Oleh; Sukamto
Perdebatan sengit mengenai program Makan Bergizi Gratis (MBG) versus dunia pendidikan mencapai titik didih presiden Prabowo menanggapi dengan serius bahkan memerintahkan stafnya untuk mengumpulkan data berita penolakan program MBG untuk bahan evaluasi.
Seperti yang diketahui berbagai kalangan akademisi tokoh masyarakat dan terakhir dari Ketua BEM UGM Tiyo Ardianto memberikan kritik keras terhadap program unggulan Presiden Prabowo, media sosial dipenuhi pertanyaan tentang mengapa kebutuhan alat tulis siswa miskin belum terpenuhi, sementara anggaran MBG yang besar tetap berjalan dengan tenang.
Tragedi seorang siswa YBR di Nusa Tenggara Timur yang tak mampu membeli alat tulis sekolah, menjadi tamparan keras bagi potret dunia pendidikan kita.
Namun, kita perlu menarik napas sejenak dan melihat data secara objektif. Pemerintah sebenarnya memiliki beragam bantuan sosial seperti PKH, BLT, Kartu Indonesia Pintar, PIP, dan lainnya. Ini mengindikasikan bahwa masalahnya bukan semata-mata pada kebijakan nasional, melainkan pada data dan implementasi di tingkat daerah.
Di sisi lain, MBG diprogramkan untuk memutus mata rantai stunting dan meningkatkan kualitas SDM serta tumbuh kembang anak. Dengan memberikan asupan gizi yang cukup, diharapkan anak-anak dapat belajar lebih baik dan meraih prestasi yang lebih tinggi.
Dengan demikian, jelas bahwa MBG bukanlah lawan dari dunia pendidikan, melainkan justru pendukung. Program ini adalah investasi jangka panjang untuk menciptakan generasi penerus yang sehat, cerdas, dan berdaya saing.
—————————————
“Apabila ada pihak yang merasa dirugikan dan atau keberatan dengan penayangan artikel dan atau berita tersebut di atas, Anda dapat mengirimkan artikel dan atau berita berisi sanggahan dan atau koreksi, sebagaimana diatur dalam Pasal 1 ayat (11) dan (12) Undang-Undang No. 40 tahun 1999 tentang Pers. Artikel/ berita dimaksud dapat dikirimkan melalui kontak redaksi kami”.
Bergabung dengan SALURAN WA untuk dapatkan berita-berita terbaru TRIBRATA TV Online









