Sitaro, TRIBRATA TV
Pemerintah Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang Biaro (Sitaro) terus menunjukkan komitmennya dalam mendorong pertumbuhan ekonomi lokal melalui penguatan sektor pariwisata berbasis masyarakat. Salah satu fokus utama adalah pengembangan kawasan wisata lokal yang terintegrasi dengan aktivitas pelaku UMKM.
Langkah konkret yang kini dikaji adalah pemasangan jaringan listrik oleh PLN di titik-titik strategis lokasi UMKM. Fasilitas penerangan ini dinilai sangat vital untuk mendukung aktivitas perdagangan, terutama pada sore hingga malam hari.
Bupati Sitaro, Chyntia Ingrid Kalangit S.KM, menegaskan pemerintah daerah hadir tidak hanya sebagai regulator, tetapi juga sebagai pendukung penuh pelaku usaha kecil. “Kami selalu siap berada di belakang dan di depan pedagang kecil untuk menjaga stabilitas ekonomi daerah, termasuk mengawal inflasi,” ujarnya.
Menurut Kalangit, pengembangan wisata tidak bisa dilepaskan dari kesiapan infrastruktur dasar. Oleh karena itu, selain listrik, fasilitas umum seperti toilet juga menjadi perhatian serius pemerintah.
Saat ini, fasilitas WC portable yang tersedia di lokasi masih terbatas. Pemerintah melalui Dinas Sosial telah menyediakan satu unit, namun dinilai belum mencukupi kebutuhan pengunjung dan pelaku usaha.
“Minimal harus ada tambahan satu lagi agar pengunjung merasa nyaman. Ini hal kecil tapi sangat menentukan,” tambahnya.
Tak hanya infrastruktur, pemerintah juga mendorong penguatan aspek budaya melalui pagelaran seni yang melibatkan masyarakat lokal. Kegiatan ini diharapkan menjadi daya tarik tambahan bagi wisatawan.
Pagelaran seni budaya di wilayah Tagulandang diusulkan dapat dikoordinir oleh pihak kecamatan maupun kampung. Fleksibilitas ini diberikan agar kreativitas masyarakat dapat berkembang tanpa batasan birokrasi yang kaku.
Bahkan, pemerintah mendorong agar setiap akhir pekan, khususnya Sabtu dan Minggu sore, rutin digelar pentas seni dan lomba-lomba kreatif yang melibatkan warga sekitar.
Untuk menunjang kegiatan tersebut, pembangunan podium kecil hingga panggung utama dinilai menjadi kebutuhan mendesak. Sarana ini akan menjadi pusat aktivitas seni dan hiburan masyarakat.
Kepala Bappelitbangda Sitaro, Ronald Pakasi, SE., M.Si, menyebut bahwa keberhasilan sebuah kawasan wisata sangat bergantung pada partisipasi aktif masyarakat.
Ia mencontohkan pengalaman pengembangan kawasan Sitaro Masasada Park yang mengalami pasang surut. “Ada fase jatuh bangun, mati hidup. Kuncinya ada pada kreativitas masyarakat itu sendiri,” jelas Pakasi.
Menurutnya, masyarakat tidak boleh hanya menunggu intervensi pemerintah. Sanggar seni, komunitas lokal, hingga individu kreatif harus berani tampil dan menghidupkan suasana.
“Misalnya malam ini tampil tiga lagu, besok kelompok lain lagi. Itu yang membuat tempat ini hidup,” katanya.
Selain listrik, faktor kebersihan juga menjadi perhatian utama. Dinas Lingkungan Hidup diminta segera menyiapkan tempat sampah di seluruh area wisata.
Tidak hanya itu, Dinas Pertanian juga didorong untuk memperindah kawasan dengan tanaman hias seperti bougenvil yang ditanam di sepanjang jalan, menciptakan suasana “jalan pelangi” yang menarik.
Kolaborasi lintas sektor menjadi kunci utama dalam pengembangan kawasan ini. Seluruh OPD diminta bergerak bersama sesuai tugas dan fungsinya masing-masing.
Dinas Pariwisata pun didorong aktif mempromosikan kegiatan melalui media sosial seperti Facebook, Instagram, dan TikTok guna menjangkau lebih banyak pengunjung.
Tak kalah penting, peran media dan konten kreator lokal juga sangat diharapkan untuk ikut mempublikasikan potensi wisata Tagulandang. Generasi muda, termasuk putra-putri daerah, diminta turut ambil bagian.
“Jangan bosan-bosan mempromosikan daerah sendiri. Ini tanggung jawab bersama,” tegas Kalangit.
Ia juga mengingatkan bahwa keberlanjutan kegiatan menjadi tantangan tersendiri. Diperlukan ketahanan dan inovasi agar kawasan tetap hidup meski mengalami penurunan pengunjung.
“Kalau mulai sepi, harus ada ide baru. Misalnya lomba atau event khusus untuk menarik kembali minat masyarakat,” ujarnya.
Fenomena saat ini menunjukkan aktivitas UMKM mulai ramai, namun pagelaran seni justru berkurang. Hal ini dinilai perlu segera ditindaklanjuti agar keseimbangan tetap terjaga.
Program seperti Koperasi Merah Putih juga didorong untuk hadir dan membuka stand di kawasan tersebut sebagai bagian dari penguatan ekonomi kerakyatan.
Pemerintah membuka ruang seluas-luasnya bagi masyarakat untuk berinvestasi dan mengembangkan usaha di lokasi wisata, dengan tetap mengedepankan kebersamaan dan semangat gotong royong.
“Jangan ada iri hati, jangan saling menjatuhkan. Rezeki sudah diatur oleh Tuhan,” pesan Kalangit.
Ia juga mengajak seluruh kecamatan di Sitaro untuk saling mendukung dan berbagi inovasi demi kemajuan bersama.
Dalam situasi global yang penuh tantangan, sektor UMKM dinilai sebagai tulang punggung ekonomi yang mampu bertahan dan bahkan berkembang.
Data awal menunjukkan potensi besar dari kawasan ini. Di salah satu desa di Minangan, omzet pelaku UMKM bisa mencapai Rp6 juta per hari.
Menariknya, capaian tersebut diraih bahkan saat kegiatan baru dibuka. “Masih pagi saja, dagangan mereka sudah habis terjual,” ungkap Kalangit.
Dengan berbagai langkah strategis ini, Pemerintah Kabupaten Sitaro optimistis kawasan wisata berbasis UMKM di Tagulandang akan menjadi motor penggerak ekonomi lokal yang berkelanjutan. (Jemi Lahutung)
—————————————
“Apabila ada pihak yang merasa dirugikan dan atau keberatan dengan penayangan artikel dan atau berita tersebut di atas, Anda dapat mengirimkan artikel dan atau berita berisi sanggahan dan atau koreksi, sebagaimana diatur dalam Pasal 1 ayat (11) dan (12) Undang-Undang No. 40 tahun 1999 tentang Pers. Artikel/ berita dimaksud dapat dikirimkan melalui kontak redaksi kami”.
Bergabung dengan SALURAN WA untuk dapatkan berita-berita terbaru TRIBRATA TV Online








