Hentikan Suntikan Dana ke Panca Karya: Dari Aset Negara Jadi Parasit Anggaran

- Editorial Team

Sabtu, 25 Oktober 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: Azhar Ohorella. AMP.d

Sampai kapan Pemerintah Provinsi Maluku akan terus menyuapi Panca Karya dengan dana publik seolah perusahaan ini masih bernyawa.

Sudah terlalu lama BUMD ini hidup dari “infus” APBD tanpa memberi hasil nyata. Dulu disebut aset daerah kini lebih pantas disebut parasit anggaran yang menggerogoti keuangan publik atas nama penyelamatan.

Tiap tahun dana segar dikucurkan dengan berbagai label manis: “restrukturisasi”, “revitalisasi”, atau “penyertaan modal tahap lanjutan”. Namun hasilnya tetap nihil. Proyek tak selesai, aset terbengkalai, dan laporan keuangan penuh tanya. Rakyat hanya mendengar jumlah uang yang keluar, tapi tak pernah melihat hasil yang kembali.

Lebih ironis, jabatan di tubuh Panca Karya sering kali dijadikan tempat parkir politik. Komisaris dan direksi diangkat bukan karena kompetensi, tapi karena kedekatan. Akibatnya, manajemen BUMD ini kehilangan arah, profesionalisme lenyap, dan orientasi bisnis bergeser menjadi orientasi kekuasaan.

BACA JUGA  Pasca Bentrok Dua Desa, Kapolres Halut Pimpin Razia Gabungan

Apakah ini wujud tanggung jawab terhadap uang rakyat..? Ataukah sekadar cara halus untuk mempertahankan kepentingan kelompok tertentu di balik baju perusahaan daerah..?

Pemerintah Provinsi Maluku dan DPRD seolah terjebak antara gengsi dan akal sehat. Mengakui kegagalan Panca Karya berarti menelan pil pahit politik, tapi mempertahankannya berarti mengkhianati kepentingan publik.

Setiap rupiah yang disuntikkan tanpa arah bukanlah investasi, itu pemborosan yang mencederai kepercayaan rakyat.

Rakyat Maluku berhak bertanya
Mengapa perusahaan yang tak memberi keuntungan masih terus dipertahankan.
Mengapa uang rakyat terus mengalir untuk menutupi kesalahan manajemen dan kelalaian pejabat.

Bukankah lebih bijak jika dana itu digunakan untuk membangun pasar rakyat, memperbaiki infrastruktur, atau mendukung ekonomi pulau-pulau kecil yang selama ini terpinggirkan.

BACA JUGA  Belum Dapat SP2D, ADD Tahap Akhir 2021 Tak Kunjung Cair di Kabupaten Buru

Kita tidak bisa terus memberi napas buatan kepada tubuh yang sudah lama mati.

Panca Karya tidak butuh dana segar, ia butuh kejujuran pemerintah untuk berkata, cukup sudah.

Lebih baik menutup perusahaan yang gagal dengan terhormat, daripada terus memeliharanya sebagai simbol pemborosan dan ketidakmampuan.Maluku butuh BUMD yang hidup dari ide, kerja keras, dan transparansi, bukan dari sumbangan abadi APBD.

Menyelamatkan Panca Karya hari ini bukan lagi tentang menjaga aset, melainkan tentang menjaga akal sehat pemerintahan.

Hentikan suntikan dana ke Panca Karya.
Setiap rupiah yang keluar tanpa hasil adalah pengkhianatan terhadap rakyat yang membayar pajak.Negara bukan rumah sakit bagi perusahaan gagal, dan rakyat bukan donor darah bagi korporasi politik.

BACA JUGA  Dugaan Jual Beli Lapak di Gedung Baru Pasar Mardika Ambon Mencekik Leher

Jika pemerintah ingin menegakkan marwah dan keadilan fiskal di Maluku,
maka langkah pertama dan paling jujur adalah berhenti memelihara kegagalan.
Karena tidak ada kebohongan yang pantas dibiayai dengan uang rakyat.

Penulis adalah Pemerhati Kebijakan Publik Maluku.

—————————————

Apabila ada pihak yang merasa dirugikan dan atau keberatan dengan penayangan artikel dan atau berita tersebut di atas, Anda dapat mengirimkan artikel dan atau berita berisi sanggahan dan atau koreksi, sebagaimana diatur dalam Pasal 1 ayat (11) dan (12) Undang-Undang No. 40 tahun 1999 tentang Pers. Artikel/ berita dimaksud dapat dikirimkan melalui kontak redaksi kami”.

Bergabung dengan SALURAN WA untuk dapatkan berita-berita terbaru TRIBRATA TV Online

Berita Lainnya

Mengawal Kritik dengan Nurani, Menghargai Pengabdian BPBD di Tengah Ujian Bencana
Saat Kertas Administrasi Kalah Oleh Perut Lapar, Membaca Makna di Balik Senyum Warga Aceh Tamiang
Jalanan Panas, Ekonomi Tertekan: Siapa Bermain di Balik Gelombang Demonstrasi?”
Kemanusiaan yang Kalah oleh Kertas, Mengapa Dana Banjir Aceh Tamiang Macet di Labirin Birokrasi Jakarta?
Mencuci Uang di Negeri Sendiri
JKA di Persimpangan Jalan, Kemenangan Aspirasi Publik atau Sekadar Penundaan Krisis Anggaran?
JKA di Persimpangan Jalan, Antara Efisiensi Anggaran dan Pengkhianatan Mandat Rakyat
Refleksi Peringatan Hari Buruh Nasional Dalam Konteks Profesi Jurnalisme
Tag :

Berita Lainnya

Senin, 20 Juli 2026 - 09:41 WIB

Mengawal Kritik dengan Nurani, Menghargai Pengabdian BPBD di Tengah Ujian Bencana

Jumat, 26 Juni 2026 - 09:42 WIB

Saat Kertas Administrasi Kalah Oleh Perut Lapar, Membaca Makna di Balik Senyum Warga Aceh Tamiang

Sabtu, 13 Juni 2026 - 08:24 WIB

Jalanan Panas, Ekonomi Tertekan: Siapa Bermain di Balik Gelombang Demonstrasi?”

Rabu, 10 Juni 2026 - 07:10 WIB

Kemanusiaan yang Kalah oleh Kertas, Mengapa Dana Banjir Aceh Tamiang Macet di Labirin Birokrasi Jakarta?

Selasa, 9 Juni 2026 - 14:33 WIB

Mencuci Uang di Negeri Sendiri

Berita Terbaru