Sleman, TRIBRATA TV
Aktivitas vulkanik Gunung Merapi yang berada di perbatasan Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah kembali meningkat. Pada periode pengamatan Senin (16/3/2026) pukul 00.00–24.00 WIB, tercatat dua kali awan panas guguran meluncur ke arah barat daya.
Berdasarkan laporan resmi Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Yogyakarta, awan panas guguran tersebut bergerak ke hulu Kali Krasak dengan jarak luncur maksimum mencapai 1.600 meter.
Selain itu, asap kawah teramati berwarna putih dengan tekanan lemah hingga sedang dan tinggi kolom mencapai sekitar 500 meter di atas puncak kawah. Gunung tampak jelas hingga kabut level 0–III.
BPPTKG mencatat aktivitas guguran lava masih mendominasi. Dalam periode pengamatan tersebut terjadi 176 kali guguran dengan amplitudo 2–41 mm dan durasi 29,6–182,25 detik.
Dari jumlah tersebut, sebanyak 42 guguran lava teramati mengarah ke Kali Bebeng, Kali Krasak, serta Kali Sat/Putih dengan jarak luncur maksimum mencapai 2.000 meter.
Aktivitas kegempaan juga cukup tinggi dengan 82 kali gempa hybrid atau fase banyak. Gempa tersebut memiliki amplitudo 2–36 mm dengan durasi 7,65–59,72 detik.
Sementara itu, kondisi cuaca di sekitar gunung tercatat cerah hingga mendung dengan arah angin tenang ke barat, utara, dan timur. Suhu udara berkisar 17,2–27 derajat Celsius, kelembapan 68–100 persen, serta curah hujan tercatat 4 mm per hari.
BPPTKG menyatakan status aktivitas Merapi masih berada pada Level III atau Siaga. Suplai magma dari dalam gunung masih berlangsung sehingga berpotensi memicu awan panas guguran di dalam zona potensi bahaya.
Masyarakat diimbau tidak melakukan aktivitas di daerah berisiko, terutama di sektor selatan hingga barat daya meliputi Sungai Boyong maksimal 5 kilometer serta Sungai Bedog, Krasak, dan Bebeng maksimal 7 kilometer.
Sementara itu, sektor tenggara meliputi Sungai Woro maksimal 3 kilometer dan Sungai Gendol maksimal 5 kilometer dari puncak.
BPPTKG juga mengingatkan potensi lontaran material vulkanik hingga radius 3 kilometer dari puncak jika terjadi letusan eksplosif. Selain itu, masyarakat diminta mewaspadai potensi lahar dan awan panas guguran, terutama saat terjadi hujan di sekitar Merapi.
Warga juga diimbau mengantisipasi dampak abu vulkanik serta terus memantau informasi resmi dari BPPTKG dan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG). Jika terjadi perubahan aktivitas yang signifikan, status aktivitas gunung akan segera dievaluasi kembali.(Didik)
—————————————
“Apabila ada pihak yang merasa dirugikan dan atau keberatan dengan penayangan artikel dan atau berita tersebut di atas, Anda dapat mengirimkan artikel dan atau berita berisi sanggahan dan atau koreksi, sebagaimana diatur dalam Pasal 1 ayat (11) dan (12) Undang-Undang No. 40 tahun 1999 tentang Pers. Artikel/ berita dimaksud dapat dikirimkan melalui kontak redaksi kami”.
Bergabung dengan SALURAN WA untuk dapatkan berita-berita terbaru TRIBRATA TV Online









