Sitaro, TRIBRATA TV
Suasana penuh sukacita dan syukur mewarnai Gedung Gereja GMIST Jemaat Ulu, Jumat (10/10/2025), ketika Rapat Kerja Tahunan dan Penjemaatan Cerita Natal Pelka Anak Sinode GMIST resmi dibuka.
Bupati Kepulauan Siau Tagulandang Biaro (Sitaro), Chyntia Ingrid Kalangit, S.KM, yang diwakili oleh Asisten Administrasi Umum Sekda dr. Semuel E. Raule, M.Kes, menyampaikan sambutan yang sarat makna, mengajak seluruh pelayan gereja dan jemaat memperkuat peran pembinaan iman anak di tengah perubahan zaman yang semakin cepat.

Dalam sambutannya, Bupati Chyntia menekankan rasa syukur atas kesempatan berkumpul dalam kegiatan rohani ini.
“Puji syukur kita panjatkan ke hadirat Tuhan yang Maha Kasih, karena oleh penyertaan dan kemurahan-Nya, kita semua diberi kesehatan, kekuatan, dan kesempatan untuk hadir dalam kegiatan Rapat Kerja Tahunan dan Penjemaatan Cerita Natal Pelka Anak Sinode GMIST,” tutur Raule membacakan sambutan bupati.

Momentum ini, lanjutnya, bukan sekadar pertemuan rutin tahunan, tetapi menjadi wadah penting untuk memperkuat nilai-nilai iman Kristen bagi anak-anak sebagai generasi penerus gereja dan bangsa. “Saya menyampaikan apresiasi dan penghargaan setinggi-tingginya kepada Sinode GMIST, khususnya Pelayanan Pelka Anak atas komitmennya dalam menanamkan nilai-nilai iman Kristen kepada generasi muda kita,” ujarnya.
Dengan mengangkat tema “Aku Dikenal dan Dikasihi Tuhan” yang bersumber dari 1 Tawarikh 8:9, Bupati Chyntia menilai pesan tersebut memiliki makna mendalam, khususnya bagi anak-anak di Tanah GMIST — Sangihe, Sitaro, dan sekitarnya. Tema itu, katanya, mengingatkan pentingnya menciptakan ruang tumbuh yang aman dan penuh kasih bagi anak-anak.

Dalam sambutannya, ia juga menyinggung fenomena global terkait ancaman terhadap anak, seperti perdagangan manusia. Mengutip data dari Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPPA) RI, disebutkan bahwa sepanjang Juni hingga September 2025 terdapat 538 korban tindak pidana perdagangan orang, dan 21,56 persen di antaranya adalah anak-anak. Fakta ini, kata Bupati, menjadi alarm moral bagi seluruh elemen masyarakat untuk menjaga masa depan generasi muda.
“Negara menjamin hak-hak dan kewajiban anak sebagaimana termaktub dalam Undang-undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak. Anak adalah tanggung jawab bersama — negara, pemerintah daerah, masyarakat, dan orang tua — tanpa membedakan suku, agama, ras, golongan, dan status lainnya,” tegasnya.

Ia berharap, lewat Rapat Kerja Tahunan ini, Pelka Anak Sinode GMIST dapat menghadirkan berbagai ide dan terobosan baru yang inovatif, adaptif, serta antisipatif terhadap dinamika zaman yang terus berubah. Gereja, menurutnya, perlu hadir tidak hanya sebagai tempat pembinaan rohani, tetapi juga pusat kreativitas dan perlindungan bagi anak-anak.
Lebih jauh, Bupati Chyntia mengingatkan agar kegiatan ini tidak hanya menjadi ajang seremonial, melainkan sebuah momentum transformasi rohani. “Rapat Kerja Tahunan Pelka Anak Sinode GMIST harus menjadi ruang pembaharuan pelayanan, tempat kita memperdalam semangat pengabdian kepada Tuhan dan sesama, khususnya melalui pembentukan karakter anak-anak,” katanya.
Program Penjemaatan Cerita Natal, yang menjadi bagian penting kegiatan ini, disebutnya memiliki dampak besar terhadap pembentukan karakter anak-anak. Lewat kisah-kisah Alkitab, anak-anak diajak memahami nilai kasih, kepedulian, empati, dan sikap saling menghargai. Nilai-nilai itu, kata Bupati, sangat relevan di tengah tantangan global dan perubahan sosial yang kian kompleks.

Dalam kesempatan itu pula, Bupati mengajak seluruh peserta untuk peduli terhadap lingkungan. Ia mengingatkan tentang Surat Edaran Bupati Nomor 12 Tahun 2025 yang menyerukan pengurangan sampah plastik sekali pakai. “Kita semua harus menjadi teladan bagi anak-anak dalam menjaga alam ciptaan Tuhan. Edukasi lingkungan bisa dimulai dari rumah dan gereja, sebagai bentuk tanggung jawab iman kita,” ujar Raule.
Ia menegaskan bahwa menjaga lingkungan adalah wujud kasih kepada Tuhan dan sesama. “Mengurangi penggunaan botol plastik, kantong plastik, dan kemasan sekali pakai adalah langkah kecil yang berdampak besar. Melalui pendidikan dini, kita ajarkan kepada anak-anak bahwa iman juga berarti tanggung jawab terhadap bumi,” tambahnya.
Bupati Chyntia berharap hasil Rapat Kerja Tahunan dan Penjemaatan Cerita Natal ini dapat melahirkan langkah-langkah strategis dalam pelayanan kategorial anak. Ia menginginkan semangat baru dalam menyambut perayaan Natal dengan pendekatan yang lebih konstruktif, edukatif, dan menyenangkan bagi anak-anak GMIST.
“Kita ingin anak-anak GMIST tumbuh menjadi pribadi yang mengenal Tuhan, dikasihi, dan mampu membawa terang Kristus ke mana pun mereka pergi,” tegasnya penuh harap.
Sambutan itu ditutup dengan pesan yang meneguhkan seluruh peserta untuk terus setia melayani dan membangun karakter iman anak-anak sejak dini. “Kiranya kegiatan ini membawa manfaat signifikan dalam pertumbuhan iman anak dan memperkokoh pelayanan gereja di tanah GMIST. Tuhan memberkati kita semua. Shaloom,” pungkasnya. (Jemi Lahutung)
—————————————
“Apabila ada pihak yang merasa dirugikan dan atau keberatan dengan penayangan artikel dan atau berita tersebut di atas, Anda dapat mengirimkan artikel dan atau berita berisi sanggahan dan atau koreksi, sebagaimana diatur dalam Pasal 1 ayat (11) dan (12) Undang-Undang No. 40 tahun 1999 tentang Pers. Artikel/ berita dimaksud dapat dikirimkan melalui kontak redaksi kami”.
Bergabung dengan SALURAN WA untuk dapatkan berita-berita terbaru TRIBRATA TV Online








