Samosir, TRIBRATA TV
Bunyi sarune bersahut dengan dentuman gondang Sabangunan memecah sunyi perbukitan di tepian Danau Toba, Jumat (26/06/2026). Di halaman Tugu Pomparan Oppu Sondang Raja Sinaga Boru, Desa Buntu Mauli, Kecamatan Sitio-tio, ratusan keturunan berkumpul.
Tortor dipersembahkan bergantian, ulos disematkan, sementara doa-doa adat mengalir dalam bahasa Batak yang sarat makna.
Di tengah prosesi itu hadir Ketua DPD PDI Perjuangan Sumatera Utara sekaligus Anggota Komisi XIII DPR RI, Drs Rapidin Simbolon MM.
Kehadirannya bukan sekadar memenuhi undangan keluarga. Ia datang sebagai bagian dari hubungan adat sebagai pihak boru, sekaligus membawa pesan bahwa nilai-nilai Pancasila sesungguhnya telah lama hidup dalam budaya masyarakat Batak.
Bagi Rapidin, pesta tugu bukan hanya seremoni mengenang leluhur.
Tradisi semacam itu menjadi ruang tempat nilai persaudaraan, gotong royong, penghormatan kepada orang tua, serta musyawarah diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Di sela-sela prosesi adat, komunikasi berlangsung tanpa banyak kata. Lewat tortor mangaliat, saling memberi ulos, hingga penghormatan kepada hula-hula, filosofi Dalihan Na Tolu kembali dipraktikkan.
Prinsip Somba Marhula-hula, Elek Marboru, dan Manat Mardongan Tubu menjadi pedoman, menjaga harmoni kehidupan masyarakat Batak.
Pandangan itu sejalan dengan gagasan Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) yang beberapa hari sebelumnya menggelar kegiatan pembinaan di Samosir pada Kamis (18/06/2026) lalu.
Direktorat Jaringan dan Pembudayaan BPIP melalui Analis Kebijakan Ahli Madya Galung Ibrahim menegaskan Pancasila tidak sedang diperkenalkan sebagai sesuatu yang baru di Tanah Batak.
“Yang dilakukan adalah menghidupkan kembali nilai-nilai yang sejak lama tumbuh dalam budaya masyarakat. Dalihan Na Tolu merupakan contoh nyata bagaimana Pancasila hidup dalam keseharian,” ujarnya.
Galung menilai, keteladanan para tokoh adat jauh lebih mudah diterima generasi muda dibanding sekadar pidato-pidato tentang Pancasila di ruang-ruang formal.
Karena itu, ia berharap desa-desa di Samosir dapat berkembang menjadi desa-desa Pancasila yang kuat secara budaya, mandiri secara ekonomi, dan harmonis dalam kehidupan sosial.
Rapidin mengatakan, ikatan batin dengan masyarakat Sitio-tio membuatnya terus memperhatikan pembangunan di kawasan tersebut.
Salah satu yang masih diperjuangkannya adalah peningkatan akses jalan menuju Rassang Bosi, yang menurutnya telah dimulai sejak ia menjabat Bupati Samosir.
“Jalan ini masih menjadi bagian dari perjuangan saya di Jakarta,” katanya menunjuk jalan yang pernah dibangunnya dulu semasa menjabat Bupati.
Menjelang akhir prosesi, hula-hula menganugerahkan ulos kepada Rapidin. Kain adat itu disematkan bersamaan dengan doa agar ia diberi kesehatan, rezeki, dan kekuatan menjalankan amanah sebagai wakil rakyat.
“Semoga sehat selalu dan diberi kemampuan menjalankan tugas serta amanah,” ucap perwakilan marga Sinaga.
Rapidin membalas dengan ucapan terima kasih dan berharap tali persaudaraan antarketurunan tetap terjaga.
Di tengah perubahan zaman, menurutnya, adat dan budaya tetap menjadi fondasi penting untuk menjaga persatuan masyarakat.
Di Rassang Bosi sore itu, Pancasila tidak hadir dalam bentuk pidato ataupun spanduk.
Ia tampak hidup melalui tortor, ulos, musyawarah adat, dan penghormatan antarkeluarga nilai-nilai yang telah lama tumbuh di tepian Danau Toba sebelum kemudian dirumuskan sebagai dasar negara. (Ambrosius Simbolon)
—————————————
“Apabila ada pihak yang merasa dirugikan dan atau keberatan dengan penayangan artikel dan atau berita tersebut di atas, Anda dapat mengirimkan artikel dan atau berita berisi sanggahan dan atau koreksi, sebagaimana diatur dalam Pasal 1 ayat (11) dan (12) Undang-Undang No. 40 tahun 1999 tentang Pers. Artikel/ berita dimaksud dapat dikirimkan melalui kontak redaksi kami”.
Bergabung dengan SALURAN WA untuk dapatkan berita-berita terbaru TRIBRATA TV Online









