Manado, TRIBRATA TV
Harapan besar petani Kepulauan Siau Tagulandang Biaro (Sitaro) akhirnya berbuah nyata. Menteri Pertanian RI, Andi Amran Sulaiman, resmi mengumumkan dukungan besar bagi pengembangan komoditas pala di Sitaro, lengkap dengan pabrik pengolahan modern yang akan dibangun di daerah tersebut.
Langkah ini menjadi jawaban atas perjuangan panjang Bupati Sitaro, Chyntia Ingrid Kalangit, S.KM, dan Wakil Bupati, Hieronimus Makainas, SE., M.M, lewat program “Cinta Hero” yang mereka gagas sejak awal kepemimpinan. Program ini menekankan komitmen menjadikan sektor pertanian sebagai pilar utama kesejahteraan rakyat.
Kisah perjuangan itu bermula pada 15 Mei 2025, ketika Bupati Chyntia melakukan kunjungan kerja ke Kementerian Pertanian RI. Dalam pertemuan dengan Menteri Pertanian, ia memaparkan potensi perkebunan di Sitaro, dengan menyoroti pala sebagai komoditas unggulan yang telah lama menjadi identitas daerah.

Paparan itu berbuah manis. Sang Menteri menyambut baik gagasan tersebut, bahkan menjanjikan dukungan revitalisasi tanaman pala, insentif bagi petani, hingga program hilirisasi. “Kami melihat Sitaro punya peluang besar, dan kami akan mendukung penuh agar pala tidak hanya dikenal di dalam negeri, tetapi juga mendunia,” ujar Amran kala itu.
Tidak berhenti di situ, Bupati Chyntia kembali ke Kementerian Pertanian pada 14 Agustus 2025 untuk menindaklanjuti hasil pertemuan sebelumnya. Kali ini ia bertemu langsung dengan Direktur Jenderal Perkebunan. Keseriusan Pemkab Sitaro memastikan bahwa janji bukan sekadar retorika, melainkan langkah nyata menuju perubahan.
Puncaknya, pada 12 September 2025, dalam kunjungan kerja Menteri Pertanian ke Manado, kabar gembira itu akhirnya diumumkan secara resmi. Sitaro mendapat alokasi tambahan biaya (ABT) tahun 2026 dan 2027 berupa revitalisasi tanaman pala seluas 2.000 hektare serta pembangunan pabrik pengolahan pala.
Tak hanya itu, Sitaro juga masuk dalam program hilirisasi pala yang memungkinkan ekspor langsung dari Pulau Siau. Artinya, komoditas pala Sitaro tidak lagi hanya dikenal sebagai rempah mentah, tetapi bisa hadir sebagai produk olahan bernilai tinggi di pasar global.
Wakil Bupati Hieronimus Makainas yang hadir langsung dalam acara di Manado menegaskan bahwa bantuan ini akan menjadi “game changer” bagi petani. “Selama ini kita menjual pala dalam bentuk bahan mentah. Dengan adanya pabrik pengolahan, kita bisa menghasilkan produk turunan yang lebih bernilai, dari minyak pala hingga rempah siap ekspor,” katanya, Jumat (12/9/2025).
Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Sitaro, Richard Sasombo, menambahkan, keberadaan pabrik akan memutus ketergantungan pada pasar luar daerah. “Petani tidak perlu lagi mengirim bahan mentah dengan harga rendah. Semua bisa diproses di sini, memberikan efek domino bagi perekonomian lokal,” ujarnya.

Masyarakat pun mulai menyambut dengan penuh optimisme. Banyak yang percaya, kejayaan pala yang sejak lama melekat pada identitas Siau akan kembali bergema di tingkat nasional maupun internasional. “Puji Tuhan, perjuangan ibu bupati sudah terjawab. Kini tinggal bagaimana kita mengawal agar program ini berjalan sesuai harapan,” ungkap seorang petani pala di Siau.
Dukungan juga datang dari tingkat provinsi. Wakil Gubernur Sulut, Victor Mailangkay, menilai langkah Kementerian Pertanian ini sebagai bukti nyata keberpihakan pusat terhadap daerah. “Kami akan mengawal bersama Pemkab Sitaro agar bantuan ini benar-benar sampai ke masyarakat,” ujarnya.
Di sisi lain, Mentan Andi Amran Sulaiman menekankan pentingnya tanggung jawab dalam mengelola program besar ini. “Pesan saya jelas, kelola baik-baik bantuan yang diberikan. Kami tidak ingin program berhenti di angka, tapi harus sampai ke produksi nyata dan kesejahteraan rakyat,” tegasnya.
Secara keseluruhan, bantuan ke Sulut sendiri mencapai Rp139 miliar untuk tiga komoditas unggulan. Selain pala, ada juga bibit kelapa untuk 24.500 hektare serta kakao untuk 15.000 hektare lahan. Namun perhatian khusus pada pala di Sitaro menjadi catatan tersendiri karena rempah ini sudah lama menjadi simbol daerah.
Bupati Chyntia, yang baru tujuh bulan memimpin, menyampaikan rasa syukurnya atas dukungan tersebut. Ia meminta masyarakat memberi waktu dan kepercayaan untuk bekerja. “Kami akan terus berjuang. Semua ini bukan untuk kami pribadi, melainkan untuk kesejahteraan rakyat Sitaro,” tuturnya.
Lebih jauh, ia menegaskan bahwa program “Cinta Hero” akan terus dijalankan dengan konsistensi. “Kami ingin setiap kebijakan bisa dirasakan langsung oleh masyarakat, khususnya para petani yang selama ini menjadi tulang punggung ekonomi daerah,” tambahnya.
Kini, bola ada di tangan Pemkab Sitaro dan masyarakat. Dengan adanya program besar ini, diperlukan sinergi kuat agar bantuan benar-benar berdampak. Keberhasilan bukan hanya soal membangun pabrik atau menanam bibit, melainkan soal keberlanjutan, kualitas, dan daya saing di pasar global.
Harapan pun mengalir deras. Banyak yang percaya, kejayaan pala Nusantara bisa kembali lahir dari Sitaro. Dari pulau kecil di ujung utara Sulawesi ini, aroma rempah yang dulu melegenda bisa kembali mewarnai peta perdagangan dunia.
Seperti kata Mentan, “Pala adalah emas hijau. Jika dikelola dengan baik, maka bukan hanya petani yang sejahtera, tapi daerah akan tumbuh menjadi pusat kejayaan baru.” Dan kini, Sitaro siap mengambil peran itu. (Jemi Lahutung)
—————————————
“Apabila ada pihak yang merasa dirugikan dan atau keberatan dengan penayangan artikel dan atau berita tersebut di atas, Anda dapat mengirimkan artikel dan atau berita berisi sanggahan dan atau koreksi, sebagaimana diatur dalam Pasal 1 ayat (11) dan (12) Undang-Undang No. 40 tahun 1999 tentang Pers. Artikel/ berita dimaksud dapat dikirimkan melalui kontak redaksi kami”.
Bergabung dengan SALURAN WA untuk dapatkan berita-berita terbaru TRIBRATA TV Online








