Timor Tengah Selatan, TRIBRATA TV
Gereja dan Rumah Doa diminta untuk ikut berperan dalam proses pembangunan di Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS). Bukan saja membangun gedung megah, tetapi juga harus membangun sesama yang tergolong kelompok hina atau kelompok miskin, pertanian dan kelompok lainnya.
Demikian ditegaskan Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT), Viktor Bungtilu Laiskodat saat meresmikan Rumah Doa Yayasan Utus Tetus Soe, pada Jumat (24/9) saat HUT GKR ke 56
Menurutnya, Gereja dan rumah doa harus dibangun dengan visi damai sejahtera dan misi membebaskan orang hina. “Sebagai umat yang percaya pada Tuhan, kita sedang diberikan tugas untuk membantu sesama kita yang tidak memiliki kemampuan seperti rumah tidak layak huni. Gereja dan rumah doa merupakan input bagi pengikut Yesus,” katanya.
Para kelompok doa menurut Gubernur harus mengisi diri sendiri untuk menjadi kemampuan dan melayani diri sendiri serta melayani orang lain. Oleh karena itu, Rumah Doa dan Gereja harus jadi kekuatan bagi sesama.
“Rumah Doa ini memiliki banyak mukjizat. Gereja dan lembaga doa harus ikut berperan dalam merumuskan pembangunan terutama bagi kelompok hina di TTS. Membangun rumah ibadah baik dan lebih baik membangun rumah sesama kita yang masih tidak layak huni,” ucapnya.
Ia juga meminta kepada Bupati TTS dan kelompok doa untuk mengelompokkan warga TTS yang masih tergolong miskin agar diperhatikan oleh Gereja dan Kelompok Doa.
Sementara Ketua Yayasan Utus Tetus Soe, Petronela V Manafe Fallo mengatakan, rumah doa merupakan kerinduan kelompok doa di Kabupaten TTS.
Petronela menguraikan, pada tahun 1986, Bapak Piet Fallo (Alm), selaku Sekretaris Yayasan Utus Tetus Soe, pada waktu itu istrinya Yohana Fallo Nomleni menjadi pembimbing bagi ketua-ketua Persekutuan Doa mendapat petunjuk Tuhan untuk mulai berdoa agar persekutuan doa dapat memiliki sebuah gedung pertemuan dan kantor untuk operasional pelayanan.
Sebab, jumlah Persekutuan Doa yang tumbuh dari gerakan rohani pada tahun 1965 bertambah banyak dan ruang pertemuan di rumah keluarga Fallo tidak dapat menampung, bila diadakan kegiatan rutin bagi ketua-ketua Persekutuan Doa pada tanggal 26 setiap bulan.
Atas ijin dari Pdt. I ME Daniel (alm) selaku Ketua Majelis Jemaat GMIT Maranatha Soe, Petronela mengatakan, kegiatan persekutuan doa dipusatkan sementara di Gereja GMIT Maranatha Soe dan berlangsung dua kali sebulan sepanjang tahun sampai sekarang.
Pada tahun 2012, Petronela menjelaskan salah satu pokok doa mengenai pembangunan gedung persekutuan doa ini telah menjadi pokok doa utama dalam pembinaan Persekutuan Doa setiap 2 dan 26 bulan berjalan. Dengan demikian, hingga saat ini Persekutuan Doa yang tergabung di Yayasan yang dipimpinnya itu mencapai 100 kelompok doa dengan anggota 15.000 orang.
Pada bulan Juni 2013, Eklopas Tefa, seorang hamba Tuhan yang merupakan ketua persekutuan doa yang menjadi bagian dari Yayasan Utus mendapat pernyataan Tuhan untuk membangun gedung persekutuan Doa ini sehingga ia menyumbangkan 60 sak semen sebagai taburan awal untuk pembangunan ini.
“Pada peringatan HUT Gerakan Kebangunan Rohani ke 45 tahun 2013, hamba-hamba Tuhan dari Jaringan Doa Nasional (JDN) Jakarta dibawah pimpinan Pdt. Priest Depari dan Ibu Duesy, memberikan dukungan doa dan semangat kepada Pembina Yayasan UTUS Yohana Fallo Nomleni dan Pengurus Yayasan Utus agar yayasan ini mulai berani bertindak dengan iman untuk membangun Gedung/Rumah Doa,” katanya.
Tim IDN juga memberikan janji iman dan benih sulung bagi pembangunan ini diantaranya Ibu Dolly Sugimin memberikan tanda kasih untuk modal awal pembangunan yang diresmikan oleh Gubernur NTT.
“Tahun 2018, keluarga Fallo menyerahkan sebidang tanah untuk pembangunan rumah doa ini. Tahun 2018 oleh anugerah Tuhan Yesus tim yang menamakan diri Group Voluntary mulai bergerak dan mendukung kami,” ucapnya.
Saat pekerjaan berlangsung kata Petronela, Karim Husin Origgo dan Christian Group mengirimkan tukang dan mandor dari Pulau Jawa termasuk dengan bahan untuk membangun rumah doa ini dengan desain yang didapat ketika berdoa di Pulau Patmos.
Atas dukungan doa yang tak pernah berhenti, akhirnya hanya menerima kunci pintu bangunan ini. Sebagai hadiah dari Tuhan Yesus tahun 2020 bangunan tersebut selesai dibangun namun belum bisa diresmikan karena pandemi covid 19 sehingga baru diresmikan tanggal 24 September 2021. (Yor Tefa)
—————————————
“Apabila ada pihak yang merasa dirugikan dan atau keberatan dengan penayangan artikel dan atau berita tersebut di atas, Anda dapat mengirimkan artikel dan atau berita berisi sanggahan dan atau koreksi, sebagaimana diatur dalam Pasal 1 ayat (11) dan (12) Undang-Undang No. 40 tahun 1999 tentang Pers. Artikel/ berita dimaksud dapat dikirimkan melalui kontak redaksi kami”.
Bergabung dengan SALURAN WA untuk dapatkan berita-berita terbaru TRIBRATA TV Online








