Babali, TRIBRATA TV
29 NOvember 2025 – Suasana di ruang sidang utama DPRD Kepulauan Siau Tagulandang Biaro mendadak berubah hening. Detik-detik sebelum palu sidang diketukkan, para anggota dewan, pejabat eksekutif, dan tamu undangan seolah menahan napas. Semua mata tertuju ke meja pimpinan.
Ketegangan itu pecah ketika Bob Nover Janis, Anggota Fraksi Golkar sekaligus anggota Badan Anggaran, mengangkat mikrofon. Ia berdiri, meminta waktu berbicara, sesaat sebelum Ketua DPRD, Djon Janis, mengetukkan palu tanda pengesahan Ranperda APBD Tahun Anggaran 2026.
Ketukan palu yang rencananya dilakukan tiga kali itu adalah simbol penting: penanda berakhirnya proses panjang penganggaran, sekaligus keputusan krusial bagi arah pembangunan daerah.
Namun sebelum palu itu turun, Bob Janis memilih angkat suara. Ia menyampaikan intrupsinya dengan nada tegas namun santai dan lugas —suatu bentuk kejujuran politik yang jarang terbuka di forum resmi.
“Terima kasih kepada teman-teman yang sudah membacakan pandangan akhir fraksi… Saya tetap memberi masukan kepada Ibu Bupati agar menjaga hubungan kita yang baik,” ujar Bob membuka penyampaiannya.
Bob kemudian mengungkap alasannya mengambil alih palu dalam beberapa situasi sebelumnya—sebuah gambaran bahwa menurutnya, contoh kedewasaan politik harus dimulai dari situasi paling sulit.
Ia menyinggung aktivitas Bupati di media sosial yang menurutnya kerap memunculkan narasi “Darupa kalu”, sebuah ungkapan yang kemudian menjadi simbol tekanan bagi DPRD. “Merujuk pada kekuasaannya, Dewan punya hak untuk tidak mengetuk palu itu…” tegasnya.
Dengan nada meningkat, Bob menegaskan bahwa kehormatan DPRD terikat pada proses penetapan anggaran.
“Torang pe harga diri sebagai anggota DPRD ada di Darupa Kalu ini,” katanya.
Ia juga mengingatkan bahwa opini publik sering terbentuk dari pihak-pihak yang mencari keuntungan politik maupun posisi di pemerintahan.
“Kalau ASN dekat-dekat deng ibu kaseh masukan, mungkin dia suka ada jabatan yang bagus,” ucapnya.
Bob bahkan menyinggung dampak psikologis terhadap keluarga para anggota DPRD akibat hinaan di media sosial.
“Kasihan teman-teman yang lain, pak ketua, anak-anak, cucu, mereka dirusak secara verbal,” ungkapnya.
Pada titik tertentu, ia menyebut bahwa jabatan Ketua DPRD seolah dianggap remeh oleh beberapa pihak.
“Seakan-akan pangkat jadi Ketua DPRD terlalu hina sehingga dihina-hina di medsos.”
Bob juga mengingatkan bahwa tanpa kehadiran penuh anggota DPRD, sidang bisa saja tidak memenuhi kuorum. Namun menurutnya, selama ini anggota dewan memilih menutup mata demi keberlanjutan daerah.
Ia menuntut pembinaan terhadap oknum ASN yang menghina lembaga DPRD. Dengan keras ia berkata, “Kalau tidak bisa dibina, dibinasakan saja.”
Dalam intrupsinya, Bob sekaligus berterima kasih kepada fraksi-fraksi yang mendukung kelanjutan pembahasan APBD 2026. “Ini adalah kado ulang tahun saya yang terindah, APBD 2026 diketuk,” ucapnya.
Ia mengingatkan bahwa jika APBD tidak disahkan, kerugian terbesar akan ditanggung oleh Pemerintah Daerah sendiri. Termasuk isu keliru yang menyebut anggota DPRD tidak akan menerima gaji selama enam bulan.
Bob juga meminta Sekda dan pihak terkait mendampingi Bupati dalam mengkaji siapa saja yang memberi masukan buruk.
“Ibu Bupati ini juga adik saya, saya tidak mau terjerumus,” katanya.
Ia menutup pernyataannya dengan ajakan damai. “So selesai semua Pilkada, mari kita membangun Sitaro yang lebih baik.”
Usai intrupsi yang penuh muatan itu, suasana sidang kembali hening. Semua menunggu bagaimana Bupati Chyntia Ingrid Kalangit merespons. Dan tanpa menunda, Bupati pun mengangkat mikrofon.
