Ratusan Suporter
Yogyakarta,TRIBRATA.TV – Ratusan suporter PSIM Jogja menggelar aksi laku topo atau topo bisu dengan mengelilingi Stadion Mandala Krida pada malam 1 Suro, Selasa (16/6) malam. Aksi yang berlangsung khidmat tersebut menjadi bentuk keprihatinan sekaligus doa bersama agar PSIM Jogja dapat kembali menggunakan Stadion Mandala Krida sebagai kandang utama pada kompetisi Super League musim 2025/2026.
Aksi yang dipusatkan di kawasan Stadion Mandala Krida itu diikuti ratusan suporter dari berbagai elemen pendukung Laskar Mataram. Mereka berjalan mengitari stadion tanpa konvoi maupun nyanyian dukungan sebagaimana lazim dilakukan suporter sepak bola.
Penggagas aksi, Andre Miliran, mengatakan kegiatan tersebut lahir dari kegelisahan suporter yang tidak dapat menyaksikan PSIM berlaga di stadion yang selama ini menjadi identitas klub kebanggaan warga Yogyakarta.
Menurutnya, kondisi tersebut merupakan dampak dari kasus korupsi yang menyeret proyek renovasi Stadion Mandala Krida sehingga stadion belum dapat digunakan sebagai markas PSIM pada musim mendatang.
“Sebagai suporter PSIM, kami tidak bisa melihat tim bermain di Mandala Krida karena ada kasus korupsi. Mandala Krida adalah nyawa kami. Di sana kami dilahirkan, dirawat, dan dibesarkan,” kata Andre di sela-sela kegiatan.
Ia menegaskan perjuangan suporter untuk mengembalikan PSIM ke Mandala Krida tidak akan berhenti. Pemilihan malam 1 Suro dilakukan karena dianggap memiliki nilai spiritual dan budaya yang kuat bagi masyarakat Jawa.
“Diam bukan berarti kita kalah, tetapi itulah doa tertinggi. Apalagi di malam bulan Suro ini adalah momen yang paling tepat agar Yang di Atas mendengarkan doa kami,” ujarnya.
Berdasarkan pantauan di lokasi, rangkaian kegiatan diawali dengan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya di Wisma PSIM. Acara kemudian dilanjutkan dengan lantunan kidung Jawa sebelum peserta berjalan mengelilingi area Stadion Mandala Krida.
Andre menjelaskan, aksi tersebut tidak hanya menjadi sarana doa bagi masa depan stadion dan klub, tetapi juga menjadi momentum refleksi bagi para suporter.
“Kami mengelilingi Mandala Krida karena meminta pertolongan kepada Yang di Atas agar segera bisa direalisasikan untuk kembali ke stadion ini. Adik-adik suporter sangat berharap sekali,” katanya.
Lebih lanjut, ia menilai pendekatan budaya yang diusung dalam aksi tersebut juga menjadi upaya memperlihatkan sisi lain suporter sepak bola kepada masyarakat. Melalui kegiatan yang berlangsung tertib dan damai, suporter berharap stigma negatif yang selama ini kerap melekat dapat perlahan berubah.
Aksi topo bisu berakhir tanpa insiden dan mendapat respons positif dari peserta yang berharap doa serta harapan mereka dapat mempercepat kembalinya PSIM Jogja ke Stadion Mandala Krida sebagai rumah bagi Laskar Mataram.(Dik.)
—————————————
“Apabila ada pihak yang merasa dirugikan dan atau keberatan dengan penayangan artikel dan atau berita tersebut di atas, Anda dapat mengirimkan artikel dan atau berita berisi sanggahan dan atau koreksi, sebagaimana diatur dalam Pasal 1 ayat (11) dan (12) Undang-Undang No. 40 tahun 1999 tentang Pers. Artikel/ berita dimaksud dapat dikirimkan melalui kontak redaksi kami”.
Bergabung dengan SALURAN WA untuk dapatkan berita-berita terbaru TRIBRATA TV Online









