Sitaro, TRIBRATA TV
Pagi belum terlalu terang, namun Ketua DPRD Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang Biaro ( Sitaro), Djon Ponto Janis, SH—yang akrab disapa “Ko Yon”—sudah memulai harinya bukan dari ruang sidang, melainkan dari jantung ekonomi rakyat: pasar tradisional. Tepat pukul 08.25 WITA, Sabtu (14/6/2025) pagi, ia menyapa penjual dan pembeli di Pasar Ulu Siau, bukan sebagai pejabat tinggi, tapi sebagai rakyat biasa yang ingin mendengar denyut kebutuhan warga secara langsung.
Tidak banyak pejabat yang meluangkan waktu untuk menyusuri lorong pasar, apalagi usai menyelesaikan urusan serius dalam ruang-ruang sidang. Namun bagi Ko Yon, itulah cara paling nyata untuk memahami dinamika masyarakat.
“Saya belajar tentang undang-undang, tapi juga harus belajar dari rakyat. Pasar adalah tempat kita mengerti ekonomi rakyat secara langsung,” ujarnya singkat saat berbincang santai dengan seorang ibu penjual ikan.
Kunjungan itu bukanlah rutinitas baru bagi Ko Yon. Hampir setiap hari ia menyempatkan diri datang ke dua pasar utama di Siau, yakni Pasar Ulu Siau dan Pasar Ondong Siau Barat. Bagi dia, interaksi langsung dengan penjual dan pembeli adalah bagian dari “fungsi pengawasan informal” yang tak tertulis dalam regulasi, tapi nyata di hati masyarakat.
“Kalau harga naik, kalau stok barang langka, mereka tidak lapor ke kantor dewan. Mereka sampaikan langsung di sini,” tambahnya.
Di tengah keramaian pasar pagi itu, Ko Yon bertemu dengan Ketua Bapemperda DPRD Sitaro, Heddy Wem Janis, SH., MM—yang juga tengah melakukan kunjungan.
“Kebetulan sekali, saya juga sedang ingin melihat implementasi Perda Pasar yang pernah kami bahas,” ungkap Heddy, yang disapa akrab “Une Heddy”. Keduanya tampak berdiskusi serius namun hangat bersama para pedagang tentang kondisi kebersihan, harga sayuran, hingga pengelolaan retribusi pasar.
Salah satu penjual sayur menyampaikan keluhannya tentang harga tomat yang anjlok karena pasokan berlebih. Mendengar itu, Ko Yon mencatat cepat di buku kecilnya.
“Kita akan bahas ini dalam forum nanti. Kami harus pikirkan solusi untuk petani lokal,” katanya sembari membeli beberapa ikat kangkung dan tomat sebagai bentuk dukungan langsung.
Kegiatan di pasar bukan hanya dimaknai sebagai rutinitas kerja, tapi sebagai bentuk nyata dari pendekatan partisipatif dalam pemerintahan lokal.
“Demokrasi itu bukan cuma di ruang paripurna. Demokrasi hidup di lorong-lorong pasar seperti ini, di mana suara rakyat terdengar jujur tanpa mikrofon,” ucap Ko Yon, sambil menyalami anak-anak yang menyapa dengan antusias.
Melalui langkah kecil namun konsisten itu, Ketua DPRD Sitaro membuktikan bahwa jabatan bukanlah sekadar simbol formalitas, tetapi peran aktif dalam mendengar, merasakan, dan bertindak atas realita masyarakat. Dengan membawa semangat belajar regulasi dan praktik langsung di lapangan, ia mengukuhkan diri bukan hanya sebagai wakil rakyat di atas kertas, tetapi juga di hati konstituennya.
“Salam sehat,” tutupnya sambil melangkah meninggalkan pasar. Satu sapaan sederhana, namun membawa pesan kuat: kehadiran pemimpin bukan hanya di podium, tetapi di antara rakyat yang mereka wakili. (Jemi Lahutung)
—————————————
“Apabila ada pihak yang merasa dirugikan dan atau keberatan dengan penayangan artikel dan atau berita tersebut di atas, Anda dapat mengirimkan artikel dan atau berita berisi sanggahan dan atau koreksi, sebagaimana diatur dalam Pasal 1 ayat (11) dan (12) Undang-Undang No. 40 tahun 1999 tentang Pers. Artikel/ berita dimaksud dapat dikirimkan melalui kontak redaksi kami”.
Bergabung dengan SALURAN WA untuk dapatkan berita-berita terbaru TRIBRATA TV Online









