Makassar yang berarti bergerak bersama menuju satu tujuan. Gerakan kolaboratif ini menggunakan pendekatan Heptahelix dengan merangkul tujuh elemen sekaligus: pemerintah, akademisi, dunia usaha, komunitas, media, tokoh agama, dan tokoh adat.
”Hari ini kita menyatukan langkah. Assamaturu adalah simbol semangat kebersamaan seluruh komponen masyarakat untuk mempercepat eliminasi TBC di Takalar,” ujar dr. Nilal.
Berdasarkan data Dinas Kesehatan Takalar, estimasi TBC pada tahun 2025 mencapai 1.247 kasus. Walau angka penemuan kasus telah menyentuh 78 persen dan keberhasilan pengobatan mencapai 89 persen, tantangan berat masih membayangi. Di antaranya adalah rendahnya kesadaran warga, kuatnya stigma sosial (rasa malu) di masyarakat, hingga adanya pasien yang drop-out atau tidak menyelesaikan pengobatan mereka.
Menanggapi hal tersebut, Bupati Takalar, Mohammad Firdaus Daeng Manye,
memberikan apresiasi tinggi terhadap inovasi ini. Daeng Manye mengibaratkan kasus TBC di wilayahnya seperti fenomena gunung es, di mana angka yang tercatat bisa jadi belum mencerminkan realitas penuh akibat banyaknya penderita yang enggan atau malu memeriksakan diri.
”Ini adalah langkah konkret yang langsung menyentuh akar rumput. Assamaturu artinya gotong royong. Jika penyakit ini ditemukan lebih cepat dan diobati sampai tuntas, maka mata rantai penularan bisa kita hentikan,” tegas Bupati Daeng Manye.
Sebagai bentuk aksi nyata di lapangan, Pemkab Takalar menginisiasi dua pilar utama dalam gerakan ini:
110 Duta Assamaturu Bebas TBC: Berperan sebagai garda terdepan di masyarakat untuk melakukan edukasi, skrining dini, pencatatan, hingga pendampingan pasien.
Pos TBC Desa: Dibentuk secara serentak di 110 desa dan kelurahan sebagai pusat pelayanan informasi, skrining mandiri, dan pelaporan kasus TBC setempat.
Selain itu, Bupati juga menekankan pentingnya perbaikan sanitasi lingkungan di lingkungan warga serta integrasi sistem digitalisasi dalam pengelolaan data TBC. Digitalisasi ini diharapkan dapat membuat proses identifikasi, pelaporan, pengobatan, hingga evaluasi berkala berjalan jauh lebih transparan dan efektif.
Melalui sinergi Assamaturu, Pos TBC Desa, dan penguatan peran kader digital, Pemerintah Kabupaten Takalar optimistis mampu menekan laju penularan secara signifikan dan memastikan masyarakat Takalar tumbuh menjadi masyarakat yang lebih sehat, mandiri, dan produktif terbebas dari TBC pada tahun 2030. (Johanas Del)
—————————————
“Apabila ada pihak yang merasa dirugikan dan atau keberatan dengan penayangan artikel dan atau berita tersebut di atas, Anda dapat mengirimkan artikel dan atau berita berisi sanggahan dan atau koreksi, sebagaimana diatur dalam Pasal 1 ayat (11) dan (12) Undang-Undang No. 40 tahun 1999 tentang Pers. Artikel/ berita dimaksud dapat dikirimkan melalui kontak redaksi kami”.
Bergabung dengan SALURAN WA untuk dapatkan berita-berita terbaru TRIBRATA TV Online









