Medan, TRIBRATA TV
Gang Buntu selalu punya caranya sendiri untuk menyimpan rahasia. Di sudut Jalan Jawa, tepat di samping Kantor Lurah, dua lelaki duduk berhadapan: Bobby dan Erik.
Di antara mereka, sebotol tuak bergulir pelan, menebarkan aroma yang menyalakan keberanian sekaligus kegelapan dalam hati.
Bobby, dengan mata yang mulai memerah, hanya mengangguk setiap kali Erik melontarkan omelan. Sudah berkali-kali ia diperlakukan seperti itu -ditertawakan, dimarahi, dihardik.
Pada malam Minggu, 16 November 2025 itu, nada suara Erik terdengar lebih tajam dari biasanya, menusuk telinga Bobby seperti serpihan kaca yang merayap ke dalam dada.
Bobby terdiam. Di balik diamnya, ada badai yang mulai tumbuh. Kata-kata itu, yang sudah terlalu sering ia dengar, akhirnya menemukan ruang terakhir untuk meledak.
Dengan langkah limbung, Bobby meninggalkan meja. Dadanya panas, kepalanya penuh suara-suaranya sendiri.
Ia berjalan menuju Jembatan Titi Gantung—jembatan tua yang menyimpan sejarah zaman kolonial. Angin malam menyapu wajahnya, dingin, tapi tidak cukup untuk meredam amarah.
Di bawah cahaya remang, ia melihat bola lampu neon yang menggantung. Dalam satu hentakan liar, ia memecahkannya. Pecahan kaca berkilat seperti gigi makhluk buas.
“Erik!” teriaknya dari atas jembatan, suara yang menggema di antara rel kereta dan bangunan tua.
Erik muncul, masih dengan amarah yang belum tuntas dibuang. Di tangannya —ada sebongkah batu. Ia mendekat, langkahnya mantap, suaranya masih sama menusuknya.
Batu itu menghantam bahu Bobby. Sakit. Tajam. Tapi rasa sakit di bahu tidak sebanding dengan luka yang sudah lama ia simpan dalam hati.
Mereka bergulat. Tubuh mereka saling menahan, saling mendorong, saling menjatuhkan. Napas keduanya berat, bercampur tuak, amarah, dan dendam yang tak pernah diucapkan.
Dalam hitungan detik yang terasa panjang, Bobby meraih serpihan kaca neon di tanah. Kilatnya menyambar, lalu senyap.
Kaca itu menembus leher Erik.
Lelaki itu terhuyung, darahnya menghitam dalam gelap malam. Sandalnya terlepas, jatuh di samping batu yang tadi ia bawa. Jembatan Titi Gantung menahan nafasnya, seolah ikut bersedih.
Ketika polisi tiba, mereka menemukan batu, pecahan kaca neon, dan sepasang sandal. Barang-barang sederhana yang malam itu menjadi saksi bagaimana luka hati jauh lebih mematikan dari senjata apa pun.
“Motifnya sakit hati,” kata Kapolsek Medan Timur, Kompol Agus M Butarbutar.
Hanya itu. Dua kata sederhana yang meruntuhkan satu nyawa dan menenggelamkan satu lagi ke balik jeruji. (red)
—————————————
“Apabila ada pihak yang merasa dirugikan dan atau keberatan dengan penayangan artikel dan atau berita tersebut di atas, Anda dapat mengirimkan artikel dan atau berita berisi sanggahan dan atau koreksi, sebagaimana diatur dalam Pasal 1 ayat (11) dan (12) Undang-Undang No. 40 tahun 1999 tentang Pers. Artikel/ berita dimaksud dapat dikirimkan melalui kontak redaksi kami”.
Bergabung dengan SALURAN WA untuk dapatkan berita-berita terbaru TRIBRATA TV Online









