Simeulue, TRIBRATA TV
Dua jembatan di Desa Linggih Kecamatan Simeulue Timur Kabupaten Simeulue, Aceh yang pembangunannya bersumber dari dana APBA OTSUS 2021 dengan nilai Rp13 miliar ternyata belum selesai 100 persen.
Diketahui masa pengerjaannya seharusnya sudah selesai pada Desember 2021, namun hingga Kamis (30/6/2022) jembatan darurat belum juga dibongkar pelaksana proyek.
Demikian juga dibagian bawah jembatan masih berdiri tegak abutmen.
Akibat jembatan darurat dan bongkahan jembatan yang lama dibongkar, nelayan tidak bisa bekerja dikarenakan perahu mereka tidak bisa melintas sungai dibawah jembatan.
Padahal ini adalah satu satunya akses para nelayan keluar masuk menuju ke laut untuk cari nafkah mereka.
Ketua Pansus DPRD Simeulue P.Fuandri saat dikonfirmasi TRIBRATA TV Kamis 30 Juni 2022 mengatakan, akibat jembatan lama ini belum dibongkar, para nelayan tidak bisa bekerja seperti biasa. “Kita minta kepada rekanan agar segera membongkar jembatan yang lama,” ujarnya.
Ia pun minta kepada dinas terkait untuk tidak membayar pengerjaan proyek jembatan itu sebelum benar-benar 100 persen.
Menurutnya, dua jembatan ini masih ada sisa dana Rp6 miliar yang belum dibayar dinas. “Kita sudah minta pihak dinas jangan membayar sisanya sebelum pekerjaan ini selesai termasuk persoalan dengan masyarakat setempat,” katanya.
Sementara Irwan Suharmi, Ketua DPRK Simeulue yang dihubungi via WA mengaku belum mengetahui ada surat dari Kepala Desa Lingga yang melaporkan perihal jembatan itu. “Nanti kita cek ke Sekwan surat itu, kita nanti kasih kabar,” jawabnya.
Sebelumnya Kepala desa Linggi, Salmulyadi mengatakan material jembatan lama seperti leger beton masih berdiri di bawah jembatan, juga jembatan darurat yang terbuat dari batang kelapa belum dibongkar.
“Hal ini mengakibatkan akses jalan para nelayan dan petani sangat terganggu, karena warga yang menggunakan perahu bukan hanya nelayan saja, tapi petani kita juga banyak yang melalui sungai ini ke kebun mereka,”terangnya.
Selain tergganggu kerja, dampak lain juga dirasakan warga Desa Linggi jika hujan deras turun akan mengakibatkan air sungai meluap hingga ke daratan.
“Selama ini tidak pernah terjadi hal demikian, mungkin karena semua sampah yang menumpuk terhalang oleh bongkahan leger beton dan jembatan darurat yang belum dibongkar,” tambahnya.
Dikatakannya, saat ini warga menahan mesin Genset 20 kw merek Ace Generator Tokyo milik rekanan proyek jembatan karena rekanan belum menyelesaikan beberapa hal seperti sewa rumah,sewa kendaraan, ganti rugi pembongkaran pagar kantor desa, pagar Pustu dan Poskamling.
“Kalau ditotalkan ada Rp76 juta yang belum dibayarkan rekanan,” kata Kades.
Menurutnya untuk pembongkaran pagar kantor desa pihaknya sudah membuat perjanjian dengan rekanan yang diketahui Camat Simeulue Timur Ali Afwan SP.
“Kita sudah surati semua pihak untuk mengingatkan CV Era Kita Jaya agar memenuhi kewajibannya,” katanya. (m
zeb)
—————————————
“Apabila ada pihak yang merasa dirugikan dan atau keberatan dengan penayangan artikel dan atau berita tersebut di atas, Anda dapat mengirimkan artikel dan atau berita berisi sanggahan dan atau koreksi, sebagaimana diatur dalam Pasal 1 ayat (11) dan (12) Undang-Undang No. 40 tahun 1999 tentang Pers. Artikel/ berita dimaksud dapat dikirimkan melalui kontak redaksi kami”.
Bergabung dengan SALURAN WA untuk dapatkan berita-berita terbaru TRIBRATA TV Online









