Oleh: Abner Hasan Pasaribu
Di tengah derasnya arus pendidikan modern yang kerap menuntut kecepatan dan capaian angka, Yayasan Perguruan KH Dewantara Kotapinang tetap teguh berdiri sebagai mercusuar yang menempatkan pendidikan karakter sebagai fondasi utama.
Institusi ini bukan sekadar tempat transfer ilmu pengetahuan, melainkan kawah candradimuka yang menegaskan bahwa pendidikan sejati adalah proses menyatukan kecerdasan akal dengan keluhuran budi pekerti.
Berpijak pada filosofi luhur Ki Hajar Dewantara, yayasan ini terus bergerak melampaui batas akademik. Tujuannya jelas, mencetak generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga tangguh dalam prinsip serta mulia dalam etika.
Eksistensi Yayasan Perguruan KH Dewantara merupakan saksi bisu sejarah panjang dunia pendidikan di Kotapinang. Kehadirannya telah mengakar jauh sebelum Kabupaten Labuhanbatu Selatan dimekarkan dari kabupaten induknya, Rantauprapat.
Hal ini menegaskan bahwa yayasan bukan sekadar respons atas perubahan administratif wilayah, melainkan wujud nyata komitmen jangka panjang dalam menyediakan pendidikan berkualitas bagi masyarakat Kotapinang dan sekitarnya.
Sejak awal berdirinya, yayasan telah menjadi bagian tak terpisahkan dari denyut nadi pembangunan sumber daya manusia di daerah. Perannya konsisten mencetak generasi demi generasi yang siap berkontribusi bagi masyarakat.
Di balik ketangguhan yayasan, berdiri sosok Drs. Naga Parlaungan Lubis, Kepala Yayasan yang menjadi figur sentral dalam pengembangan pendidikan di daerah.
Pengalaman beliau sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN), termasuk pernah menjabat sebagai Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga Kabupaten Labuhanbatu Selatan, memberi warna kepemimpinan yang matang dan visioner.
Menariknya, komitmen beliau terhadap dunia pendidikan telah tumbuh jauh sebelum masa purnatugas.
Saat masih aktif sebagai PNS, beliau telah mendirikan yayasan ini, sebuah bukti bahwa dedikasinya terhadap pendidikan merupakan panggilan jiwa. Selepas pensiun, keterlibatan beliau justru semakin intens dan terstruktur, memastikan setiap kebijakan yayasan berdampak langsung pada kualitas peserta didik.
Visi tersebut selaras dengan pemikiran tokoh pendidikan dunia Martin Luther King Jr. yang menegaskan, “Intelligence plus character that is the goal of true education.” Kecerdasan yang berpadu dengan karakter adalah tujuan sejati pendidikan.
“Pendidikan bukan hanya soal kelulusan. Yang lebih penting adalah membentuk karakter, disiplin, dan ketahanan mental agar anak-anak siap hidup bermasyarakat dan menghadapi dunia kerja,” tegas Drs. Naga Parlaungan Lubis dalam wawancara internal bersama TRIBRATA TV.
Di bawah kepemimpinan beliau, Yayasan Pendidikan KH Dewantara Kotapinang tidak hanya menekankan prestasi akademik, tetapi juga membangun karakter siswa melalui program unggulan yang mengintegrasikan seni, olahraga, dan disiplin mental.
Program drumband di SMP dan SMK Ki Hajar Dewantara Kotapinang bukan sekadar pelatihan musik. Setiap anggota dilatih menumbuhkan kekompakan, ketelitian, serta rasa tanggung jawab. Latihan rutin menuntut konsistensi dan disiplin waktu, sehingga siswa belajar menghargai proses kerja tim dan mengelola tekanan saat tampil di depan publik.
Drumband sekolah ini kerap tampil dalam berbagai acara resmi daerah, lomba antar sekolah hingga tingkat provinsi. Pengalaman tersebut membekali siswa dengan kepercayaan diri, kedisiplinan serta kesiapan menghadapi situasi kompetitif.
Selain itu, program PASUS menjadi sarana pembinaan fisik, mental, kepemimpinan.dan nasionalisme.
Kegiatan ini meliputi latihan baris-berbaris, simulasi kepemimpinan, latihan ketangkasan fisik serta pembentukan disiplin diri.
Program PASUS dirancang tidak hanya bagi siswa yang bercita-cita masuk TNI atau Polri, tetapi juga bagi seluruh peserta didik yang ingin membangun mental tangguh dan kemampuan bekerja sama dalam situasi menantang.
Melalui PASUS, siswa belajar mengendalikan emosi, menghargai aturan, serta menumbuhkan rasa bangga terhadap identitas bangsa.
