Medan, TRIBRATA TV
Langkah humanis Kapolrestabes Medan Kombes Pol Jean Calvijn Simanjuntak untuk mengamankan beberapa aksi unjuk rasa yang terjadi di Kota Medan, Sumatera Utara diapresiasi banyak elemen masyarakat. Apresiasi tersebut disampaikan sebagai bentuk dukungan terhadap kinerja Kapolrestabes Medan yang presisi.
Seperti halnya saat ribuan aksi unjuk rasa beberapa waktu lalu terkait penolakan Surat Edaran (SE) Walikota Medan Nomor 500.7.1/1540 tentang penataan lokasi, pengelolaan limbah, dan penjualan daging babi oleh Aliansi Aksi Solidaritas Pedagang dan Konsumen Daging Babi Kota Medan.
Belakangan beredar informasi tuntutan pencopotan Kapolrestabes Medan, Kombes Pol Jean Calvijn Simanjuntak yang terus menggelinding bak bola salju. Namun, ditengah desakan sejumlah pihak, dukungan justru mengalir dari Ketua Umum Horas Bangso Batak (HBB), Lamsiang Sitompul.
Lamsiang menilai, tuntutan sekelompok pihak yang meminta Kapolri mencopot Kapolrestabes Medan hanya gara-gara memimpin doa di tengah massa aksi adalah tindakan yang berlebihan dan tidak tepat sasaran.
Menurutnya, tindakan Kombes Pol Jean Calvijn saat menghadapi massa pendemo justru merupakan langkah cerdas untuk meredam tensi yang tinggi. Saat itu, situasi antara massa aksi dan pihak Pemko Medan sempat menemui jalan buntu (deadlock).
”Situasi sudah sangat panas saat itu. Ada kebuntuan antara pendemo dengan Walikota Medan. Pendemo minta surat edaran dicabut, sementara Wali Kota terkesan mempertahankan. Kondisinya genting,” kata Lamsiang Sitompul kepada TRIBRATA TV, Sabtu (7/3/2026).
Ia menegaskan, inisiatif Kapolrestabes Medan memimpin doa di tengah kerumunan massa terbukti ampuh mendinginkan suasana yang nyaris meledak.
”Dengan adanya doa yang dipimpin Kapolrestabes, suasana jadi sejuk. Kita yang tadinya panas malah jadi malu kalau sampai melakukan tindakan anarkis. Itu membuat suasana hati pendemo tenang, yang marah jadi adem,” tegasnya.
Lebih lanjut, Lamsiang membandingkan strategi humanis kepolisian tersebut dengan aksi-aksi di tempat lain, termasuk di Mabes Polri, dimana polisi kerap menyambut pendemo dengan pendekatan religius dan persuasif.
”Apa bedanya dengan demo di Mabes Polri? Polisi menyambut pendemo pakai kopiah, sorban, atau hijab. Itu kan tujuannya menyejukkan suasana. Jadi menurut saya tindakan Kapolrestabes itu sudah benar dalam rangka menenangkan situasi,” tambahnya.
Lamsiang Lamsiang juga meminta aparat kepolisian agar bertindak tegas tanpa kompromi terhadap oknum-oknum yang mencoba menunggangi polemik penataan ternak babi di Kota Medan, Sumatera Utara dengan narasi provokatif serta isu SARA (Suku, Agama, Ras, dan Antargolongan).
Pernyataan tegas ini menyusul semakin liarnya unggahan di media sosial yang dinilai sudah melenceng jauh dari substansi penataan, bahkan menjurus pada ujaran kebencian serta hasutan yang mengancam kerukunan di tengah masyarakat.
Lamsiang Sitompul meminta Kapolda Sumatera Utara dan Kapolrestabes Medan segera menyisir akun-akun maupun oknum yang mengatasnamakan pribadi atau lembaga yang menyebarkan kebencian.
”Saya minta Kapolda dan Kapolrestabes Medan menindak tegas, bila perlu mereka ditangkap! Jangan biarkan mereka jadi provokator. Masyarakat sudah gerah melihat ulah segelintir orang yang terus-menerus membangun narasi provokatif,” tegas Lamsiang.
Menurutnya, polemik yang seharusnya soal penataan teknis, kini digiring menjadi isu liar yang menyangkut-pautkan agama hingga ajakan perang.
”Kita lihat banyak berseliweran di medsos, ada yang mengajak perang, ada yang menjelek-jelekkan agama. Ini sudah isu SARA. Polisi tidak perlu menunggu laporan, karena ini bukan delik aduan. Fokus saja tindak tegas para pelaku itu,” pungkasnya.
Sebelumnya, ketegangan yang sempat menyelimuti aksi unjuk rasa ribuan pedagang dan konsumen daging babi di depan Kantor Wali Kota Medan berakhir dengan suasana haru dan damai, Kamis (26/2/2026).
Sosok dibalik mendinginnya tensi tinggi tersebut adalah Kapolrestabes Medan, Kombes Pol Jean Calvijn Simanjuntak.
Alih-alih menggunakan pendekatan represif, Kombes Pol Jean Calvijn memilih jalur hati. Di tengah riuh tuntutan warga, perwira menengah Polri ini turun langsung menjadi negosiator. Ia mendampingi perwakilan massa masuk ke dalam kantor Wali Kota untuk berdialog langsung dengan jajaran Pemko Medan.
Momen paling berkesan terjadi saat pertemuan dimulai. Untuk meredam amarah dan menjaga pikiran tetap jernih, Kapolrestabes berinisiatif memimpin doa bersama. Langkah religius ini terbukti ampuh mengubah suasana yang awalnya kaku menjadi lebih sejuk dan penuh kekeluargaan.
”Puji Tuhan, sampai saat ini saudara-saudaraku telah menunjukkan toleransi dan menyampaikan aspirasinya dengan sangat baik dan luar biasa,” ujar Jean Calvijn dengan nada bicara yang menyejukkan.
Meskipun hasil pertemuan belum sepenuhnya memuaskan semua pihak, namun dialog yang dimediasi oleh Kapolrestabes Medan memastikan aspirasi warga tersampaikan secara bermartabat.
”Semua berjalan dengan baik dan suka cita, diawali dengan doa dan diakhiri dengan doa. Setelah ini, saudara-saudaraku silakan kembali ke tempat masing-masing dan tolong dikawal oleh petugas Lantas,” tegasnya di hadapan massa yang mulai tenang.
Sikap humanis dan pendekatan persuasif ini mendapat apresiasi luas dari para pendemo. Warga merasa dihargai dan didengarkan tanpa harus ada gesekan fisik dengan petugas.
Sebelum massa membubarkan diri, Jean Calvijn kembali mengucapkan terima kasih atas kerja sama warga dalam menjaga kondusivitas Kota Medan.
”Terima kasih telah menyampaikan aspirasi hari ini, Tuhan memberkati kita semua, Horas, Horas,” tutup Kombel Pol Jean Calvinj. (Bon)
—————————————
“Apabila ada pihak yang merasa dirugikan dan atau keberatan dengan penayangan artikel dan atau berita tersebut di atas, Anda dapat mengirimkan artikel dan atau berita berisi sanggahan dan atau koreksi, sebagaimana diatur dalam Pasal 1 ayat (11) dan (12) Undang-Undang No. 40 tahun 1999 tentang Pers. Artikel/ berita dimaksud dapat dikirimkan melalui kontak redaksi kami”.
Bergabung dengan SALURAN WA untuk dapatkan berita-berita terbaru TRIBRATA TV Online









