Aceh bukan sekadar titik koordinat di ujung utara Pulau Sumatera. Bagi dunia internasional, ia mungkin dikenang melalui memori kelam tentang konflik berkepanjangan antara Pemerintah Republik Indonesia dengan Gerakan Aceh Merdeka (GAM), atau juga dengan memori yang masih sangat melekat dalam ingatan pada sebuah tragedi kemanusiaan tsunami 26 Desember 2004 yang merenggut ratusan ribu jiwa.
Namun, di balik narasi duka tersebut, Aceh menyimpan lapisan misteri sejarah yang belum sepenuhnya terkuak, bahkan oleh masyarakatnya sendiri. Dua hal yang paling fundamental namun sering luput dari kajian mendalam adalah: Dari mana nama “Aceh” berasal dan bagaimana bahasa kita terbentuk?
Debat Etimologi: Dari Akronim hingga Transkripsi Ilmiah
Selama ini, berkembang mitos di tengah masyarakat bahwa “Aceh” merupakan akronim dari susunan sederet aksara yang dihubung-hubungkan ‘Arab, Cina, Endia (India), dan Hindia Belanda’. Meski terdengar romantis karena menggambarkan kemajemukan, namun secara historis hipotesis ini lebih bersifat spekulatif dan kurang didukung bukti literatur yang kuat.
Jika kita merujuk pada kajian akademis, penulis mengutip dari artikel penelitian sejarawan Asia terkemuka, Denys Lombard seorang sejarawan asal Prancis yang dikenal luas karena kajiannya tentang Asia Tenggara, khususnya Indonesia.
Ia lahir pada tahun 1938 dan wafat pada 1998.
Lombard merupakan salah satu tokoh penting dalam studi sejarah maritim dan jaringan perdagangan di kawasan Nusantara. Ia lama bekerja di École française d’Extrême-Orient (EFEO), sebuah lembaga penelitian Prancis yang fokus pada studi Asia. Denys Lombard memberikan perspektif yang lebih konkret. Dalam catatannya, nama Aceh pertama kali muncul secara tertulis dalam Suma Oriental (sekitar tahun 1512-1515) karya Tomé Pires seorang apoteker dan diplomat asal Portugis. Di sana, ia mengejanya sebagai “Achei”.
Seiring waktu, penyebutan ini mengalami evolusi fonetik:
Achei/Achem: Digunakan oleh bangsa Portugis (Barros dalam “Da Asia”).
Achin/Atchin: Sering muncul dalam naskah-naskah Eropa abad ke-16 hingga ke-18.
Acih: Merupakan transkripsi ilmiah yang diusulkan oleh Louis-Charles Damais (sering ditulis L.C. Damais) adalah seorang ilmuwan dan epigraf asal Prancis yang terkenal karena penelitiannya tentang sejarah kuno Indonesia, khususnya melalui prasasti.
Ia lahir pada tahun 1911 dan wafat pada 1966. Damais merupakan salah satu tokoh penting dalam studi Epigrafi di Asia Tenggara. Ia juga berafiliasi dengan École française d’Extrême-Orient (EFEO), lembaga penelitian Prancis yang banyak melakukan kajian tentang Asia.
Lombard berpendapat bahwa “Acih” adalah penulisan yang paling mendekati pengucapan asli masyarakat setempat secara fonetis. Sementara penulisan “Atjeh” yang populer di masa lalu sebenarnya hanyalah peninggalan ejaan Van Ophuysen (1901-1947), di mana huruf “C” diwakili oleh kombinasi “TJ”.
Benang Merah Kamboja: Misteri Bahasa Aceh
Tak kalah menarik dari asal-usul namanya, bahasa Aceh juga menyimpan teka-teki linguistik. Banyak peneliti menemukan fakta mengejutkan: Bahasa Aceh memiliki kekerabatan erat dengan bahasa-bahasa Champa yang digunakan di Vietnam, Kamboja, hingga Hainan di Cina.
Secara historis, hubungan ini bukanlah kebetulan. Catatan sejarah menyebutkan sosok pangeran Champa bernama Sah Pu Lian yang melarikan diri dari serbuan bangsa Vietnam dan mencari perlindungan di Aceh. Ia kemudian membangun wangsa baru yang secara otomatis menanamkan pengaruh linguistik yang kuat.
Namun, sebagai wilayah yang menjadi pusat perdagangan dunia di masa Sultan Iskandar Muda, bahasa Aceh tidak tumbuh dalam isolasi. Ia adalah “ruang tamu” bagi berbagai peradaban. Maka tak heran jika kosa kata kita merupakan rajutan dari berbagai pengaruh:
1. Arab dan Persia: Masuk melalui jalur agama dan sastra.
2. Sanskerta dan Tamil: Jejak perdagangan kuno dengan India.
3. Eropa (Belanda, Portugis, Inggris): Sisa-sisa era kolonialisme.
4. Mon-Khmer: Akar rumpun bahasa Asia Tenggara daratan.
Kesimpulan:Menghargai Warisan yang Belum Usai
Menelusuri asal-usul nama dan bahasa Aceh adalah upaya untuk mengenali diri sendiri. Sejarah membuktikan bahwa sejak dahulu, Aceh adalah entitas yang sangat terbuka dan kosmopolitan (Pola Pikir). Kita tidak lahir dari satu warna, melainkan dari pertemuan berbagai bangsa yang berlabuh di tanah Rencong.
Misteri yang menyelimuti nama dan bahasa Aceh seharusnya tidak dibiarkan menguap begitu saja. Bagi generasi muda, memahami bahwa bahasa kita memiliki kerabat di Kamboja atau bahwa nama kita telah tercatat dalam dokumen Portugis sejak abad ke-16 adalah sebuah kebanggaan intelektual. Aceh bukan sekadar “serambi”, ia adalah saksi bisu betapa dinamisnya peradaban manusia di Nusantara.
Catatan Redaksi: Opini ini mengajak pembaca untuk menggali kembali literatur sejarah demi menjaga autentisitas identitas Aceh di tengah arus modernisasi.
—————————————
“Apabila ada pihak yang merasa dirugikan dan atau keberatan dengan penayangan artikel dan atau berita tersebut di atas, Anda dapat mengirimkan artikel dan atau berita berisi sanggahan dan atau koreksi, sebagaimana diatur dalam Pasal 1 ayat (11) dan (12) Undang-Undang No. 40 tahun 1999 tentang Pers. Artikel/ berita dimaksud dapat dikirimkan melalui kontak redaksi kami”.
Bergabung dengan SALURAN WA untuk dapatkan berita-berita terbaru TRIBRATA TV Online



















