Belu, TRIBRATA TV
Buruknya layanan RSUD Mgr. Gabriel Manek Atambua dikeluhkan seorang warga Kabupaten Belu. Pelayanan bagi pasien yang dijanjikan Bupati Belu, Willybrodus Lay ternyata hanya sebatas janji saja.
Hal ini dirasakan Maximus Koli, warga Rusun Piebulak Desa Persiapan Majo Rato Kecamatan Lamaknen Selatan. Ia mengeluhkan pelayanan kesehatan yang dialami ayahnya alm Viktor Abel Lesu, warga Desa Duarato Kecamatan Lamaknen.
Dikatakannya, pada hari Minggu (15/2/2026) ayahnya Viktor Abel Lesu masuk di ruang IGD sekitar jam 10 pagi dengan gejala penyakit yang tidak terlalu kritis sehingga butuh rawat inap atau rawat jalan.
Namun penyakitnya butuh penanganan cepat dan tepat dikarenakan almarhum sudah lanjut usia. Sayangnya penanganan di rumah sakit ini berlarut-larut dengan alasan observasi, yang membutuhkan waktu hingga pukul 22.00 malam.
“Dari pukul 10 pagi hingga pukul 22 malam, belum ada kejelasan hasil laboratorium dan medis. Bapak saya masih di ruang IGD tanpa kejelasan,” kata Maximus, Senin (16/2/2026).
Dikatakannya, begitu masuk IGD, bapaknya ditangani medis dan tensinya berangsur-angsur normal. Bahkan bapaknya sempat minta makan dan ingin pulang.
Namun dilarang oleh perawat dan dokter, dengan alasan pasien masih diinfus dan dipasang oksigen jadi tidak boleh makan.
Kejanggalan mulai dirasakan keluarga ketika perawat beberapa kali mengganti infus dan obat-obatan dalam tenggang waktu singkat. “Ada yang 20 menit, ada yang 5 menit, infus dan obat diganti,” katanya lagi.
Pergantian obat ini pun tidak pernah dijelaskan kepada keluarga pasien, apa jenis obatnya, atau mengapa diganti obatnya.
Hingga akhirnya pada pukul 21.00 WITA, keluarga mencoba menanyakan hasil laboratorium serta penanganan lanjutan, namun perawat tidak memberikan informasinya.
“Tiba-tiba datang perawat mengantarkan makanan dan menyampaikan semua infus dan oksigen mau buka karena bapak akan dipindahkan ke ruang rawat inap,” tambah Maxi.
Sambil menunggu proses administrasinya, namun kejanggalan kembali terjadi, perawat menggantikan infus dan 5 menit kemudian diganti lagi.
“Saat itu kondisi bapak masih normal, ia kemudian minta buang air kecil ke toilet tidak mau memakai pispot. Ia minta selang oksigen dicabut dulu agar bisa berjalan ke toilet, tapi tidak ada perawat sehingga menunggu,” tambah Maxi.
Melihat lambannya pelayanan RS ini, ayah Maxi marah padanya. Ia mengatakan ‘saya tidak mau masuk rumah sakit, ini cara kamu mau bunuh saya’. Emosi ayahnya memuncak hingga tiba-tiba drop dan tak lama menghembuskan nafas terakhir.
“Saya sangat kecewa dengan pelayanan rumah sakit ini, untuk urus rawat inap saja 12 jam lebih tidak selesai, sampai pasien kelelahan menunggu,” kesalnya. (Ridho)
—————————————
“Apabila ada pihak yang merasa dirugikan dan atau keberatan dengan penayangan artikel dan atau berita tersebut di atas, Anda dapat mengirimkan artikel dan atau berita berisi sanggahan dan atau koreksi, sebagaimana diatur dalam Pasal 1 ayat (11) dan (12) Undang-Undang No. 40 tahun 1999 tentang Pers. Artikel/ berita dimaksud dapat dikirimkan melalui kontak redaksi kami”.
Bergabung dengan SALURAN WA untuk dapatkan berita-berita terbaru TRIBRATA TV Online









