Refleksi Peringatan Hari Buruh Nasional Dalam Konteks Profesi Jurnalisme

Penulis: Th.Tajarman (Kontributor TRIBRATA TV Provinsi Bengkulu)

- Editorial Team

Sabtu, 2 Mei 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Setiap 1 Mei, bangsa ini memperingati Hari Buruh Nasional. Biasanya yang terbayang adalah buruh pabrik, ojek online, dan pekerja informal yang turun ke jalan menuntut upah layak.

Namun ada satu kelompok pekerja yang kerap luput yaitu jurnalis. Mereka justru sibuk meliput aksi, bukan ikut aksi. Padahal, profesi ini juga bergulat dengan isu perburuhan yang sama.

Dalam UU Ketenagakerjaan, jurnalis adalah pekerja yang terikat hubungan kerja dengan perusahaan media. Artinya hak normatif seperti upah minimum, jaminan sosial, cuti, dan jam kerja 40 jam per minggu juga berlaku.

Realitasnya, banyak jurnalis bekerja tanpa batas waktu. Berita tidak kenal tanggal merah. Deadline 24 jam membuat konsep “lembur” jadi kabur. Hari Buruh jadi momen tepat untuk bertanya: siapa yang melindungi hak jurnalis ketika mereka sedang melindungi hak publik untuk tahu?

BACA JUGA  Rayakan May Day, Kapolresta Banjarmasin Hadiahkan SIM Gratis

Transformasi digital membuat perusahaan media efisien, tapi sering dengan memangkas awak redaksi. Sistem kemitraan, kontributor lepas, dan content creator menggantikan status karyawan tetap. Akibatnya banyak jurnalis muda bekerja tanpa BPJS Ketenagakerjaan, tanpa THR, dan dibayar per artikel dengan tarif yang stagnan sejak 10 tahun lalu. Di sisi lain, tekanan klik dan algoritma membuat jurnalis harus memproduksi berita lebih cepat dengan risiko dan kesalahan verifikasi.

Prinsip jurnalisme menuntut independen dari kepentingan pemilik modal. Tapi bagaimana bisa independen jika dapur sendiri tidak ngebul? Upah rendah membuka celah amplop, advertorial, terselubung, dan konflik kepentingan. Memperjuangkan kesejahteraan jurnalis bukan sekadar urusan perut. Ini tentang menjaga kualitas demokrasi. Pers yang sejahtera lebih tahan terhadap intervensi.

BACA JUGA  Pimpin Polda Sumut, Irjen Pol Agung Setya Imam: Mohon Dukungan

Hari Buruh lahir dari semangat kolektif. Untuk jurnalis, serikat pekerja seperti AJI dan PWI bukan hanya organisasi profesi, tapi juga alat tawar. Beberapa capaian penting: standar upah minimum jurnalis di beberapa daerah, advokasi kasus PHK sepihak, dan pendampingan hukum saat jurnalis dikriminalisasi. Namun tingkat kepesertaan serikat di media masih rendah. Banyak jurnalis takut dianggap melawan perusahaan. Padahal UU menjamin kebebasan berserikat.

Untuk jurnalis solidaritas penting. Meliput aksi buruh sambil mengabaikan hak sendiri adalah ironi. Sedangkan bagi publik, Berita berkualitas tentunya tidak dipungkiri butuh ongkos. Berlangganan media, menghargai karya jurnalistik, dan menolak clickbait adalah bentuk dukungan pada kerja layak jurnalis.

Hari Buruh bukan hanya tentang mereka yang di pabrik. Ia juga tentang mereka yang di ruang redaksi, di lapangan, di tengah konflik, yang memastikan suara buruh lain terdengar. Jika jurnalis tidak merdeka secara ekonomi, bagaimana mereka bisa memerdekakan informasi?

BACA JUGA  Kaperwil TRIBRATA TV Kalsel Berharap Pengusutan Kasus Kebakaran di Karo Transparan

Selamat Hari Buruh untuk semua pekerja, termasuk mereka yang bekerja merawat akal sehat publik.

—————————————

Apabila ada pihak yang merasa dirugikan dan atau keberatan dengan penayangan artikel dan atau berita tersebut di atas, Anda dapat mengirimkan artikel dan atau berita berisi sanggahan dan atau koreksi, sebagaimana diatur dalam Pasal 1 ayat (11) dan (12) Undang-Undang No. 40 tahun 1999 tentang Pers. Artikel/ berita dimaksud dapat dikirimkan melalui kontak redaksi kami”.

Bergabung dengan SALURAN WA untuk dapatkan berita-berita terbaru TRIBRATA TV Online

Berita Lainnya

Saat Kertas Administrasi Kalah Oleh Perut Lapar, Membaca Makna di Balik Senyum Warga Aceh Tamiang
Jalanan Panas, Ekonomi Tertekan: Siapa Bermain di Balik Gelombang Demonstrasi?”
Kemanusiaan yang Kalah oleh Kertas, Mengapa Dana Banjir Aceh Tamiang Macet di Labirin Birokrasi Jakarta?
Mencuci Uang di Negeri Sendiri
JKA di Persimpangan Jalan, Kemenangan Aspirasi Publik atau Sekadar Penundaan Krisis Anggaran?
JKA di Persimpangan Jalan, Antara Efisiensi Anggaran dan Pengkhianatan Mandat Rakyat
Ironi di Tanah Muda Sedia: Berteriak Demi Rupiah, Tercekik di Balik Debu
Napas yang Tercekik di Balik Abu Banjir: Krisis Kesehatan “Senyap” di Aceh Tamiang

Berita Lainnya

Jumat, 26 Juni 2026 - 09:42 WIB

Saat Kertas Administrasi Kalah Oleh Perut Lapar, Membaca Makna di Balik Senyum Warga Aceh Tamiang

Sabtu, 13 Juni 2026 - 08:24 WIB

Jalanan Panas, Ekonomi Tertekan: Siapa Bermain di Balik Gelombang Demonstrasi?”

Rabu, 10 Juni 2026 - 07:10 WIB

Kemanusiaan yang Kalah oleh Kertas, Mengapa Dana Banjir Aceh Tamiang Macet di Labirin Birokrasi Jakarta?

Selasa, 9 Juni 2026 - 14:33 WIB

Mencuci Uang di Negeri Sendiri

Selasa, 19 Mei 2026 - 08:03 WIB

JKA di Persimpangan Jalan, Kemenangan Aspirasi Publik atau Sekadar Penundaan Krisis Anggaran?

Berita Terbaru

Sulawesi Selatan

3 Pejabat Strategis Polres Takalar Resmi Berganti

Sabtu, 18 Jul 2026 - 22:25 WIB

Kriminal

Simpan Sabu dan Ganja, Petani di Karo Ditangkap

Sabtu, 18 Jul 2026 - 21:25 WIB