Yogyakarta, TRIBRATA.TV
Badan Geologi mencatat terjadinya awan panas guguran di Gunung Merapi pada Senin (20/4/2026) dini hari. Peristiwa tersebut terjadi pada pukul 00.29 WIB dengan estimasi jarak luncur mencapai 1.800 meter ke arah hulu Kali Krasak.
Berdasarkan data pemantauan, awan panas guguran itu terekam dengan amplitudo maksimum 53,50 mm dan berlangsung selama 174,84 detik. Arah luncuran material vulkanik terpantau konsisten menuju sektor barat daya, mengikuti alur Kali Krasak yang berhulu di puncak Gunung Merapi.
Petugas dari Badan Geologi menjelaskan bahwa fenomena awan panas guguran merupakan bagian dari aktivitas erupsi efusif Gunung Merapi, yang ditandai dengan runtuhan kubah lava. Material panas yang gugur kemudian meluncur menuruni lereng dengan kecepatan tinggi, membawa potensi bahaya bagi wilayah di sekitarnya.
Seiring dengan kejadian tersebut, masyarakat yang bermukim di kawasan rawan bencana (KRB) diminta untuk meningkatkan kewaspadaan. Warga diimbau tidak melakukan aktivitas di daerah bahaya, termasuk di sepanjang alur sungai yang berhulu di Gunung Merapi seperti Kali Krasak, Kali Boyong, dan Kali Bebeng, yang berpotensi dilalui material vulkanik.
Selain itu, masyarakat juga diminta untuk mewaspadai potensi lahar hujan, terutama apabila terjadi curah hujan tinggi di kawasan puncak. Material vulkanik yang masih tersimpan di lereng dapat terbawa aliran air dan menimbulkan ancaman tambahan di wilayah hilir.
Hingga laporan ini disampaikan, tingkat aktivitas Gunung Merapi masih berada pada Level III atau Siaga. Pada status ini, otoritas merekomendasikan pembatasan aktivitas masyarakat dalam radius tertentu dari puncak, serta pelarangan kegiatan di sektor-sektor yang berpotensi terdampak langsung oleh awan panas dan guguran lava.
Badan Geologi melalui Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) menegaskan bahwa pemantauan terus dilakukan secara intensif, baik melalui pengamatan visual maupun instrumental. Evaluasi aktivitas gunung api juga dilakukan secara berkala untuk menentukan langkah mitigasi selanjutnya.
Pemerintah daerah bersama aparat terkait turut bersiaga untuk memastikan kesiapan evakuasi apabila diperlukan. Sosialisasi kepada masyarakat juga terus dilakukan guna meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi potensi erupsi lanjutan.
Masyarakat diharapkan tetap tenang namun tidak lengah, serta selalu mengikuti informasi resmi dari BPPTKG dan pemerintah setempat. Informasi terkini mengenai aktivitas Gunung Merapi dapat diakses melalui kanal resmi yang telah disediakan oleh otoritas terkait.(Didik)
—————————————
“Apabila ada pihak yang merasa dirugikan dan atau keberatan dengan penayangan artikel dan atau berita tersebut di atas, Anda dapat mengirimkan artikel dan atau berita berisi sanggahan dan atau koreksi, sebagaimana diatur dalam Pasal 1 ayat (11) dan (12) Undang-Undang No. 40 tahun 1999 tentang Pers. Artikel/ berita dimaksud dapat dikirimkan melalui kontak redaksi kami”.
Bergabung dengan SALURAN WA untuk dapatkan berita-berita terbaru TRIBRATA TV Online









