Labuhanbatu, TRIBRATA TV
PMKS PTPN 4 Kebun Ajamu Desa Sungai Pinang Kecamatan Tanjung Sarang Elang Kabupaten Labuhanbatu diduga sengaja membuang limbah B3 (Bahan Baku Beracun) di sungai kawasan Blok E.6 Afdeling 1. Limbah ini mengalir hingga ke pemukiman penduduk Desa Sungai Pinang.
Pantauan di lokasi, Selasa (17/9/2019), habitat flora dan fauna habis punah akibat limbah tersebut. Salah seorang warga Sungai Pinang, Jono (45) menyesalkan tindakan perusahaan Kebun Ajamu 1 yang kerap kali membuang limbah B3 ke sungai. “Akibat limbah tersebut, air sumur yang kami gunakan berubah warna dan tidak lagi pernah bisa di konsumsi,”kata Jono.
Selain itu warga juga sering kali mengalami gatal-gatal. Warna air sungai berubah menjadi hitam sejak PMKS membuang limbah,hal ini sudah bertahun-tahun dilakukan.
“Sayangnya tidak ada tindakan dan respon dari perusahaan, padahal beritanya sudah dimuat dibeberapa media tapi tetap membuang limbah, kami sudah bosan pak sebenarnya dengan hal ini,”ujar Jono mewakili warga.
Jurnalis yang mencoba konfirmasi dan menemui manager, Ir Edy Usman tidak berhasil karena ia tidak berkenan ditemui. Demikian juga Asisten Kebun Afdeling 1 Kebun Ajamu 1, Sibarani tidak menanggapi konfirmasi.
Hal yang sama juga dilakukan Direktur Operasional PTPN 4, R.Silalahi yang tidak membalas pertanyaan jurnalis.
Harapan warga BLH Provinsi dan Kabupaten Labuhanbatu agar melakukan tindakan tegas atas pembuangan limbah B3 di PMKS PTPN 4, Kebun Ajamu 1 yang sehari-harinya mengelola TBS ribuan ton dari kebun perusahaan BUMN ini. Beberapa kebun yang mengirim bahan baku antara lain Kebun Meranti Paham, Panai Jaya dan Ajamu 1.
“Jika hal ini tidak mendapat respon dan tanggapan dari pihak perusahaan,warga akan lakukan demo besar – besaran,” ujar Jono kepada jurnalis.
Lain hal lagi persoalan di sampaikan warga yang tidak mau sebutkan namanya, bahwa adanya temuan yang harus dikoreksi terkait dengan perawatan kebun PTPN 4 di Ajamu III Panai Jaya.
Temuan itu antara lain, Afdeling I Kebun Panai Jaya terlihat sangat semak seperti tidak terawat. Sementara Manajer Sihol Saur Silitonga tidak berkenan ditemui sedang manager setempat tidak ada dikantor.
Jaka, Asisten Afdeling 1 Kebun Panai Jaya yang ditemani Papam kebun, Purba mengatakan perawatan dilakukan sesuai kebijakan yang dilakukan, hanya satu tahun sekali. Terakhir dikerjakan oleh pemborong pada bulan Januari yang lalu.
Pengerjaan perawatan kebun dilakukan dua kali dalam setahun, satu semester sekali. Hal ini kami lakukan untuk mengantisipasi kekeringan tanah, ujar Jaka. “Hal yang bapak lihat adanya keterlambatan perawatan dan pengerjaan khususnya dibagian yang paling semak, bapak harap maklum semua sudah kami antisipasi serta pimpinan semua tahu, jangan bapak samakan dengan kebun PTPN 4 lainnya walaupun anggarannya sama,” ujar Jaka.
Menurut Jaka, minimnya anggaran salah satu penyebab kurangnya perawatan. Namun saat ditanya apakah memang tidak ada anggaran untuk perawatan tersebut?Jawabnya, anggaran ada pak, tapi hebatnya pertumbuhan gulma yang tidak dapat diantisipasi suburnya. (Sulaiman Malaka)
—————————————
“Apabila ada pihak yang merasa dirugikan dan atau keberatan dengan penayangan artikel dan atau berita tersebut di atas, Anda dapat mengirimkan artikel dan atau berita berisi sanggahan dan atau koreksi, sebagaimana diatur dalam Pasal 1 ayat (11) dan (12) Undang-Undang No. 40 tahun 1999 tentang Pers. Artikel/ berita dimaksud dapat dikirimkan melalui kontak redaksi kami”.
Bergabung dengan SALURAN WA untuk dapatkan berita-berita terbaru TRIBRATA TV Online









