Minahasa Utara, TRIBRATA TV
Dalam situasi genting, kehadiran pemimpin bisa menjadi sinyal kuat ke publik bahwa negara tidak tinggal diam. Itulah yang terlihat saat Bupati Kepulauan Sitaro, Chyntia Ingrid Kalangit bersama Gubernur Sulawesi Utara Mayjen TNI (Purn) Yulius Selvanus, turun langsung ke lokasi evakuasi tragedi KM Barcelona V.A yang terbakar di perairan Talise, Minahasa Utara, Minggu (20/7/2025).
Alih-alih hanya menerima laporan di ruang ber-AC, kedua pejabat tinggi ini hadir di tengah proses penyelamatan, memberi dorongan moral bagi tim SAR serta menunjukkan empati nyata kepada korban dan keluarga.
“Kami ingin memastikan semua langkah penyelamatan berjalan maksimal dan semua korban mendapat penanganan cepat,” ujar Bupati Chyntia Kalangit.
Sementara itu, pihak Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Manado tak tinggal diam. Kepala KSOP, Kolonel Marinir Amrul Adriansyah, dalam keterangan tertulis menyatakan tiga armada bantuan segera dikerahkan: KM Barcelona III, KM Venecian, dan KM Cantika Lestari 9F. “Kami fokus pada keselamatan penumpang terlebih dahulu,” ujarnya.
Namun, di balik upaya penyelamatan, muncul pertanyaan yang mengusik: bagaimana bisa kapal modern seperti KM Barcelona V.A terbakar hebat di tengah pelayaran reguler? Kapal ini diketahui baru berusia empat tahun dan dilengkapi teknologi keselamatan standar pelayaran. Tapi insiden ini membuktikan bahwa klaim modernisasi tak selalu berbanding lurus dengan realita di lapangan.
Sejumlah keluarga korban menuntut kejelasan. Sampai berita ini diturunkan, Basarnas belum merilis identitas resmi empat korban jiwa. “Kami menunggu kabar. Tapi yang kami terima hanya simpang siur,” ucap salah satu keluarga penumpang yang menunggu di Pelabuhan Manado dengan wajah cemas.
Yang menarik, masyarakat justru lebih dulu mengapresiasi peran nelayan lokal yang berada di sekitar lokasi kejadian. Tanpa alat canggih, tanpa protokol, mereka menjadi penyelamat pertama yang mengangkut penumpang yang terapung di laut. “Kalau tidak ada nelayan, entah berapa lagi korban yang jatuh,” ucap seorang penumpang selamat.
PT Surya Pasific Indonesia (SPI), pemilik kapal, kini menjadi sorotan tajam. Dengan enam kapal aktif berlayar, SPI diharapkan memberi penjelasan terbuka. Transparansi terhadap penyebab kebakaran. “Mengingat kami sebagai keluarga korban menunggu kejelasan dari pihak terkait dan pihak perusahan kapal KM Barcelona VA,”ungkap seorang keluarga korban.
Tragedi KM Barcelona V.A mencerminkan lebih dari sekadar kecelakaan laut. Ini menjadi cermin bahwa sistem keselamatan dan pengawasan pelayaran nasional masih memiliki lubang besar. Saat para pemimpin turun ke lapangan dan masyarakat bersatu dalam penyelamatan, pertanyaan kritis tetap harus dijawab: apakah ini akhir dari kelalaian, atau awal dari pembenahan? (Jemi Lahutung)
—————————————
“Apabila ada pihak yang merasa dirugikan dan atau keberatan dengan penayangan artikel dan atau berita tersebut di atas, Anda dapat mengirimkan artikel dan atau berita berisi sanggahan dan atau koreksi, sebagaimana diatur dalam Pasal 1 ayat (11) dan (12) Undang-Undang No. 40 tahun 1999 tentang Pers. Artikel/ berita dimaksud dapat dikirimkan melalui kontak redaksi kami”.
Bergabung dengan SALURAN WA untuk dapatkan berita-berita terbaru TRIBRATA TV Online