Dengan tenang, Bupati Chyntia mengawali jawabannya dengan memberikan ucapan ulang tahun untuk Bob Janis. “Selamat HUT ke-43 tahun, Tuhan Yesus memberkati,” ucapnya, disambut anggukan peserta sidang.
Ia mengakui bahwa dirinya pun sering menjadi sasaran serangan di media publik. “Yang menyerang saya di Publik Sitaro juga bukan gampang. Tapi kita tidak usah ambil pusing,” katanya.
Dalam kelanjutan jawabannya, Bupati Chyntia menegaskan bahwa hubungan antara dirinya dan para anggota DPRD sebenarnya tidak pernah berada dalam situasi permusuhan seperti yang sering tergambar di dunia maya. Ia berkata,
“Kalau kita hanya melihat dunia maya, rasanya tidak seimbang dengan dunia nyata… padahal torang semua ada baku-baku bae,” menandaskan bahwa dinamika media sosial tidak mencerminkan kenyataan hubungan kerja di lapangan.
Bupati juga menyinggung soal jarak komunikasi yang sering disalahartikan publik sebagai konflik. Ia mengaku tidak mungkin menghubungi satu per satu anggota DPRD karena setiap orang memiliki kesibukan serta tanggung jawab masing-masing.
“Saya malu untuk menelpon satu per satu… semua ada kepentingan dan tanggung jawab masing-masing,” ucapnya, memberi klarifikasi bahwa diamnya komunikasi bukan bentuk penolakan, melainkan penghormatan terhadap waktu dan tugas masing-masing.
Menanggapi isu “bisik-bisik” yang disebut Bob Janis, Bupati menegaskan bahwa tidak ada skenario atau strategi khusus untuk memecah belah hubungan eksekutif dan legislatif.
“Tidak ada berbisik-bisik selama ini… karena semuanya pasti melewati proses,” katanya.
Ia menegaskan bahwa setiap keputusan pemerintah daerah selalu melalui mekanisme formal, bukan bisikan informal dari pihak-pihak tertentu.
Pada bagian lainnya, Bupati Chyntia juga menguatkan komitmennya menindak ASN yang telah menimbulkan kegaduhan di media sosial. Ia menyampaikan bahwa langkah tegas sudah disiapkan. “Untuk ASN yang kemarin sudah sempat membuat huru-hara, saya sudah sampaikan kepada Pak Sekda kalau boleh dinonaktifkan,” ujarnya. Ini menunjukkan bahwa eksekutif tidak menutup mata terhadap tindakan yang dapat merusak hubungan antara lembaga.
Sebagai penutup, Bupati menyampaikan penghargaan mendalam atas kerja sama DPRD yang memungkinkan APBD 2026 mencapai tahap pengesahan. “Kami pemerintah daerah tidak akan menjadi apa-apa kalau tanpa bantuan Bapak/Ibu sekalian,” ungkapnya. Dengan nada yang lebih personal, ia menekankan kembali kerjasama dan persatuan sebagai fondasi pembangunan Sitaro ke depan.
“Terima kasih, mari torang tetap baku topang demi masyarakat Sitaro,” tutupnya dengan penuh harapan.
Bupati menegaskan tambahan sedikit bahwa hubungan nyata antara eksekutif dan legislatif tetap solid.
“Torang ada baku-baku bae, baku kompak, baku kerjasama. Tidak ada Pemerintah Daerah yang jago, tidak ada DPRD yang jago. Torang saling membutuhkan,” jelasnya.
Responsnya, Bupati menyampaikan komitmen memperbaiki dinamika komunikasi dan menertibkan ASN yang berperilaku tidak pantas. “Terima kasih atas kerjasama ini sehingga APBD boleh ada di tahap ini. Mari torang jalan bersama untuk Sitaro yang lebih baik,” pungkasnya. (Jemmy Lahutung)
—————————————
“Apabila ada pihak yang merasa dirugikan dan atau keberatan dengan penayangan artikel dan atau berita tersebut di atas, Anda dapat mengirimkan artikel dan atau berita berisi sanggahan dan atau koreksi, sebagaimana diatur dalam Pasal 1 ayat (11) dan (12) Undang-Undang No. 40 tahun 1999 tentang Pers. Artikel/ berita dimaksud dapat dikirimkan melalui kontak redaksi kami”.
Bergabung dengan SALURAN WA untuk dapatkan berita-berita terbaru TRIBRATA TV Online








