Sitaro, TRIBRATA TV
Di tengah riuhnya tahun ajaran baru, Pemerintah Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang Biaro (Sitaro) menandai langkah baru dalam penguatan institusi keluarga dengan meluncurkan Gerakan Ayah Teladan Indonesia (GATI), Jumat (11/7/2025). Acara yang berlangsung di halaman Kantor Bupati Sitaro ini menjadi momentum penting dalam upaya membangun peran ayah sebagai pilar utama dalam pengasuhan anak.
Berbeda dari pendekatan program keluarga sebelumnya, peluncuran GATI di Sitaro ditandai dengan kegiatan simbolis “Hari Pertama Sekolah Bersama Ayah.” Para ayah diundang untuk mengantar anak-anak mereka ke sekolah pada hari pertama masuk.
“Hal yang paling ditakuti waktu hari pertama sekolah itu mo mengenal lingkungan sekolah dan teman-teman baru,” ujar Bupati Sitaro Chyntia Ingrid Kalangit, SKM. “Dengan hadirnya orang tua (ayah), tentunya memberikan rasa aman dan nyaman for anak bersekolah.”
Kegiatan ini sejalan dengan visi dan misi kepemimpinan Bupati Chyntia Ingrid Kalangit dan Wakil Bupati Heronimus Makainas yang menekankan pada pembangunan manusia seutuhnya, termasuk dari lingkungan terkecil yaitu keluarga. Gerakan ini menjadi langkah strategis dalam mewujudkan masyarakat Sitaro yang “Maju, Sejahtera, Damai dan Dahsyat.”
Dari Majalengka ke Sitaro, semangat GATI terus merambah berbagai daerah. Program ini pertama kali diluncurkan oleh Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga, Wihaji, di Gedung Islamic Center Kabupaten Majalengka, Jawa Barat, bertepatan dengan peringatan Hari Kartini, 21 April 2025. Sebuah simbol bahwa kesetaraan dalam pengasuhan tidak hanya milik ibu, tetapi ayah pun wajib hadir.
Menurut Menteri Wihaji, Gerakan Ayah Teladan Indonesia merupakan bentuk emansipasi baru dalam konteks keluarga modern. “Pengasuhan anak yang efektif memerlukan partisipasi aktif kedua orang tua,” ungkapnya. “Sayangnya, data menunjukkan masih banyak anak yang tumbuh tanpa kehadiran ayah.”
Data UNICEF 2021 mengungkapkan bahwa sekitar 20,9% anak di Indonesia tidak memiliki figur ayah dalam kehidupan mereka. Penyebabnya bisa beragam, mulai dari perceraian, kematian, hingga pekerjaan yang menuntut ayah jauh dari keluarga. Ironisnya, data BPS 2021 mencatat hanya 37,17% anak usia 0–5 tahun yang dibesarkan oleh kedua orang tua secara bersamaan.
Melalui GATI, pemerintah ingin membalikkan tren ini. Tidak hanya dengan narasi, tetapi juga lewat program nyata seperti layanan konseling melalui platform SiapNikah dan Satyagatra, pelibatan komunitas melalui Konsorsium Komunitas Penggiat Ayah Teladan Indonesia (Kompak Tenan), serta penguatan peran desa melalui Dekat (Desa/Kelurahan Ayah Teladan) yang berkolaborasi dengan Kampung KB.
Di Sitaro, pendekatan inovatif ini terasa membumi. Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Kabupaten Sitaro, Yulita R. Salindeho, menyebut bahwa peluncuran GATI bukan sekadar seremoni. “Kami ingin membangun budaya baru, di mana anak-anak tahu bahwa ayah mereka adalah pelindung, pendidik, dan teladan,” katanya.
Momentum “Hari Pertama Sekolah Bersama Ayah” berhasil memantik antusiasme masyarakat. Di beberapa sekolah, terlihat deretan ayah yang mendampingi anak mereka dengan bangga, bahkan ada yang mengenakan seragam kerja demi menunjukkan komitmen.
Sosiolog dari Universitas Sam Ratulangi, Dr. Henny Lantong, menilai bahwa langkah Sitaro bisa menjadi model nasional. “Ketika pemerintah daerah memutuskan untuk tidak hanya fokus pada infrastruktur tapi juga pada kualitas pengasuhan, maka masa depan anak-anak di daerah itu lebih terjamin,” katanya.
Tidak kalah penting, GATI juga mencakup program Makan Bergizi untuk Ibu Hamil dan Menyusui, yang kembali menegaskan bahwa keterlibatan ayah juga berdampak pada pemenuhan kebutuhan gizi dan kesehatan seluruh anggota keluarga.
Langkah Kabupaten Sitaro ini menunjukkan bahwa pembangunan keluarga bukan hanya urusan ibu atau perempuan. Ketika ayah hadir secara fisik, emosional, dan spiritual dalam kehidupan anak, maka keluarga menjadi lebih kuat.
Sebagaimana disampaikan Bupati Chyntia dalam penutupan acara, “Semangat papa-papa hari Senin 14 Juli 2025, torang baku dapa di sekolah.” Kalimat sederhana itu mengandung pesan besar: perubahan dimulai dari rumah, dari peran ayah yang kembali ke pangkuan anak-anaknya. (Jemi Lahutung)
—————————————
“Apabila ada pihak yang merasa dirugikan dan atau keberatan dengan penayangan artikel dan atau berita tersebut di atas, Anda dapat mengirimkan artikel dan atau berita berisi sanggahan dan atau koreksi, sebagaimana diatur dalam Pasal 1 ayat (11) dan (12) Undang-Undang No. 40 tahun 1999 tentang Pers. Artikel/ berita dimaksud dapat dikirimkan melalui kontak redaksi kami”.
Bergabung dengan SALURAN WA untuk dapatkan berita-berita terbaru TRIBRATA TV Online









