Sitaro, TRIBRATA TV
Di tengah hiruk pikuk politik dan sorotan publik terhadap para wakil rakyat, nama Bob Nover Janis justru dikenal masyarakat bukan karena pidato di mimbar atau janji kampanye, melainkan karena tindakan nyata yang ia lakukan selama satu dekade terakhir.
Anggota Dewan dari Partai Beringin ini telah membangun kepercayaan masyarakat dengan cara sederhana tapi menyentuh: membagikan air bersih dan pasir secara gratis, terutama saat masyarakat dilanda duka atau musibah.
Pelayanan Bob Nover bukanlah sebatas rutinitas formal. Ia hadir bukan hanya saat kamera menyala atau saat masa kampanye datang. Sebaliknya, sosoknya kerap muncul dalam keheningan rumah duka atau lokasi bencana—tanpa diminta, tanpa syarat, dan tanpa pengumuman.
“Sudah sepuluh tahun dia bantu kami. Air gratis, pasir gratis, semua tanpa kami minta dulu,” ujar seorang warga Bahu, Kalongan.
Salah satu kesaksian datang dari Ibu Betty Lahiwu, warga setempat yang menyaksikan langsung kepedulian Bob. “Tadi pagi, Selasa 25 Juni 2025, mobil Oto Ko Bob datang antar pasir di rumah duka. Ini bukan pertama kali, hampir tiap ada duka, pasti dia yang bantu,” ungkapnya. Bagi banyak warga, kehadiran Bob di tengah kesedihan telah menjadi bagian dari proses penghiburan.
Yang menarik, tidak ada spanduk besar, tidak ada lambang partai, bahkan tidak ada embel-embel politik saat bantuan itu datang. “Dia tidak hanya jadi wakil kami di dewan, tapi juga di kehidupan sehari-hari,” tambah Ibu Betty. Baginya dan warga lain, Bob Nover bukan sekadar nama di papan suara, tetapi pribadi yang hadir di saat paling dibutuhkan.
Pendekatan seperti ini memberi warna berbeda dalam wajah politik lokal. Di saat sebagian pejabat sibuk memperindah citra, Bob justru memilih jalur senyap: hadir, membantu, lalu pergi tanpa gembar-gembor. Dan mungkin inilah yang membuatnya begitu dekat dengan rakyat—karena ia tidak sekadar mewakili mereka, tetapi juga merasakan dan menghidupi kebutuhan mereka.
Kisah Bob Nover Janis adalah pengingat bahwa pelayanan publik sejati tidak harus spektakuler, cukup konsisten dan tulus. Sepuluh tahun pelayanan yang tak pernah meminta tepuk tangan, justru kini menjadi inspirasi tentang bagaimana kekuasaan bisa menjadi alat kemanusiaan—dan bukan sebaliknya. (Jemi Lahutung)
—————————————
“Apabila ada pihak yang merasa dirugikan dan atau keberatan dengan penayangan artikel dan atau berita tersebut di atas, Anda dapat mengirimkan artikel dan atau berita berisi sanggahan dan atau koreksi, sebagaimana diatur dalam Pasal 1 ayat (11) dan (12) Undang-Undang No. 40 tahun 1999 tentang Pers. Artikel/ berita dimaksud dapat dikirimkan melalui kontak redaksi kami”.
Bergabung dengan SALURAN WA untuk dapatkan berita-berita terbaru TRIBRATA TV Online








