Sleman,TRIBRATA.TV – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sleman kembali menggelar upacara adat Jamasan Pusaka Tombak Kyai Turunsih di Pendopo Parasamya, Senin (13/7/2026). Tradisi tahunan yang dilaksanakan setiap bulan Suro dalam penanggalan Jawa atau Muharam dalam kalender Islam ini menjadi bagian dari upaya pelestarian budaya sekaligus perawatan pusaka daerah yang sarat makna filosofis.
Prosesi jamasan dilakukan oleh para Abdi Dalem Keraton Yogyakarta terhadap Tombak Kyai Turunsih, pusaka resmi milik Pemkab Sleman yang dianugerahkan Sri Sultan Hamengkubuwono X pada peringatan Hari Jadi ke-83 Kabupaten Sleman, 15 Mei 1999. Pusaka tersebut diberikan sebagai tetenger atau penanda yang memiliki nilai historis dan budaya bagi daerah.
Wakil Bupati Sleman Danang Maharsa bersama jajaran pejabat Pemkab Sleman menghadiri prosesi tersebut. Menurut Danang, jamasan bukan sekadar ritual membersihkan pusaka, tetapi juga menjadi momentum untuk menjaga warisan budaya sekaligus memperkuat nilai-nilai yang terkandung di dalamnya.
“Terima kasih kepada para Abdi Dalem dan seluruh pihak yang telah membantu pelaksanaan jamasan pusaka ini. Semoga kita senantiasa diberikan kesehatan dan kelancaran dalam menjalankan tugas untuk menyejahterakan masyarakat Kabupaten Sleman,” kata Danang.
Ia menjelaskan, Tombak Kyai Turunsih merupakan simbol berkah dan pengayoman bagi masyarakat Sleman. Karena itu, tradisi jamasan diharapkan tidak hanya menjaga kondisi fisik pusaka, tetapi juga menjadi pengingat akan tanggung jawab pemerintah dalam memberikan pelayanan dan perlindungan kepada masyarakat.
Selain itu, nama Turunsih memiliki makna “turunnya rasa kasih sayang” atau welas asih. Filosofi tersebut, menurut Danang, relevan untuk diterapkan oleh pemimpin maupun masyarakat dalam membangun kehidupan yang harmonis dengan mengedepankan kepedulian dan semangat saling menghormati.
Di sisi lain, Tombak Kyai Turunsih memiliki pamor Beras Wutah, yang melambangkan Kabupaten Sleman sebagai lumbung beras Daerah Istimewa Yogyakarta. Makna tersebut menjadi pengingat agar daerah tetap menjaga nilai-nilai agraris yang selama ini menjadi salah satu kekuatan utama Sleman.
Tradisi jamasan yang rutin digelar setiap tahun juga menjadi bagian dari komitmen Pemkab Sleman dalam melestarikan warisan budaya lokal di tengah perkembangan zaman. Melalui prosesi ini, pemerintah berharap generasi muda semakin mengenal sejarah daerah sekaligus memahami nilai-nilai budaya yang diwariskan para pendahulu.
Pelaksanaan Jamasan Pusaka Tombak Kyai Turunsih tidak hanya memiliki dimensi budaya dan spiritual, tetapi juga memperkuat identitas Kabupaten Sleman sebagai daerah yang menjaga tradisi, menghormati sejarah, dan terus berupaya menghadirkan kesejahteraan bagi masyarakat melalui semangat kebersamaan dan pengabdian.(Dik.)
—————————————
“Apabila ada pihak yang merasa dirugikan dan atau keberatan dengan penayangan artikel dan atau berita tersebut di atas, Anda dapat mengirimkan artikel dan atau berita berisi sanggahan dan atau koreksi, sebagaimana diatur dalam Pasal 1 ayat (11) dan (12) Undang-Undang No. 40 tahun 1999 tentang Pers. Artikel/ berita dimaksud dapat dikirimkan melalui kontak redaksi kami”.
Bergabung dengan SALURAN WA untuk dapatkan berita-berita terbaru TRIBRATA TV Online









