Tapanuli Selatan, TRIBRATA TV
Seorang sopir truk yang melintas di Jalan Nasional Batu Jomba Desa Luat, Kecamatan Sipirok, Kabupaten Tapanuli Selatan, Sumatera Utara, merekam tindakan dugaan pungutan liar terhadap dirinya.
Video tersebut pun viral di media sosial. Dalam caption video yang beredar di media sosial disebutkan, “Diduga jadi ajang Pungli, truk roda 6 Boleh Lewat Batu Jomba Asal Bayar Rp. 150.000
Truk roda enam melintasi jalan nasional di wilayah itu, justru harus bayar uang hingga Rp. 150.000 kepada sekelompok orang tak berwenang. Ini bukan hanya pungli. Ini bentuk pemalakan terang-terangan yang sudah mencoreng wibawa pemerintah dan penegak hukum.
Ironisnya, praktik ini bukan cerita baru. Sudah berkali-kali muncul keluhan dari para sopir yang dipalak saat melintas, baik siang maupun malam. Tapi sampai hari ini, Pemerintah Kabupaten Tapanuli Selatan dan Polres Tapsel seolah tak berkutik.
Pemerintah Tapsel patut dikritik karena abai melintasi jalur penting ini. Batu Jomba bukan jalan kecil pedalaman, melainkan jalan penghubung utama antarwilayah yang juga dilalui kendaraan logistik dan wisatawan. Ketika truk harus “membayar” untuk lewat di jalan nasional, maka yang rugi bukan hanya sopir. Biaya logistik meningkat, harga barang naik, dan daerah kehilangan citra sebagai wilayah yang ramah.
Lebih menyedihkan lagi, pihak kepolisian belum terlihat melakukan langkah nyata. Razia? Patroli? Penangkapan pelaku? Nol besar. Padahal ini menyangkut keamanan jalan publik. Jika pungli ini dibiarkan ini dibiarkan, kita pantas bertanya: siapa sebenarnya yang berkuasa di jalan batu Jomba, negara atau preman.
Dalam video itu, tampak jalur Batu Jomba masih dilakukan penyekatan dengan menggunakan alat berat excavator yang berada dipinggir jalan sehingga mempersempit ruas jalan bagi pengendara untuk melintas.
Pada rekaman tersebut, sopir truk yang ingin melintas di jalur Batu Jomba menyebut, ” udah dihalang,minta duit. Kerjaan kampung orang ini ajanya”.
Kemudian sopir menanyakan kepada seorang pria apakah ia diperbolehkan untuk lewat melintas jalan tersebut.
Kemudian pria lain menyebutkan bila ingin lewat melintas harus membayar sopir truk tersebut harus membayar Rp150 ribu.
Di akhir video, sopir mencoba bernegosiasi dengan seorang pria yang diduga merupakan warga setempat agar diberi pengurangan biaya melintas.
“Luar biasalah kalian 150, Janganlah 150, Kami pun bukan banyak uang jalan kami,” ucap sopir.
Sementara itu, seorang warga Kota Pematangsiantar yang mengaku sering melintas di jalan itu menggunakan kendaraan pribadi juga sering dimintai uang.
“Ngeri-ngeri sedap kalau melintas di jalan itu saat subuh, takut juga dilempari kaca mobil kalau gak dikasih,” katanya, Sabtu (2/8/2025).
Terkait hal itu, Kapolres Tapanuli Selatan AKBP Yon Edi Winara yang dikonfirmasi, Sabtu (2/8/2025) mengatakan sudah menindaklanjuti video viral tersebut.
“Thanks infonya sudah di tindaklanjuti Terima Kasih,” ucapnya. (Joe)
—————————————
“Apabila ada pihak yang merasa dirugikan dan atau keberatan dengan penayangan artikel dan atau berita tersebut di atas, Anda dapat mengirimkan artikel dan atau berita berisi sanggahan dan atau koreksi, sebagaimana diatur dalam Pasal 1 ayat (11) dan (12) Undang-Undang No. 40 tahun 1999 tentang Pers. Artikel/ berita dimaksud dapat dikirimkan melalui kontak redaksi kami”.
Bergabung dengan SALURAN WA untuk dapatkan berita-berita terbaru TRIBRATA TV Online









