Kisah Tragis Kematian Raja Pangggoppis Menjadi Identitas Pemersatu (Bagian II)

- Editorial Team

Kamis, 25 September 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Dahrun Pasaribu

Dahrun Pasaribu

Raja Panggoppis Nabadia, Sitindi Dolok Sitatap Tao, Raja Negeri Hualu yang dibunuh secara tragis digoreng hidup-hidup oleh Resimen Dabuar tentara Pidari Monjo di Sipogu pada tahun 1836. Sejarahnya dijadikan sebagai identitas pemersatu.

Jangan pernah melupakan sejarah karena melupakannya akan kehilangan identitas dan jatidiri. Peduli sejarah serta menghormatinya maka memiliki rasa tanggungjawab terhadap warisan budaya peninggalan leluhur dimasa lalu.

Semboyan itu selaras dengan perkataan
Basirun Pasaribu keturunan Raja Panggoppis ketika penulis mengunjunginya di Sigaol Nassau pada tahun 2022 silam.
Dalam kondisi tubuhnya yang lumpuh akibat kecelakaan laka lantas tahun 2008, beliau berprinsip bahwa merawat warisan leluhur adalah penghormatan terhadap sejarah. Karenanya, beliau secara adat tetap konsisten merawat dan menjaga peninggalan Raja Panggoppis di negeri hualu.

“Sejak tahun 1968, saya merawat dan menjaga seluruh peninggalan Raja kita Raja Panggoppis. Banyak keturunannya tapi merantau meninggalkan Habissaran dan saya ikhlas menjaga seluruh peninggalannya di Sipogu Naliok Miksu Parhondalian Sidauk-dauk dan Atara,”kata Basirun Pasaribu.

BACA JUGA  Revitalisasi Pasar Balerong Capai 6,72%

Basirun Pasaribu adalah generasi ke tiga Raja Panggoppis, lahir dan besar di Sigaol Kecamatan Naasau Toba dikenal sebagai tokoh Habornas yang pernah menghebohkan Habissaran karena memborong seluruh perhiasan emas di toko-toko perhiasan yang ada di Parsoburan.

Beliau berbicara panjang lebar tentang sejarah Raja Panggoppis berperang melawan penjajah Pidari Monjo dan perjuangannya mengusir PT.SEAS dari Sipogu serta membungkam klaim keturunan Tuan Gunung yang selalu mengusik peninggalan Raja Panggoppis.

Dikatakannya, Tuan Gunung dan keturunannya tidak ada sangkut pautnya dengan Raja Panggoppis walaupun mereka cukup lama mengklaim sebagai bagian dari Raja Panggoppis.

BACA JUGA  Ratusan Warga Toba Ikuti Jalan Sehat HUT Kementrian BUMN

“Memang kita satu marga dengan mereka dan kedatangan Tuan Gunung ke Napagotting dahulu bermukim di sana juga atas izin Raja Panggoppis tetapi ketika perang melawan penjajah Pidari Monjo, Tuan Gunung melarikan diri ke Hau Natas prilaku pecundang,”ujar Basirun Pasaribu.

Basirun Pasaribu keturunan Raja Panggoppis generasi paling tua itupun berpesan kepada seluruh keturunan Raja Panggoppis agar bersatu dalam mempertahankan peninggalan warisan Raja panggoppis dari setiap gangguan.

Pertemuan penulis dengan beliau adalah yang terakhir seakan hanya menitip pesan yang khusus untuk di sampaikan kepada seluruh generasi Raja Panggoppis karena tiga bulan kemudian Basirun Pasaribu meninggal dunia dengan tenang di Sigaol.
“Bapatua kami Basirun Pasaribu meninggal dunia dalam usia 89 tahun di Sigaol semoga damai abadi di hadirat Tuhan Amin”.

BACA JUGA  Melda Wati Hutahean Menangkan Grand Prize Mobil Suzuki Ertiga Panen Simpendes BRI Balige

Pesan agar bersatu mempertahankan peninggalan leluhur yang disampaikan Basirun Pasaribu merupakan firasat kurang baik menjadi kenyataan karena
pada tahun 2023, Ucok Balam berkoar-koar sebagai keturunan tuan gunung mengklaim tanah ulayat di Sipogu muncul di medsos.
(Bersambung)

Penulis: Dahrun Pasaribu Generasi ke empat Raja Panggopppis

—————————————

Apabila ada pihak yang merasa dirugikan dan atau keberatan dengan penayangan artikel dan atau berita tersebut di atas, Anda dapat mengirimkan artikel dan atau berita berisi sanggahan dan atau koreksi, sebagaimana diatur dalam Pasal 1 ayat (11) dan (12) Undang-Undang No. 40 tahun 1999 tentang Pers. Artikel/ berita dimaksud dapat dikirimkan melalui kontak redaksi kami”.

Bergabung dengan SALURAN WA untuk dapatkan berita-berita terbaru TRIBRATA TV Online

Berita Lainnya

Mengawal Kritik dengan Nurani, Menghargai Pengabdian BPBD di Tengah Ujian Bencana
Saat Kertas Administrasi Kalah Oleh Perut Lapar, Membaca Makna di Balik Senyum Warga Aceh Tamiang
Jalanan Panas, Ekonomi Tertekan: Siapa Bermain di Balik Gelombang Demonstrasi?”
Kemanusiaan yang Kalah oleh Kertas, Mengapa Dana Banjir Aceh Tamiang Macet di Labirin Birokrasi Jakarta?
Mencuci Uang di Negeri Sendiri
JKA di Persimpangan Jalan, Kemenangan Aspirasi Publik atau Sekadar Penundaan Krisis Anggaran?
JKA di Persimpangan Jalan, Antara Efisiensi Anggaran dan Pengkhianatan Mandat Rakyat
Refleksi Peringatan Hari Buruh Nasional Dalam Konteks Profesi Jurnalisme

Berita Lainnya

Jumat, 26 Juni 2026 - 09:42 WIB

Saat Kertas Administrasi Kalah Oleh Perut Lapar, Membaca Makna di Balik Senyum Warga Aceh Tamiang

Sabtu, 13 Juni 2026 - 08:24 WIB

Jalanan Panas, Ekonomi Tertekan: Siapa Bermain di Balik Gelombang Demonstrasi?”

Rabu, 10 Juni 2026 - 07:10 WIB

Kemanusiaan yang Kalah oleh Kertas, Mengapa Dana Banjir Aceh Tamiang Macet di Labirin Birokrasi Jakarta?

Selasa, 9 Juni 2026 - 14:33 WIB

Mencuci Uang di Negeri Sendiri

Selasa, 19 Mei 2026 - 08:03 WIB

JKA di Persimpangan Jalan, Kemenangan Aspirasi Publik atau Sekadar Penundaan Krisis Anggaran?

Berita Terbaru

Peristiwa

Ledakan di Perumahan Grand Polonia Medan, 5 Rumah Porak Poranda

Senin, 20 Jul 2026 - 14:37 WIB