Sitaro, TRIBRATA TV
HUT ke-68 GMIST Zaitun Lehi bukan sekadar perayaan usia gereja, tetapi momentum perenungan tentang makna sejati gereja dalam kehidupan umat. Dalam ibadah yang penuh sukacita, pesan yang dibawa oleh Pdt. Ny. Rachel Bawihu Papona, S.Th., M.Th., menjadi tamparan reflektif bagi setiap orang percaya
Worship Leader Pdt. F. F. Dohanis, S.Th., turut membakar semangat umat dalam ibadah syukur itu. Lagu-lagu pujian menjadi saluran keintiman dengan Tuhan, namun pertanyaannya: apakah penyembahan kita melahirkan transformasi nyata?
Tema raya PGI ke-18 yang diangkat dalam khotbah, “Hiduplah Sebagai Terang yang Membuahkan Kebaikan, Keadilan dan Kebenaran”, menantang umat Kristen untuk hidup otentik dan transformatif. Sebab terang tak sekadar bersinar; ia mengubah kegelapan menjadi terang pula.
Pdt. Rahel menjelaskan gereja bukan sekadar gedung fisik dengan bangunan megah. Gereja sejati adalah kumpulan orang-orang yang dipanggil keluar dari kegelapan menuju terang-Nya yang ajaib—sebuah pemahaman yang mengakar dari kata Eklesia.
Kata Eklesia berasal dari bahasa Yunani: ek (keluar) dan kaleo (memanggil). Ini menyiratkan bahwa jemaat bukan hanya berkumpul, tapi juga terpanggil untuk menjalani hidup yang berbeda—hidup yang menyalurkan terang Kristus.
Gereja bukanlah deretan kursi kosong di balik tembok mewah. Apa artinya kemegahan bangunan jika jiwa-jiwa yang haus akan kasih Allah tidak pernah hadir? Gereja adalah soal isi, bukan kemasan.
Kritik tajam Gandhi menjadi bagian penting dalam renungan ibadah tersebut. “Saya suka Kristus Anda, tapi saya tidak suka orang Kristen Anda,” katanya. Pernyataan ini mencerminkan kesenjangan antara ajaran Yesus dan kehidupan nyata umat-Nya.
Gandhi yang bukan Kristen, justru meneladani nilai-nilai Kristus dalam perjuangannya melawan ketidakadilan. Ironisnya, banyak orang Kristen sendiri gagal mencerminkan Kristus dalam tindakan dan kehidupan mereka.
Perenungan ini menuntut pertanyaan: Apakah kita sungguh menjadi terang? Ataukah terang kita hanya menyala di gereja, tetapi padam di luar?
Transformasi, atau metamorfosis, menjadi ilustrasi utama Pdt. Rahel. Sebagaimana ulat berubah menjadi kupu-kupu, demikian pula hidup orang percaya seharusnya terus diperbarui ke arah yang lebih baik.
Efesus 4:8-9 menekankan bahwa hidup sebagai anak-anak terang bukanlah status pasif, melainkan tanggung jawab aktif untuk menunjukkan buah kebaikan, keadilan, dan kebenaran.
Ketika Gandhi berkata, “Seandainya orang Kristen benar-benar hidup menurut ajaran Kristus, seluruh India sudah menjadi Kristen,” ia mengingatkan kita bahwa kekristenan lebih dari sekadar label—ia adalah cara hidup.
Kekosongan iman tidak bisa diisi dengan ritual semata. Dunia tidak membutuhkan lebih banyak gereja, tapi lebih banyak orang yang hidup sebagai gereja. Dunia haus akan keteladanan, bukan hanya ceramah.
HUT ke-68 GMIST Zaitun Lehi menjadi simbol harapan, bahwa dalam usia yang terus bertambah, gereja ini bukan hanya tumbuh secara fisik, tetapi juga matang secara rohani dan sosial.
Majelis dan seluruh jemaat dari gereja tetangga hadir bersama dalam sukacita yang menyatukan. Namun momen itu juga mengundang kita untuk berpikir ulang: apakah terang Kristus benar-benar sudah terlihat dari kita?
Kiranya GMIST Zaitun Lehi terus menjadi terang yang menembus kegelapan zaman ini—bukan dengan suara keras, tapi dengan hidup yang bersinar, membuahkan kebaikan, keadilan, dan kebenaran bagi siapa pun yang melihatnya. (Jemi Lahutung)
—————————————
“Apabila ada pihak yang merasa dirugikan dan atau keberatan dengan penayangan artikel dan atau berita tersebut di atas, Anda dapat mengirimkan artikel dan atau berita berisi sanggahan dan atau koreksi, sebagaimana diatur dalam Pasal 1 ayat (11) dan (12) Undang-Undang No. 40 tahun 1999 tentang Pers. Artikel/ berita dimaksud dapat dikirimkan melalui kontak redaksi kami”.
Bergabung dengan SALURAN WA untuk dapatkan berita-berita terbaru TRIBRATA TV Online








