Inspiratif, Anak Punk Gunungkidul Tekuni Pertanian Organik Tanpa Bahan Kimia

- Editorial Team

Rabu, 15 April 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Gunungkidul, TRIBRATA TV

Sekelompok anak muda yang dulu lekat dengan identitas punk di Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, kini memilih jalan berbeda. Mereka menanggalkan stigma dan beralih menjadi petani organik, menggarap lahan dengan semangat kemandirian sekaligus kepedulian sosial.

Komunitas yang menamakan diri Petani Punk Gunungkidul ini berbasis di Kalangan, Ngipak, Karangmojo. Mereka mengembangkan sistem pertanian tanpa pupuk maupun pestisida berbahan kimia. Hasil panen tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan sendiri, tetapi juga dibagikan kepada masyarakat yang membutuhkan.

Perwakilan komunitas, SiBagz, menceritakan perjalanan hidupnya yang berliku. Ia sempat merantau sejak 2004 dan menjalani berbagai pekerjaan sebelum akhirnya pulang ke kampung halaman pada 2015. Dua tahun kemudian, setelah menikah, ia mulai menetap dan membangun kehidupan baru.

BACA JUGA  Video: Petani Desa Bandar Kalifah Deli Serdang Keluhkan Tanaman Dirusak OTK

Awal mula perubahan terjadi pada 2018, ketika ia dan teman-temannya berkumpul di pinggir sawah. Saat itu, mereka sempat menertawakan petani lanjut usia yang masih bekerja di ladang. Namun, peristiwa itu justru memicu perenungan.

“Sepulangnya saya kepikiran, bagaimana kalau tidak ada regenerasi petani,” ujar SiBagz.

Keresahan tersebut mendorongnya mengambil langkah berani. Dengan izin orang tua, ia menggadaikan sertifikat tanah senilai Rp25 juta sebagai modal awal bertani. Meski belum memiliki pengetahuan yang cukup, ia bertekad belajar dari nol.

Bersama sekitar 15 rekannya, SiBagz mulai menggarap lahan seluas 1.500 meter persegi yang dipinjam dari warga. Di awal perjalanan, berbagai kendala mereka hadapi, termasuk kesalahan teknis karena minim pengalaman.

BACA JUGA  Angin Kencang, Petani di Samosir Terancam Gagal Panen

Namun seiring waktu, mereka mendapatkan pendampingan dari seorang kolega yang membantu memahami teknik pertanian, termasuk pembuatan pupuk dan pestisida organik.

Mereka memanfaatkan bahan alami seperti urin kambing sebagai sumber kalsium, air bekas cucian beras (leri) untuk nutrisi, serta empon-empon sebagai pestisida nabati. Pendekatan ini sejalan dengan komitmen mereka menjaga lingkungan dan kesehatan tanah.

Upaya tersebut mulai membuahkan hasil. Panen bawang merah menjadi titik balik yang tidak hanya memberikan hasil ekonomi, tetapi juga memungkinkan SiBagz mencicil utang dari modal awalnya.

Untuk pemasaran, mereka memilih cara sederhana: membuka akses bagi pembeli yang datang langsung ke lokasi.

Lebih dari sekadar bertani, komunitas ini membawa pesan tentang perubahan, keberanian memulai, dan pentingnya regenerasi petani. Dari jalanan ke sawah, mereka menanam bukan hanya tanaman, tetapi juga harapan baru bagi masa depan pertanian lokal.(Didik)

BACA JUGA  Dukung Ekonomi Petani Toba, PT TPL Beri 3.110 Kg Benih Padi

—————————————

Apabila ada pihak yang merasa dirugikan dan atau keberatan dengan penayangan artikel dan atau berita tersebut di atas, Anda dapat mengirimkan artikel dan atau berita berisi sanggahan dan atau koreksi, sebagaimana diatur dalam Pasal 1 ayat (11) dan (12) Undang-Undang No. 40 tahun 1999 tentang Pers. Artikel/ berita dimaksud dapat dikirimkan melalui kontak redaksi kami”.

Bergabung dengan SALURAN WA untuk dapatkan berita-berita terbaru TRIBRATA TV Online

Berita Lainnya

Ribuan Warga DIY Padati Nobar Final Piala Dunia 2026 di JEC, Danrem 072/Pamungkas: Mari Jaga Persatuan
Hadiri Hari Jadi ke-78 Kalurahan Sinduadi, Bupati Sleman Ajak Warga Perkuat Sinergi Pembangunan
Gunung Merapi Hari Ini: Status Siaga, Lava Gugur Meluncur hingga 1,9 Kilometer
Korem 072/Pamungkas dan KADIN DIY Sukses Gelar Nobar Piala Dunia 2026, UMKM Ikut Bergeliat
Gerakan ANANDA BERSINAR Warnai MPLS di Sleman, BNNK Jangkau 108 Sekolah
Kebakaran Rumah di Padukuhan Garon Bantul, Diduga Dipicu Tungku Kayu yang Lupa Dimatikan
Geger, Seorang Petani Ditemukan Tewas Tergantung di Gubuk Alas Pak Bendo Gunungkidul
Rekayasa Lalu Lintas Saparan Bekakak 2026 di Gamping, Jalan Wates Ditutup Sementara Jumat Sore

Berita Lainnya

Senin, 20 Juli 2026 - 11:10 WIB

Ribuan Warga DIY Padati Nobar Final Piala Dunia 2026 di JEC, Danrem 072/Pamungkas: Mari Jaga Persatuan

Minggu, 19 Juli 2026 - 18:45 WIB

Hadiri Hari Jadi ke-78 Kalurahan Sinduadi, Bupati Sleman Ajak Warga Perkuat Sinergi Pembangunan

Minggu, 19 Juli 2026 - 12:56 WIB

Gunung Merapi Hari Ini: Status Siaga, Lava Gugur Meluncur hingga 1,9 Kilometer

Minggu, 19 Juli 2026 - 12:36 WIB

Korem 072/Pamungkas dan KADIN DIY Sukses Gelar Nobar Piala Dunia 2026, UMKM Ikut Bergeliat

Jumat, 17 Juli 2026 - 20:32 WIB

Gerakan ANANDA BERSINAR Warnai MPLS di Sleman, BNNK Jangkau 108 Sekolah

Berita Terbaru

Sumatera Utara

Polres Tebing Tinggi Sosialisasikan Tertib Berlalu Lintas di SMKN 1

Selasa, 21 Jul 2026 - 09:19 WIB