Pematang Siantar, TRIBRATA TV
Viral di media sosial curhat istri Kasat Reskrim Polsek Bintuni, Papua Barat Iptu Tomi Marbun yang hilang tanpa jejak saat menjalani tugas negara.
Misteri hilangnya Iptu Tomi Marbun tentu mengudang tanda tanya pihak keluarga. Keluarga mencium banyak kejanggalan dalam hilangnya dan proses pencarian Iptu Tomi Marbun asal Kota Pematang Siantar tersebut.
Hal ini diunggah oleh istri Iptu Tomi Marbun dalam akun Instagramnya @rubrtarigan.
Ia pun menceritakan kronologi suaminya Iptu Tomi Marbun yang hilang (18/12/2024) lalu, hingga proses pencarian yang dianggap janggal.
Halo teman2 sosmed semua. Banyak sekali teman2 yg bertanya2 apa yg terjadi pada keluarga kecil kami. Kali sy akan buka terang2an apa yg sy alami dan rasakan sampai sejauh ini. Dari suami sy izin tugas,pergi tugas, dinyatakan hilang, proses pencarian,dan sampai sekarang tanpa kejelasan.
Sy bukan istri dan ibu yg baik,tapi sampai terakhir titik darah sy, untuk keluarga kecil sy. Sy orang Batak yg lahir di Papua,jd sy anti sifatnya berbohong,cuci tangan apalagi melebih2kn cerita. Jd yg akan sy ceritakan ini semua nyata adanya yg sy alami,ada saksi mata yg melihat dan mendengar, dan bukti yg dikirim langsung oleh pihak terkait.
Singkat cerita pada tanggal 11 Desember kami sekeluarga sampai di Bintuni. Hari2 setelahnya suami sy sibuk mengurusi persiapan “Oprasi Senyap” ini. Sempat beberapa kali suami sy menanyakan pendapat sy tentang oprasi kkb ini. Singkat cerita ada waktu dimana kami makan siang dan sambil sy suapi tiba2 suami sy celetuk “ini di desak2 trus suruh naik (berangkat ke hutan) sebelum TR keluar karna itu kejar Kombes”
Disela2 kesibukannya mempersiapkan oprasi ini,suami sy masih menyempatkan waktu untuk mendekor sendiri rumah kami karna kami mau merayakan natal dan ini natal pertama kali anak kami shem. Dan kami berencana mau foto pake baju santai 1 keluarga dan suami sy janji bakal upload foto itu di ig nya. Tapi sampai sekarang suami sy belum kembali.
Tiba hari dimana suami sy berangkat Oprasi (15 Desember 2024) pada siang hari suami sy sempat mengajak sy bicara 4 mata tapi kami belum sempat ngobrol karna sy posisi sdh di dalam mobil mau pergi beli makan siang. Sore harinya suami sy meminta sy untuk tf sejumlah uang untuk trasport oprasi mereka trus sempat sy protes knp pake uang pribadi untuk tugas,tapi suami sy “itu lagi, abis yg desak2 tidak kasi modal”. Setelahnya malam hari sekitar jam 7an kami sempat berdoa bersama mertua sy lewat vc. Setelah berdoa sy lihat air mata suami sy keluar jd sy tanya “papi takut?” tapi suami sy cuma senyum2 bilang “tidak”
Setelah itu suami sy berpamitan dan pergi titik kumpul.
Pada tanggal 18 Desember 2024 sekitar jam 2 siang,bapak dan ibu wakapolres (izin Abang dan mbak 🙏) datang kerumah sy dan mengabarkan longboat yg dipakai suami sy berbalik, dan sy langsung mengabarkan kepada keluarga bahwa longboat suami sy terbalik.
Malam harinya sy dikabarkan oleh bapak Kapolres bahwasanya suami sy tergelincir sendiri dari longboat waktu duduk dibagian belakang longboat. Dan sampai malam hari yg disampaikan ke keluarga, tim gabungan suami sy yg berisi 50 orang belum ada yg bisa di hubungi.
Hal pertama yg sy pikirkan pd saat itu adalah dron dan helikopter untuk pertolongan pertama yg paling cepat karna kondisi Medan dan jarak tempuh ke lokasi yg jauh.
