Sleman,TRIBRATA.TV — Misteri kebakaran berulang yang terjadi di sebuah rumah warga di Kapanewon Seyegan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, memasuki babak baru. Tim Pusat Kajian Pelambaran Entropi (PKPE) Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada (UGM) menyimpulkan bahwa kebakaran tidak disebabkan oleh gas alam maupun fenomena geologi bawah permukaan, melainkan berkaitan dengan material buatan manusia yang mudah terbakar.
Kesimpulan tersebut disampaikan setelah tim PKPE FT UGM menyelesaikan serangkaian penelitian dan pengujian ilmiah terhadap lokasi yang selama beberapa waktu terakhir menjadi sorotan publik akibat munculnya api secara berulang dan tiba-tiba. Dalam beberapa laporan, kebakaran disebut dapat terjadi hingga sembilan kali dalam sehari.
Ketua tim peneliti menyatakan hasil pemetaan menggunakan teknologi georadar dan geolistrik tidak menemukan indikasi keberadaan lapisan gas alam maupun retakan bawah tanah yang berpotensi memicu munculnya api.
Selain itu, pengukuran medan elektromagnetik di lokasi menunjukkan nilai yang masih berada dalam batas normal dan aman. Temuan tersebut menepis dugaan bahwa fenomena kebakaran dipicu oleh anomali listrik atau medan magnet.
Penelitian juga dilakukan menggunakan drone yang dilengkapi sensor Thermal Infrared pada dini hari di area lokasi kejadian hingga radius sekitar 200 meter. Dari pengamatan tersebut, tim tidak menemukan anomali panas yang mengarah pada keberadaan sumber api alami dari bawah permukaan tanah.
Dalam analisis laboratorium, tim meneliti sampel residu kebakaran yang diambil dari dinding kayu, tembok, tanah, dan abu sisa pembakaran menggunakan metode Gas Chromatography. Hasil pengujian hanya mendeteksi karbon dioksida (CO₂) dan tidak menemukan jejak hidrokarbon maupun bahan kimia yang lazim digunakan sebagai akseleran atau pemicu percepatan kebakaran.
Temuan penting muncul pada pengujian lanjutan menggunakan metode Fourier Transform Infrared Spectroscopy (FTIR). Dari residu yang menempel pada permukaan keramik, kayu, dan tripleks, peneliti menemukan kandungan resin poly vinyl chloride (PVC).
Menurut tim PKPE FT UGM, resin PVC merupakan material yang mudah terbakar ketika bertemu dengan sumber penyulut api (ignition source). Material tersebut diduga memiliki keterkaitan dengan objek yang terbakar dalam rangkaian peristiwa kebakaran di rumah tersebut.
Pada tahap awal penelitian, tim sempat mendalami kemungkinan keterkaitan antara fenomena kebakaran dengan gas hidrogen yang diduga berasal dari limbah pemotongan ayam. Namun, analisis lanjutan tidak menemukan bukti yang mendukung dugaan tersebut.
“Tim PKPE FT UGM menemukan data lanjutan bahwa api yang membakar material pada kasus Rumah Api Seyegan kemungkinan berasosiasi dengan adanya resin poly vinyl chloride yang mudah terbakar jika bertemu sumber api (ignition),” demikian keterangan tim peneliti.Sabtu (13/6/2026).
Berdasarkan keseluruhan hasil kajian, tim menyimpulkan sumber kebakaran tidak berasal dari fenomena geologi maupun gas bawah tanah. Api diduga muncul akibat interaksi material buatan manusia yang terdapat di dalam bangunan dengan sumber penyulut tertentu.
Seluruh hasil penelitian telah diserahkan kepada Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sleman sebagai bahan tindak lanjut. Dengan rampungnya kajian tersebut, tim PKPE FT UGM menyatakan tugas penelitian terkait kasus “Rumah Api” Seyegan telah selesai.(Dik.)
—————————————
“Apabila ada pihak yang merasa dirugikan dan atau keberatan dengan penayangan artikel dan atau berita tersebut di atas, Anda dapat mengirimkan artikel dan atau berita berisi sanggahan dan atau koreksi, sebagaimana diatur dalam Pasal 1 ayat (11) dan (12) Undang-Undang No. 40 tahun 1999 tentang Pers. Artikel/ berita dimaksud dapat dikirimkan melalui kontak redaksi kami”.
Bergabung dengan SALURAN WA untuk dapatkan berita-berita terbaru TRIBRATA TV Online







