Sleman,TRIBRATA.TV – Aktivitas Gunung Merapi masih berada pada Level III (Siaga) hingga Minggu (19/7/2026). Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) melaporkan masih terjadi suplai magma yang ditandai dengan puluhan gempa guguran, gempa hybrid, dan gempa vulkanik dangkal selama periode pengamatan pukul 06.00–12.00 WIB.
Dalam laporan resmi yang dirilis BPPTKG, petugas mencatat 29 kali gempa guguran, 20 kali gempa hybrid atau fase banyak, serta tiga kali gempa vulkanik dangkal. Selain itu, pengamat juga merekam dua kali guguran lava yang mengarah ke Kali Sat/Putih dan Kali Boyong dengan jarak luncur maksimum mencapai 1.900 meter.
Meski aktivitas kegempaan masih cukup tinggi, kondisi visual Gunung Merapi pada periode pengamatan didominasi cuaca cerah hingga berawan. Gunung sesekali tertutup kabut tipis hingga sedang, sementara asap kawah tidak teramati.
BPPTKG menjelaskan bahwa data pemantauan menunjukkan suplai magma masih terus berlangsung. Kondisi tersebut dinilai masih berpotensi memicu guguran lava maupun awan panas guguran di kawasan yang telah dipetakan sebagai daerah potensi bahaya.
“Data pemantauan menunjukkan suplai magma masih berlangsung yang dapat memicu terjadinya awan panas guguran di dalam daerah potensi bahaya,” demikian keterangan BPPTKG dalam laporan aktivitas Gunung Merapi.
Sementara itu, kondisi meteorologi selama enam jam pengamatan menunjukkan cuaca cerah dan berawan dengan angin bertiup tenang ke arah barat. Suhu udara berkisar 21,4–25,9 derajat Celsius, kelembapan udara 55,7–68,8 persen, dan tekanan udara 875,3–919,2 mmHg.
BPPTKG menegaskan bahwa status Gunung Merapi tetap berada pada Level III (Siaga). Oleh karena itu, masyarakat diminta tetap mematuhi seluruh rekomendasi yang telah ditetapkan guna mengurangi risiko apabila terjadi peningkatan aktivitas vulkanik.
Pada sektor selatan hingga barat daya, potensi bahaya berupa guguran lava dan awan panas masih mengancam alur Sungai Boyong hingga maksimal 5 kilometer, serta Sungai Bedog, Krasak, dan Bebeng hingga 7 kilometer dari puncak. Adapun di sektor tenggara, potensi bahaya meliputi Sungai Woro sejauh 3 kilometer dan Sungai Gendol hingga 5 kilometer.
Selain ancaman guguran lava, BPPTKG juga mengingatkan bahwa apabila terjadi letusan eksplosif, material vulkanik berpotensi terlontar hingga radius 3 kilometer dari puncak Gunung Merapi.
Di sisi lain, BPPTKG mengimbau masyarakat agar tidak melakukan aktivitas apa pun di dalam kawasan potensi bahaya. Warga yang bermukim di sekitar lereng Merapi juga diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman lahar dan awan panas guguran, terutama saat hujan turun di kawasan gunung.
Selain itu, masyarakat di wilayah yang berpotensi terdampak diminta mengantisipasi kemungkinan gangguan akibat hujan abu vulkanik apabila sewaktu-waktu terjadi erupsi.
BPPTKG memastikan pemantauan Gunung Merapi terus dilakukan selama 24 jam. Apabila terjadi perubahan aktivitas yang signifikan, pemerintah akan segera meninjau kembali tingkat aktivitas gunung tersebut dan menyampaikan informasi terbaru kepada masyarakat.
Dengan kondisi yang masih berstatus Siaga, masyarakat diharapkan tetap tenang, mengikuti informasi resmi dari BPPTKG dan pemerintah daerah, serta tidak mudah terpengaruh informasi yang belum terverifikasi.(Dik.)
—————————————
“Apabila ada pihak yang merasa dirugikan dan atau keberatan dengan penayangan artikel dan atau berita tersebut di atas, Anda dapat mengirimkan artikel dan atau berita berisi sanggahan dan atau koreksi, sebagaimana diatur dalam Pasal 1 ayat (11) dan (12) Undang-Undang No. 40 tahun 1999 tentang Pers. Artikel/ berita dimaksud dapat dikirimkan melalui kontak redaksi kami”.
Bergabung dengan SALURAN WA untuk dapatkan berita-berita terbaru TRIBRATA TV Online









