Sitaro, TRIBRATA TV
Banjir bandang yang menerjang Lingkungan III dan IV Sondang Kelurahan Bahu Kecamatan Siau Timur, menjadi salah satu musibah paling memilukan yang pernah terjadi di wilayah Kepulauan Sitaro. Dalam hitungan menit, air bercampur lumpur dan bebatuan raksasa meluluhlantakkan permukiman warga, Senin (05/01/2026).
Hujan lebat yang turun tanpa jeda menjadi pemicu utama bencana tersebut. Aliran air dari wilayah perbukitan berubah menjadi arus ganas yang menghantam rumah-rumah warga saat sebagian besar masyarakat masih berada di dalam rumah.
Material batu berukuran besar, pasir, dan lumpur menyerbu pemukiman, menghancurkan bangunan, serta menimbun apa pun yang dilalui. Sejumlah rumah hanyut, sementara lainnya tertimbun hingga nyaris tak menyisakan bentuk.

Kondisi semakin mencekam ketika listrik PLN padam di tengah hujan deras. Gelap, panik, dan suara jeritan menyatu dengan gemuruh air yang tak terbendung.
Data sementara mencatat sedikitnya delapan rumah hilang tersapu banjir bandang. Musibah ini juga merenggut banyak nyawa dan meninggalkan luka mendalam bagi keluarga yang ditinggalkan.
Hingga perkembangan terakhir, tercatat 13 orang meninggal dunia, sementara tiga lainnya masih dalam proses pencarian oleh tim gabungan. Selain itu, sekitar 18 warga mengalami luka-luka, dua di antaranya harus dirujuk ke Manado untuk mendapatkan penanganan medis lanjutan.

Duka mendalam menyelimuti Siau Timur saat delapan jenazah korban banjir bandang disemayamkan dan didoakan secara massal. Ibadah pemakaman berlangsung khidmat di Gereja GMIST Ulu Siau.
Ibadah persemayaman tersebut dipimpin Tim Pendeta dari Resor Siau Timur, dengan Ketua Resort Siau Timur, Pdt. Rahel B. Papona, M.Th., memimpin langsung jalannya ibadah.
Tangis dan ratapan tak terbendung dari keluarga korban maupun jemaat yang hadir. Suasana gereja dipenuhi isak haru, menggambarkan betapa berat musibah yang harus diterima masyarakat.

Bupati Kepulauan Sitaro, Chyntia Ingrid Kalangit, hadir langsung dalam ibadah pemakaman massal tersebut. Didampingi suami, Renol Tumbio, SE, Bupati tampak tak kuasa menahan air mata menyaksikan duka warganya.
Turut hadir Sekretaris Daerah Kabupaten Kepulauan Sitaro, Drs. Denny Kondoj, M.Si., bersama seluruh pejabat tinggi pratama dan pejabat administrator, sebagai bentuk empati dan tanggung jawab pemerintah daerah.
“Atas nama Pemerintah Kabupaten Kepulauan Sitaro, kami menyampaikan duka yang sedalam-dalamnya. Kami berkomitmen mendampingi seluruh keluarga korban,” ujar Bupati Chyntia dengan suara bergetar.

Tragedi ini menjadi perhatian luas publik. Siaran langsung di berbagai media sosial membuat peristiwa tersebut disaksikan masyarakat luas, termasuk keluarga korban yang berada di luar daerah.
Sejak pagi hari pascakejadian, tim gabungan telah dikerahkan untuk melakukan pencarian, evakuasi korban, serta pembersihan wilayah terdampak bencana.
“Sejak pagi kami sudah mencari, mengevakuasi, dan membersihkan daerah terdampak bencana,” ungkap Bupati Chyntia dalam keterangannya kepada media.

Pemerintah Kabupaten Sitaro juga menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara, khususnya Gubernur Sulut, atas bantuan yang telah disalurkan melalui jalur laut.
Bantuan tersebut diharapkan dapat dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk memenuhi kebutuhan mendesak para korban, mulai dari logistik, layanan kesehatan, hingga kebutuhan tempat tinggal sementara.
Usai dari Siau Timur, pemerintah daerah dijadwalkan bergerak ke wilayah Siau Barat, tepatnya di Kampung Paseng dan Laghaeng, yang juga terdampak bencana dan dilaporkan terdapat korban jiwa serta kerusakan materiil.
Akses jalan menuju Paseng dilaporkan sudah mulai terbuka, meski masih menggunakan alat seadanya. Pemerintah daerah kini menunggu kedatangan alat berat excavator melalui jalur darat untuk mempercepat penanganan.

Pemerintah Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang Biaro memastikan seluruh kebutuhan korban bencana akan ditanggung dan disediakan oleh pemerintah daerah.
“Kami tidak akan meninggalkan masyarakat dalam situasi seperti ini. Semua kebutuhan dasar korban menjadi tanggung jawab pemerintah,” tegas Bupati Chyntia.
Banjir bandang di Sondang bukan sekadar bencana alam, tetapi juga pengingat akan rapuhnya kehidupan manusia. Di tengah kehilangan dan duka, solidaritas, doa, dan kepedulian menjadi kekuatan utama untuk bangkit bersama. (Jemi Lahutung)
—————————————
“Apabila ada pihak yang merasa dirugikan dan atau keberatan dengan penayangan artikel dan atau berita tersebut di atas, Anda dapat mengirimkan artikel dan atau berita berisi sanggahan dan atau koreksi, sebagaimana diatur dalam Pasal 1 ayat (11) dan (12) Undang-Undang No. 40 tahun 1999 tentang Pers. Artikel/ berita dimaksud dapat dikirimkan melalui kontak redaksi kami”.
Bergabung dengan SALURAN WA untuk dapatkan berita-berita terbaru TRIBRATA TV Online









