Kisah Tragis Kematian Raja Pangggoppis

- Editorial Team

Kamis, 18 September 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Dahrun Pasaribu

Dahrun Pasaribu

Raja Pangggoppis merupakan Raja Negeri Hualu meninggal dunia secara tragis dengan cara digoreng hidup-hidup di dalam kuali belanga saruam oleh Resimen Dabuar tentara Pidari Monjo pada tahun 1836 di Sipogu.

Dalam perang Negeri Hualu melawan Pidari Monjo, Raja Pangggoppis tidak dicatat dalam sejarah karena bukan melawan Belanda.

Raja Pangggoppis lahir di Natinggir pada tahun 1777 dan meninggal dalam usia 59 tahun.

Raja Pangggoppis melakukan perang terhadap Pidari Monjo karena sewenang-wenang hendak menghapus budaya dan tradisi rakyat Negeri Hualu ketika itu.

Setelah tewas dibunuh oleh Resimen Dabuar tentara Pidari Monjo yang didatangkan dari Bandar Pulo untuk melawan Raja Pangggoppis.

Jenazah Raja Pangggoppis dimakamkan di Sipogu sekarang berada di wilayah Desa Napajoring Kecamatan Nassau Kabupaten Toba.

Perang yang menewaskan Raja Pangggoppis merupakan perang antara rakyat Hualu melawan Pidari Monjo. Raja Pangggoppis memimpin perang hanya satu tahun terjadi pada 1835 hingga 1836.

BACA JUGA  75 KK Warga Desa Siantar Narumonda V Kabupaten Toba Terima BLT Tahap Awal

Penjajahan Pidari Monjo terhadap wilayah tersebut membuat rakyat Hualu merasa tertekan kemudian melakukan perlawanan.
Raja Pangggoppis memang terkenal anti penindasan dan sangat menghargai kemerdekaan.

Raja Pangggoppis sebagai pemimpin tertinggi di Negeri hualu menolak keras upaya misi Pidari Monjo yang berupaya menyebarkan paham asing di wilayahnya. Sikap tegas ini mendorong Raja Pangggoppis untuk mengusir para misionaris tersebut.

Melihat hal tersebut, Pidari Monjo mendatangkan Resimen Dabuar dari Bandar Pulo dan tiba di Parhondalian pada tahun 1835 untuk mengepung Negeri Hualu.

Raja Pangggoppis merespons dengan menghimpun rakyat Negeri Hualu untuk melancarkan perlawanan terhadap pasukan Pidari Monjo. Namun, sayangnya, Raja Pangggoppis berhasil ditangkap Resimen Dabuar tentara Pidari Monjo yang kemudian membunuhnya secara keji.
Perang melawan tentara Pidari Monjo cukup sengit sehingga ada wilayah di Sipogu dinamai hadabuan ni musu (tempat jatuhnya musuh) bahagian dari alur sejarah peperangan tersebut.

BACA JUGA  Hadiri Pelantikan Raja Siri-Sori Islam, Kapolda Maluku: Negeri Adat Jadi Pilar Strategis Menjaga Stabilitas

Raja Pangggoppis Nabadia Sitindi Dolok Sitatap Tao Raja di Hualu meninggalkan sejarah kelam terhadap keturunannya. Perang tersebut dinamai Porang Mangalo Monjo diceritakan secara lisan dari generasi ke generasi sekaligus menjadi pemersatu keturunan Raja Pangggoppis yang kini Berada diberbagai daerah Indonesia.

Adapun peninggalan Raja Pangggoppis di Sipogu Naliok Miksu Parhondalian Sidauk-dauk dan atara yang masih bisa dilihat diantarnya pohon durian, Langsat, kopi kayu damar.

Keturunan Raja Pangggoppis yang berkuasa di Negeri Hualu selanjutnya adalah Herman Pasaribu yang setelah meninggal dunia dilanjutkan putranya bernama Peter Abdullah Pasaribu. Keduanya diangkat Sultan Kualuh menjadi perwakilan di Negeri Hualu Huta Sipogu hingga Indonesia merdeka menghapus kekuasaan Raja.

BACA JUGA  Tolak Tutup PT. TPL, Serikat Buruh Datangi Kantor Bupati Toba

Keterangan:
Pidari Monjo adalah sebutan terhadap tentara Paderi Imam Bonjol.
Imam Bonjol mendapat penolakan ditanah Batak karena hendak menghapus budaya dan tradisi masyarakat Batak yang mereka anggap kafir dan memaksakan ideologinya untuk diikuti.

Penulis: Dahrun Pasaribu generasi keempat Raja Pangggoppis.

—————————————

Apabila ada pihak yang merasa dirugikan dan atau keberatan dengan penayangan artikel dan atau berita tersebut di atas, Anda dapat mengirimkan artikel dan atau berita berisi sanggahan dan atau koreksi, sebagaimana diatur dalam Pasal 1 ayat (11) dan (12) Undang-Undang No. 40 tahun 1999 tentang Pers. Artikel/ berita dimaksud dapat dikirimkan melalui kontak redaksi kami”.

Bergabung dengan SALURAN WA untuk dapatkan berita-berita terbaru TRIBRATA TV Online

Berita Lainnya

Mengawal Kritik dengan Nurani, Menghargai Pengabdian BPBD di Tengah Ujian Bencana
Saat Kertas Administrasi Kalah Oleh Perut Lapar, Membaca Makna di Balik Senyum Warga Aceh Tamiang
Jalanan Panas, Ekonomi Tertekan: Siapa Bermain di Balik Gelombang Demonstrasi?”
Kemanusiaan yang Kalah oleh Kertas, Mengapa Dana Banjir Aceh Tamiang Macet di Labirin Birokrasi Jakarta?
Mencuci Uang di Negeri Sendiri
JKA di Persimpangan Jalan, Kemenangan Aspirasi Publik atau Sekadar Penundaan Krisis Anggaran?
JKA di Persimpangan Jalan, Antara Efisiensi Anggaran dan Pengkhianatan Mandat Rakyat
Refleksi Peringatan Hari Buruh Nasional Dalam Konteks Profesi Jurnalisme
Tag :

Berita Lainnya

Senin, 20 Juli 2026 - 09:41 WIB

Mengawal Kritik dengan Nurani, Menghargai Pengabdian BPBD di Tengah Ujian Bencana

Jumat, 26 Juni 2026 - 09:42 WIB

Saat Kertas Administrasi Kalah Oleh Perut Lapar, Membaca Makna di Balik Senyum Warga Aceh Tamiang

Sabtu, 13 Juni 2026 - 08:24 WIB

Jalanan Panas, Ekonomi Tertekan: Siapa Bermain di Balik Gelombang Demonstrasi?”

Rabu, 10 Juni 2026 - 07:10 WIB

Kemanusiaan yang Kalah oleh Kertas, Mengapa Dana Banjir Aceh Tamiang Macet di Labirin Birokrasi Jakarta?

Selasa, 9 Juni 2026 - 14:33 WIB

Mencuci Uang di Negeri Sendiri

Berita Terbaru

Sumatera Utara

Polres Tebing Tinggi Sosialisasikan Tertib Berlalu Lintas di SMKN 1

Selasa, 21 Jul 2026 - 09:19 WIB