Lanjut sy berkoordinasi dgn teman suami sy untuk sewa heli swasta,namun tidak tau kenapa tiba2 heli yg sy sewa di cancel yg awalnya sy tidak tau alasan kenapa heli di cancel . Akhirnya keluarga dapat koneksi untuk sewa pesawat kecil untuk tgl 19 Desember untuk pencarian lewat udara.
Pada tgl 19,penjemputan tim gabungan Oprasi senyap dan pencarian suami sy baru dimulai . Tim pencarian yg di pimpin langsung oleh Bapak Kapolres dan beranggotakan anggota Polri,TNI dan 2 anggota basarnas menggunakan 3 longboat.
Tgl 19 juga sy ikut pencarian lewat udara menggunakan pesawat keluarga sewa dan dari udara sy sampai ke tkp tidak ada melihat tanda2 orang tenggelam. Yg sy lihat adalah 3 longboat yg menuju tkp,tim gabungan suami sy yg sedang menunggu penjemputan.
Pada tgl 19 juga sy baru diinfokan via tlpon oleh istri pju bahwa beli yg sy sewa diduga di cancel oleh bapak kapolres karna biaya operasional. Disini sy sempat kecewa karna sy tidak minta dibayarkan , tapi sy hanya berusaha mencari jalan untuk pertolongan nyawa suami sy.
Pada tanggal 20 Desember 2024, Helikopter kedinasan tiba,bersama dgn helikopter yg disewa keluarga menyusuri sungai sepanjang tkp sampai ke muara tapi tidak ada juga tanda2 hanyut yg ditemukan. Pada hari itu sy mendapat tlpn dari bapak kapolres dan disambungkan kepada salah satu anggota suami sy dan juga sahabat suami sy pak kanit Buser ( Roland Manggaprow) yg waktu kejadian 1 tim bersama suami sy. Pak kanit menceritakan bahwa dia salah orang pertama yg menyeberangi sungai dgn cara berenang dan diikuti oleh beberapa anggota, setelah itu pak Kanit memberi tanda silang untuk menandakan arus kencang. Pak kanit dan beberapa anggota yg berhasil menyeberang memasuki hutan, sekitar 20 meter beliau mendengar suara teriakan dua kali dari arah sungai akhirnya beliau dan anggota lari kembali ke arah sungai. Keterangan beliau,melihat suami sy berdiri di tandusan yg airnya setinggi lutut suami sy,lalu suami sy terduduk melihat ke arah pak kanit,tersapu air dan hilang. hal ini juga yg sy sampaikan ke pihak keluarga. Hari berikut nya sy menelpon salah satu anggota suami sy yg juga ikut dalam oprasi senyap untuk mencari informasi karna sy menduga ada yg kurang beres dari kronologi yg disampaikan,namun tidak ada yg berani berbicara, takut dan semua dilemparkan kembali pada pak kanit.
Pada tgl 21 Desember 2024, sy meminta bantuan penebalan pasukan kepada bapak wakapolres dan dibantu dengan permintaan bantuan pasukan ke TNI. Namun setelah pasukan TNI yg diperbantukan datang ke posko pencarian, bukannya di berangkatkan ke tkp tapi malah di pulangkan kembali ke batalyon yg diduga atas perintah Bapak Kabagops Polres Teluk Bintuni.
Ini menjadi tanda tanya besar kepada kami keluarga, kenapa seolah2 pencarian suami sy tidak dimaksimalkan dan sampai hari ini belum ada pencarian yg benar2 sampai ke TKP kejadian suami sy.
Pada tanggal 21 Desember 2024, Bapak Kapolres,Bapak saya,beberapa anggota, dan 3 orang adat menggunakan heli menuju tkp untuk melakukan adat menurut kepercayaan masyarakat setempat dan bermalam disana. Menurut penglihatan spritual dari orang adat yg ikut bahwa akan ada 5 orang kkb yg akan lewat membawa membawa 2 senjata (ingat,ini cuma penglihatan spritual bukan benar yg terjadi) yg membuat tim pindah posisi. Bapak sy yg ikut serta dalam pencarian menyatakan saat di lokasi TKP tidak melihat adanya tanda2 manusia disana selain Tim yg ada karna Bapak sy sempat memanggil2 nama Tomi dgn keras krn berharap suami sy bisa mendengar suara di tengah2 hutan itu.