Selain drumband dan PASUS, yayasan secara aktif mengembangkan berbagai ekstrakurikuler seni dan olahraga.
Bidang seni mencakup tari tradisional, seni lukis, musik dan paduan suara. Kegiatan seni ini menjadi ruang ekspresi kreatif yang membangun kepercayaan diri, kepekaan estetika, serta kemampuan bekerja sama.
Tari tradisional menanamkan apresiasi terhadap budaya lokal dan kesadaran akan identitas diri. Seni lukis melatih ketekunan dan kemampuan menuangkan gagasan secara visual. Musik dan paduan suara mengasah ketelitian, konsentrasi serta kemampuan bersinergi dalam kelompok.
Karya dan penampilan siswa ditampilkan dalam kegiatan purna siswa, festival budaya, serta lomba antar sekolah. Momentum ini membekali peserta didik dengan pengalaman tampil di depan publik dan mengelola rasa percaya diri sejak dini.
Di bidang olahraga, siswa mengikuti kegiatan atletik, sepak bola, bola voli, bulu tangkis, pencak silat, hingga senam.
Selain meningkatkan kebugaran fisik, kegiatan ini melatih sportivitas, disiplin, serta ketahanan mental. Kompetisi internal maupun eksternal menjadi ajang pembelajaran menerima kemenangan dengan rendah hati dan menghadapi kekalahan secara bermartabat.
“Ekstrakurikuler bukan sekadar pelengkap akademik. Ini adalah media untuk melatih karakter, kreativitas, dan kerja sama. Anak-anak belajar bukan hanya untuk tampil, tetapi untuk tumbuh menjadi pribadi tangguh dan berbudaya,” ujar Drs. Naga Parlaungan Lubis.
Apresiasi terhadap prestasi siswa tidak hanya diwujudkan melalui pengumuman nilai atau kelulusan. Kegiatan purna siswa dan capping day yang digelar setiap tahun menjadi momentum penting untuk merayakan proses belajar, kreativitas, serta pencapaian siswa.
Berbagai pertunjukan seni, drumband, paduan suara, hingga demonstrasi kemampuan olahraga dan pencak silat memberi pengalaman nyata tentang kerja tim, disiplin, serta keberanian tampil di hadapan publik.
“Kita ingin anak-anak merasakan bahwa kerja keras dan kreativitas mereka dihargai. Apresiasi bukan hanya penghargaan, tetapi juga motivasi untuk terus berkembang dan berprestasi,” tegasnya.
Keberhasilan pembentukan karakter berjalan seiring dengan pencapaian akademik yang solid. SMK Ki Hajar Dewantara Kotapinang telah meraih Akreditasi B, menandai terpenuhinya Standar Nasional Pendidikan. Capaian ini mencerminkan manajemen pendidikan yang profesional, kualitas pengajaran yang baik serta komitmen menyiapkan lulusan siap bersaing di dunia kerja maupun pendidikan lanjutan.
Bagi Drs. Naga Parlaungan Lubis, akreditasi bukanlah tujuan akhir. “Ini bukti bahwa kita serius membangun pendidikan bermutu, di mana karakter dan akademik berjalan beriringan. Pendidikan yang baik menyiapkan anak untuk hidup, bukan sekadar lulus ujian,” ujarnya.
Bagi beliau, peralihan dari birokrat ke pengelola pendidikan bukanlah perubahan arah, melainkan kelanjutan pengabdian.
Pendidikan adalah kerja bersama, dan selama ada komitmen serta sinergi, pendidikan swasta dapat menjadi pilar penting pembangunan sumber daya manusia di daerah.
Di tengah perubahan sosial yang cepat, Yayasan Perguruan KH Dewantara Kotapinang tetap menjadi ruang lahirnya generasi muda yang berkarakter, disiplin, dan berprestasi.
Sebuah bukti bahwa pendidikan karakter adalah investasi jangka panjang bagi masa depan Labuhanbatu Selatan.
Yayasan Perguruan KH Dewantara Kotapinang: Mencetak Generasi Berkarakter, Disiplin, dan Berprestasi.
Abner Hasan Pasaribu adalah Wartawan TRIBRATA TV
—————————————
“Apabila ada pihak yang merasa dirugikan dan atau keberatan dengan penayangan artikel dan atau berita tersebut di atas, Anda dapat mengirimkan artikel dan atau berita berisi sanggahan dan atau koreksi, sebagaimana diatur dalam Pasal 1 ayat (11) dan (12) Undang-Undang No. 40 tahun 1999 tentang Pers. Artikel/ berita dimaksud dapat dikirimkan melalui kontak redaksi kami”.
Bergabung dengan SALURAN WA untuk dapatkan berita-berita terbaru TRIBRATA TV Online









