Sitaro, TRIBRATA TV
Curah hujan ekstrem yang mengguyur Kepulauan Sitaro dalam beberapa bulan terakhir akhirnya memicu bencana tanah longsor di sejumlah wilayah. Salah satu daerah yang terdampak cukup parah adalah Kampung Mulengen, Kecamatan Tagulandang. Menyikapi situasi ini, Wakil Bupati Kepulauan Sitaro, Heronimus Makainas, SE, turun langsung meninjau lokasi bencana pada Minggu, 27 April 2025.
Dalam kunjungannya, Heronimus tak hanya melakukan pemantauan, tetapi juga ikut berbaur bersama masyarakat. Dengan pakaian sederhana, ia membantu membersihkan endapan tanah yang menutup jalan utama dan merusak beberapa rumah warga.
“Ini adalah bentuk kepedulian kami. Pemerintah hadir di tengah masyarakat, bukan hanya saat peresmian proyek, tetapi juga dalam masa-masa sulit seperti ini,” ungkap Heronimus di sela-sela kegiatannya.
Kerusakan yang terjadi cukup memprihatinkan. Sejumlah rumah mengalami kerusakan berat hingga harus dikosongkan sementara. Jalan penghubung utama di Kampung Mulengen pun lumpuh, menghambat aktivitas harian masyarakat. Warga berharap ada penanganan cepat agar akses kembali normal dan bantuan untuk pemulihan segera disalurkan.
Dalam kesempatan itu, Heronimus juga berdialog langsung dengan warga terdampak, mendengarkan keluhan mereka, dan mencatat kebutuhan mendesak yang diperlukan. “Kami butuh perhatian serius, terutama untuk pemulihan rumah dan fasilitas umum,” ujar salah satu warga, Markus Lumowa, yang rumahnya rusak parah akibat longsor.
Pemerintah daerah, kata Heronimus, akan segera mengoordinasikan bantuan darurat, termasuk penyediaan alat berat untuk mempercepat pembersihan material longsor. Ia juga menegaskan pentingnya mitigasi bencana di masa depan. “Curah hujan tinggi akan terus menjadi ancaman, karena itu kita harus memperkuat kesiapsiagaan,” tambahnya.
Keterlibatan langsung Wakil Bupati ini mendapat apresiasi dari warga setempat. Mereka merasa lebih diperhatikan dan berharap langkah konkret segera diambil. “Kehadiran beliau memberikan semangat bagi kami. Semoga tindak lanjutnya cepat dan nyata,” ujar Elly Makawimbang, warga lainnya.
Bencana di Mulengen menjadi pengingat bahwa perubahan iklim dan fenomena cuaca ekstrem menuntut keseriusan semua pihak, tidak hanya pemerintah, tetapi juga masyarakat, untuk membangun sistem peringatan dini dan memperkuat ketahanan lingkungan. (Jemi Lahutung)
—————————————
“Apabila ada pihak yang merasa dirugikan dan atau keberatan dengan penayangan artikel dan atau berita tersebut di atas, Anda dapat mengirimkan artikel dan atau berita berisi sanggahan dan atau koreksi, sebagaimana diatur dalam Pasal 1 ayat (11) dan (12) Undang-Undang No. 40 tahun 1999 tentang Pers. Artikel/ berita dimaksud dapat dikirimkan melalui kontak redaksi kami”.
Bergabung dengan SALURAN WA untuk dapatkan berita-berita terbaru TRIBRATA TV Online









