Seram Bagian Barat, TRIBRATA TV
Lagi, kisah pengabdian seorang Guru tanpa pamrih di wilayah pelosok negeri kembali mencuat. Kali ini, Ibu Guru Nahawiyah Tamalene, kelahiran tahun 1968, yang telah mendedikasikan diri di dunia pendidikan sejak tahun 1989 di Pulau Buano, Kabupaten Seram Bagian Barat (SBB), Maluku.
Selama 36 tahun lamanya, Nahawiyah mengajar tanpa status tetap. Dengan penuh kesabaran, Ia membimbing anak-anak di wilayah terpencil meski keterbatasan fasilitas pendidikan kerap menjadi tantangan utama.
Baru pada tahun 2025, di usianya yang mendekati masa pensiun, Nahawiyah akhirnya menerima SK sebagai Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) paruh waktu. Status itu akan dijalaninya hanya dalam rentang tiga tahun, sebelum secara resmi memasuki masa purna bakti.
Pengangkatan tersebut menjadi bentuk pengakuan atas pengabdiannya, meski dinilai datang terlambat. “Ini adalah dedikasi nyata seorang Guru yang rela mengabdikan diri demi mencerdaskan anak bangsa, khususnya di Pulau Buano,” ungkap salah satu tokoh masyarakat setempat.
Kisah Nahawiyah mencerminkan kondisi banyak guru honorer di Indonesia yang bertahun-tahun mengabdi, namun baru mendapatkan kepastian status menjelang akhir masa kerja. Pemerhati pendidikan menilai, kasus ini seharusnya menjadi momentum bagi pemerintah untuk lebih memperhatikan nasib Guru di daerah terpencil. (Lany)
—————————————
“Apabila ada pihak yang merasa dirugikan dan atau keberatan dengan penayangan artikel dan atau berita tersebut di atas, Anda dapat mengirimkan artikel dan atau berita berisi sanggahan dan atau koreksi, sebagaimana diatur dalam Pasal 1 ayat (11) dan (12) Undang-Undang No. 40 tahun 1999 tentang Pers. Artikel/ berita dimaksud dapat dikirimkan melalui kontak redaksi kami”.
Bergabung dengan SALURAN WA untuk dapatkan berita-berita terbaru TRIBRATA TV Online









