Gayo Lues, TRIBRATA TV
Jejak talenta muda yang lahir dari tanah sunyi, sepak bola Gayo Lues mencari kembali denyutnya.Di antara kabut yang menyelimuti pegunungan Seribu Bukit, suara peluit wasit kembali memecah keheningan.
Stadion mini di pusat Blangkejeren itu bukan sekadar lapangan hijau, melainkan ruang tempat asa lama bersemi: PSGL Seribu Bukit. Klub kebanggaan masyarakat Gayo Lues itu kini kembali menelisik potensi, mengasah bakat, dan mencari pemain handal yang bisa mengangkat nama daerah ke kancah sepak bola nasional.
PSGL bukanlah nama asing. Dua dekade lalu, klub ini pernah menjadi batu pijakan bagi sejumlah pemain yang kemudian merumput di liga besar. Namun, arus deras kompetisi dan derasnya dana klub besar membuat PSGL terpinggirkan. Kini, dengan semangat baru, mereka menyalakan obor lagi.
“Sepak bola itu bukan sekadar pertandingan. Ia adalah jati diri, kebanggaan, dan alat pemersatu,” ucap Suhardi, atau lebih akrab disapa Adi Resam, Ketua PSGL, Rabu (3/9/2025).
Di bawah langit Gayo Lues yang dingin, ia menekankan pentingnya regenerasi. Bukan hanya merekrut pemain luar, tapi menggali talenta asli dari kampung-kampung.
Pencarian bakat itu menyusuri desa-desa yang tersembunyi di balik bukit. Dari lapangan becek di pinggiran hutan, terdengar anak-anak bermain bola dengan kaki telanjang. Dari sanalah PSGL berharap menemukan kembali kejayaan: bibit muda yang lincah, keras kepala, dan bermental baja.
Namun jalan tak selalu lapang. Minimnya fasilitas, anggaran klub yang pas-pasan, dan perhatian pemerintah daerah yang setengah hati membuat PSGL harus bekerja dengan segala keterbatasan. “Seribu bukit adalah tantangan sekaligus kekuatan kami. Dari situ kami ditempa,” ujar Suhardi lagi.
Meski begitu, gairah sepak bola tetap hidup. Di setiap pertandingan persahabatan, tribun kecil stadion dipenuhi penonton. Anak-anak berdesakan di pagar kawat, para orang tua bersorak, seolah kemenangan PSGL adalah kemenangan seluruh Gayo Lues.
Kini, PSGL tengah menyiapkan barisan muda untuk menghadapi liga regional. Sorotan publik kembali tertuju: akankah Seribu Bukit kembali melahirkan pemain handal yang bisa menembus level nasional?
Di tengah riuh rendah dunia sepak bola yang kerap dikepung uang dan kepentingan, PSGL memilih jalannya sendiri. Jalan sunyi, terjal, tapi penuh keyakinan. Bahwa dari tanah sunyi, bisa lahir bintang terang. (Rauf Ariga)
—————————————
“Apabila ada pihak yang merasa dirugikan dan atau keberatan dengan penayangan artikel dan atau berita tersebut di atas, Anda dapat mengirimkan artikel dan atau berita berisi sanggahan dan atau koreksi, sebagaimana diatur dalam Pasal 1 ayat (11) dan (12) Undang-Undang No. 40 tahun 1999 tentang Pers. Artikel/ berita dimaksud dapat dikirimkan melalui kontak redaksi kami”.
Bergabung dengan SALURAN WA untuk dapatkan berita-berita terbaru TRIBRATA TV Online








