Medan, TRIBRATA TV
Pagi tadi, pesan WA masuk dari teman Aman Tarigan, Pemred IDN Metro yang mengabarkan Joe Ambarita meninggal dunia. Seolah tak percaya, namun dia lampirkan foto jenasah Joe yang sudah terbaring dengan memakai jas dan ulos.
Aman bilang, Joe meninggal Minggu 24 Agustus 2025 pukul 03.00 WIB. “Dugaannya serangan jantung bang,” jawabnya saat saya menelponnya.
Sungguh, saya sangat terkejut. Baru tadi malam, sekitar jam 11 an kami WA an, membahas peristiwa kecelakaan di Tapanuli Tengah. Ia mengirimkan berita yang diperolehnya dari Humas Polres Tapteng.
Kalimatnya singkat, ‘Bg,bisa di robah lagi berita Escudo yg terjun ke sungai itu’. Ia menganggap berita sebelumnya kurang lengkap, kurang komprehensif dan harus diperbaharui.

Selama mengenalnya -sejak tahun 2018 yang dikenalkan oleh wartawan senior Pematangsiantar, bang Herman Maris- sudah tak terhitung almarhum mengkoreksi, mengingatkan dan memberi masukan soal berita-berita di TRIBRATA TV online. Selama itu, saya tidak pernah membantah atau menolak usulan, anjuran atau masukannya, karena aku tahu ia ingin berita-berita yang ditampilkan TRIBRATA TV harus sempurna.
Ia juga yang selalu mengingatkan saya agar terus konsisten merapikan dan mengajak rekan-rekan wartawan lain dimanapun untuk menulis berita-berita peristiwa. “Kalau berita seremoni tak ada pembacanya bang,” katanya.

Karenanya, ia selalu memback up kalau ada peristiwa- dimanapun itu- dengan mengirimkan beritanya. “Jangan sampai kita ketinggalan”, alasannya.
Ia juga yang dengan spontan mengajukan diri untuk mengedit berita-berita video. “Bang aku sudah punya aplikasi ini, bayar beberapa dolar sebulan, biar aku kerjakan kalau ada video-video menarik,” katanya suatu ketika.

Saya tahu, ia mengedit video dan berita saat lenggang, ketika ia tidak sedang menjadi supir mobil travel. “Ga ada uangnya bang jadi wartawan,” alasannya.
Tapi menurut saya, itu bukan alasan utamanya. Sejak saya kenal Joe Ambarita, ia bukanlah orang yang suka diperintah, mau dibayar berapapun itu. Ia bekerja dengan hatinya, ketika pekerjaan itu pas dihatinya, maka akan dikerjakan.
Itu pula yang membuat beberapa kawan menganggap Joe adalah orang yang sulit diatur. Tipikalnya yang tempramental memperkuat anggapan itu. Bicaranya blak-blakan, yang bagi sebagian orang bisa menyakitkan hati.
Tapi begitulah dia. Saya beberapa kali mengingatkannya untuk lebih menurunkan tensi. “Aku memang punya penyakit hipertensi bang,” ujarnya, saat kami bertemu- ia sedang mengantarkan rombongan menghadiri pesta di Medan.
Joe juga yang saya percayakan memegang sebuah media online, yang rencananya untuk memback up TRIBRATA TV. Media itu digenjot dengan berita-berita nasional, sendirian dia olah. Tapi dia tak pernah bertanya kenapa tiba-tiba media itu hilang. Saya yakin ia tahu, kalau saya tak mampu memperpanjang hostingnya.
Beberapa pekan ini, saya sudah berpikir untuk memberikan ia akses mengelola TRIBRATA TV, bahkan akhir Bulan Juli lalu saya sudah menelponnya menyampaikan hal ini. Bulan Oktober mendatang saya berencana umroh, dan saya siapkan dia untuk memback up serta menggantikan saya sementara waktu, mengisi berita di TRIBRATA TV.
Tapi Tuhan berkata lain, apa yang telah saya janjikan pada Joe belum terlaksana. Selamat jalan kawan, TRIBRATA TV ini bisa besar salah satunya karena andil Joe Ambarita.
Edrin Adriansyah
—————————————
“Apabila ada pihak yang merasa dirugikan dan atau keberatan dengan penayangan artikel dan atau berita tersebut di atas, Anda dapat mengirimkan artikel dan atau berita berisi sanggahan dan atau koreksi, sebagaimana diatur dalam Pasal 1 ayat (11) dan (12) Undang-Undang No. 40 tahun 1999 tentang Pers. Artikel/ berita dimaksud dapat dikirimkan melalui kontak redaksi kami”.
Bergabung dengan SALURAN WA untuk dapatkan berita-berita terbaru TRIBRATA TV Online