Pada tanggal 22 Desember 2024, sy di forwarded voice note oleh ibu kapolres yg menyatakan Bapak Kapolres dan tim yg bermalam di TKP hampir di sanggung oleh OPM yg nyatanya itu tidak benar karna bapak sy yg ada di TKP dan tidak melihat itu semua. Yg membuat sy heran adalah kenapa pernyataan yg tidak akurat ini di paparkan oleh Tim pencari suami sy di depan Kapolda Papua Barat beserta jajaran seolah2 benar adanya. Karna ini berdampak besar kepencarian suami sy,yg dimana akhirnya masyarakat yg memiliki niat baik untuk membantu pencarian jadi takut. Basarnas yg seharusnya melakukan pencarian jadi mundur.
Dan pencarian belanjut sampai tgl 31 Desember 2024 yg mana pencarian dilakukan di muara2 yg jaraknya sekitar kurang lebih 10 jam dari TKP dan belum ada pencarian yg maksimal dari titik TKP hingga sy up story ini. Yg jadi pertanyaan sy juga,kenapa saat sy minta penabalan pasukan di awal pencarian di bilng tidak ada longboat (hanya 2-3 longboat) yg melakukan pencarian di muara yg jaraknya sekitar kurang lebih 10 jam dari TKP namun saat bapak Kapolda menurunkan surat perintah, pihak polres langsung bisa menyediakan 12 longboat?
Kalo memang hal seperti itu benar terjadi pada suami sy,mana buktinya ? Sedangkan pencarian menggunakan heli selama dua minggu tidak didapat tanda2
tenggelam misalnya baju suami sy.
Dan yg anehnya lg barang2 suami sy semuanya kembali (hp dalam kondisi di dalam plastik klip anti air, baju anti peluru suami sy, senjata suami sy) kenapa barang2 yg seharusnya dipake suami sy untuk menangkap kkb ini semua kembali utuh. Suami sy mau pergi nangkap kkb tapi dia lepas baju anti pelurunya dan senjatanya???
Dan lagi bagaimana bisa tim yg bersama suami sy melaporkan kejadian suami sy jam 10 pagi dan mereka masih melanjutkan operasi penangkapan kkb dibandingkan melakukan pencarian terhadap suami sy. Apa lebih berharga penangkapan kkb dibanding nyawa seseorang yg membutuhkan pertolongan????
Pihak polres pun sempat menanyakan apa yg keluarga mau,sy minta olah TKP. Tapi sampai hari ini belum dilakukan olah TKP atau pernyataan resmi dari pihak polres terhadap keluarga atau masyarakat apa yg sebenarnya terjadi pada suami sy dan bagaimana kabar kelanjutan pencarian suami sy TOMI SAMUEL MARBUN.
Dengan semua kejanggalan yg terjadi kepada sy,maka sy menduga kapolres juga mengetahui atau justru membiarkan kejanggalan itu terjadi.
Kini istri Iptu Tomi Marbun dan kelurga memohon kepada Presiden Prabowo dan Kapolres Jenderal Listyo Sigit Prabowo untuk mengusut tuntas apa yang terjadi pada Iptu Tomi Marbun.(Joe)
—————————————
“Apabila ada pihak yang merasa dirugikan dan atau keberatan dengan penayangan artikel dan atau berita tersebut di atas, Anda dapat mengirimkan artikel dan atau berita berisi sanggahan dan atau koreksi, sebagaimana diatur dalam Pasal 1 ayat (11) dan (12) Undang-Undang No. 40 tahun 1999 tentang Pers. Artikel/ berita dimaksud dapat dikirimkan melalui kontak redaksi kami”.
Bergabung dengan SALURAN WA untuk dapatkan berita-berita terbaru TRIBRATA TV Online









