Aceh Tamiang, TRIBRATA TV
Hendriko Lubis (51) sudah khatam betul cara memotret penderitaan, sebagai jurnalis TRIBRATA TV kameranya telah membidik ribuan wajah yang menangis karena bencana.
Namun, ketika banjir Hidrometeorologi menyapu Aceh Tamiang pada akhir November 2025 lalu, lensa itu seolah berbalik ke arahnya. Kali ini dialah berita itu.
Pria berdarah Batak yang akrab disapa Riko ini bukan sekadar wartawan biasa, ia adalah pemimpin bagi rekan-rekannya sebagai ketua salah satu organisasi pers yang bertugas di Aceh Tamiang.
Namun, jabatan dan ketegarannya di lapangan runtuh seketika saat melihat rumahnya bukan lagi sekadar terendam, melainkan rata dengan tanah.
Ruang Tamu yang Menjadi Tempat Cuci Mobil
Kini tak ada lagi ruang tamu tempat ia biasa berdiskusi tentang berita-berita terkini, bersama istri dan lima buah hatinya, Riko terpaksa melipat harga diri dan kenyamanan untuk berteduh di sebuah bekas bangunan doorsmer (pencucian kendaraan-Red) di Kampung Paya Nas, Kecamatan Kejuruan Muda, Aceh Tamiang.
Dinding tembok rumahnya sudah menyatu dengan lumpur, menyisakan lantai semen yang retak-retak. Di atas sisa lantai itulah, Riko kini merenung.
“Entahlah, saat ini bingung harus dimulai dari mana,” bisiknya lirih. Selasa, (17/3/2026)
Kalimat itu bukan sekadar keluhan, melainkan potret keputusasaan seorang ayah yang melihat Lebaran Idul Fitri sudah di ambang mata, namun tak punya pintu rumah untuk diketuk oleh tetangga yang datang bersilaturahmi.
“Rumah saya rata dengan tanah, sekarang hanya sisa lantai. Mau membangun lagi, mulainya dari mana?”, ujarnya lagi.
Idul Fitri dalam Senyap
Bagi banyak orang, Lebaran adalah tentang baju baru dan cat dinding yang segar. Bagi keluarga Riko, Lebaran tahun ini adalah tentang bertahan hidup di sela-sela mesin pencuci mobil yang sudah tua. Tak ada aroma kue mentega, yang ada hanyalah bau sisa banjir yang masih lekat di puing-puing.
Ironis memang, pria yang biasanya sibuk mewawancarai pejabat tentang bantuan sosial, kini duduk terdiam menanti kapan giliran nasibnya sendiri yang “diwawancarai” oleh takdir yang lebih baik.
Menanti Mukjizat di Tanah Harapan
Riko Lubis adalah wajah dari ketangguhan yang mulai retak. Ia tetap jurnalis, juga tetap ketua organisasi, namun di balik itu semua, ia adalah seorang pengungsi di tanahnya sendiri. Menjelang hari kemenangan, kemenangan yang ia harapkan hanyalah satu, yaitu sebuah kepastian untuk membangun kembali atap bagi kelima anaknya.
Sejauh mata memandang di Paya Nas, hanya ada puing. Dan di antara puing itu, Riko masih mencoba mengumpulkan sisa-sisa semangat, meski ia sendiri tak tahu, harus mulai mengayunkan cangkul dari sudut mana. (Jas.Ms)
—————————————
“Apabila ada pihak yang merasa dirugikan dan atau keberatan dengan penayangan artikel dan atau berita tersebut di atas, Anda dapat mengirimkan artikel dan atau berita berisi sanggahan dan atau koreksi, sebagaimana diatur dalam Pasal 1 ayat (11) dan (12) Undang-Undang No. 40 tahun 1999 tentang Pers. Artikel/ berita dimaksud dapat dikirimkan melalui kontak redaksi kami”.
Bergabung dengan SALURAN WA untuk dapatkan berita-berita terbaru TRIBRATA TV Online









