Sitaro, TRIBRATA TV
Pemerintah Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang Biaro (Sitaro) menggelar Perayaan Adat Tulude Tahun 2026 di depan lobi Kantor Bupati Sitaro, Jumat (20/02/2026). Perhelatan budaya ini berlangsung dalam nuansa sederhana, namun tetap sarat makna dan kekhidmatan.
Gelar Adat Tulude tahun ini terasa istimewa. Selain sebagai agenda budaya tahunan, perayaan tersebut dirangkaikan dengan syukur satu tahun kepemimpinan Bupati dan Wakil Bupati Sitaro periode 2025–2030.
Pemerintah daerah memastikan pelaksanaan Tulude tetap digelar meski daerah masih berada dalam suasana duka pascabencana alam yang melanda wilayah Sitaro pada awal tahun. Keputusan ini diambil dengan pertimbangan matang, agar nilai budaya dan spiritualitas masyarakat tetap terjaga.

Bupati Kepulauan Sitaro, Chyntia Ingrid Kalangit, bersama Wakil Bupati Heronimus Makainas, hadir langsung dalam prosesi tersebut. Momentum ini menjadi refleksi atas perjalanan satu tahun kepemimpinan mereka.
Sekretaris Daerah Sitaro, Denny D. Kondoj, sebelumnya menegaskan Tulude bukan sekadar seremoni tahunan. “Gelar Adat Tulude bukan sekadar seremoni, tetapi momentum spiritual dan budaya untuk bersyukur kepada Tuhan serta mempererat kebersamaan masyarakat,” ujarnya dalam rapat bersama kepala perangkat daerah di Media Center Pemkab Sitaro.
Ia menambahkan, penyatuan Tulude dengan syukur satu tahun kepemimpinan dimaksudkan sebagai ruang refleksi bersama. “Lewat perayaan ini, kita ingin saling menguatkan dan mendoakan agar Kabupaten Sitaro terus bangkit,” katanya.
Tulude sendiri merupakan warisan budaya masyarakat Nusa Utara yang sarat nilai sejarah dan spiritualitas. Tradisi ini menjadi ungkapan syukur kepada Tuhan atas penyertaan sepanjang tahun yang telah dilalui.
Rangkaian acara diawali dengan penyambutan tamu kehormatan secara adat melalui pemasangan paporong dan salempang. Prosesi ini menjadi simbol penghormatan sekaligus penegasan identitas budaya masyarakat kepulauan.

Tabuhan gong menggema, menandai pembukaan resmi upacara adat. Suasana semakin khidmat ketika Kue Adat Tamo diarak menuju lokasi upacara sebagai lambang syukur dan doa.
Puji-pujian dalam sastra daerah dilantunkan para Pentua Adat. Syair Sasombo dan Tagonggong menggema, menyiratkan harapan agar daerah ini senantiasa diberkati.
Dalam doa adatnya, Pentua Adat memohon pengampunan serta perlindungan Tuhan bagi pemerintah dan seluruh masyarakat. Harapan akan masa depan yang lebih baik pun dipanjatkan bersama.
Prosesi Mamoto Tamong Banua atau pemotongan Kue Adat Tamo menjadi inti perayaan. Tindakan simbolik ini menandai tekad membuka lembaran baru dengan hati yang bersih.
Sambutan Gubernur Sulawesi Utara, Yulius Selvanus Komaling, yang dibacakan Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Provinsi Sulawesi Utara, Noldy Zadrak Salindeho, menyampaikan apresiasi atas komitmen masyarakat menjaga tradisi leluhur.
Dalam sambutan tersebut ditegaskan, “Tulude bukan sekadar seremonial, melainkan momentum refleksi dan penguatan semangat kebersamaan dalam menghadapi tantangan pembangunan.”
Penampilan Tari Ala Badiri memukau para hadirin. Gerak yang tegas dan harmonis menggambarkan keberanian serta semangat masyarakat kepulauan.
Wejangan adat kembali mengingatkan bahwa adat dan pembangunan harus berjalan beriringan. Nilai leluhur menjadi fondasi moral dalam setiap kebijakan.
Wakil Bupati Heronimus Makainas dalam ungkapan terima kasihnya menyampaikan apresiasi kepada seluruh masyarakat. Ia menekankan pentingnya persatuan dalam membangun daerah.
Prosesi pemotongan kue ulang tahun satu tahun kepemimpinan menjadi momen emosional. Tepuk tangan hadirin mengiringi simbol syukur atas perjalanan pemerintahan yang telah dilalui.
Momentum tersebut disaksikan unsur Forkopimda, tokoh adat, tokoh agama, dan masyarakat. Kebersamaan yang terjalin menjadi energi kolektif untuk melangkah ke depan.
Sebagai wujud kepedulian sosial, pemerintah daerah menyerahkan bantuan secara simbolis kepada perwakilan kecamatan dan kelurahan. Langkah ini menjadi bukti bahwa syukur juga diwujudkan melalui aksi nyata.
Acara kemudian ditutup dengan pesta rakyat berupa jamuan makan malam. Kata adat dari Pentua Adat membuka kebersamaan antara pemerintah dan masyarakat dalam suasana penuh kekeluargaan.
Tulude 2026 akhirnya menjadi simbol keteguhan Sitaro. Di tengah duka, masyarakat tetap berdiri, bersyukur, dan menatap masa depan dengan harapan.
Perayaan ini menegaskan bahwa adat bukan sekadar warisan, melainkan kekuatan moral. Dengan semangat Masadada, Sitaro melangkah bersama—menyatukan doa, budaya, dan pembangunan dalam satu akar yang kokoh. (Jemi Lahutung)
—————————————
“Apabila ada pihak yang merasa dirugikan dan atau keberatan dengan penayangan artikel dan atau berita tersebut di atas, Anda dapat mengirimkan artikel dan atau berita berisi sanggahan dan atau koreksi, sebagaimana diatur dalam Pasal 1 ayat (11) dan (12) Undang-Undang No. 40 tahun 1999 tentang Pers. Artikel/ berita dimaksud dapat dikirimkan melalui kontak redaksi kami”.
Bergabung dengan SALURAN WA untuk dapatkan berita-berita terbaru TRIBRATA TV Online









