Sitaro, TRIBRATA TV
PT PLN (Persero) UP3 Tahuna ULP Siau kembali menjadwalkan pemadaman listrik bergilir di sejumlah wilayah. Alasan klasik soal keterbatasan daya pun disampaikan, namun keluhan masyarakat makin keras karena pemadaman dianggap terlalu sering dan merugikan aktivitas ekonomi.
Melalui aplikasi resmi Info Peningkatan Keandalan Kelistrikan PLN UID Sulutenggo, diumumkan bahwa pemadaman pada Minggu (28/9/2025), berlangsung mulai pukul 17.00 hingga 23.00 WITA. Wilayah terdampak mencakup Paniki, Ondong, Pehe, Kanawong, Lehi, Mini, Kinali, Winangun, Hiung, Kiawang, Kawahang, Niambangeng, hingga Batu Bulan.
Tidak hanya itu, pemadaman kembali dijadwalkan pada Senin (29/9/2025), dengan rentang waktu yang sama. Daerah yang terkena giliran antara lain Akesimbeka, Bahu, Sondang, PDAM, Buao Tarorane, Boulevard, dan Tarorane Pasar.
PLN mengakui penghentian pasokan listrik ini merupakan konsekuensi dari keterbatasan mesin pembangkit yang ada. “Kami mohon maaf atas ketidaknyamanan ini, semoga masyarakat dapat memahami,” demikian pernyataan resmi dari pihak PLN.
Namun, permintaan maaf tersebut tidak serta-merta meredam kekecewaan masyarakat. Justru, kritik tajam bermunculan dari berbagai kalangan yang menilai PLN seolah tak punya solusi permanen.
Salah satunya datang dari Erasmus Kalangit, Humas SPPG MBG. Ia berharap agar pemadaman tidak mengganggu jalannya kegiatan mereka. “Kami tahu PLN perusahaan besar, bonafit, dan profesional. Tapi kenapa soal mesin selalu jadi alasan klasik?” ujarnya.
Erasmus menyinggung soal penyedia mesin. Menurutnya, PLN seharusnya bisa lebih tegas dalam mengelola perusahaan penyedia mesin sewaan seperti Sewa Tama ataupun perusahaan lain yang berada di Sulawesi Utara.
Secara struktural, penyedia pembangkit dan mesin sebenarnya dikelola oleh subholding PLN Nusantara Power dan PLN Indonesia Power. Keduanya berperan penting memastikan ketersediaan listrik di berbagai daerah, termasuk Sitaro.
Meski demikian, masyarakat menganggap kinerja pembangkit masih jauh dari kata maksimal. “Kalau subholding sudah ada, kenapa pemadaman masih jadi masalah bulanan?” sindir seorang warga Ondong.
Kritik lain datang dari pengusaha kecil dan “Pencinta Sitaro Masadada”, Murinal Boham, pelaku UMKM, menyampaikan rasa frustrasinya. “Setiap bulan ada pemadaman, apa tidak ada cara lain? Kami rugi terus, apalagi yang jual kue dan ikan. Kami butuh es batu, tapi listrik sering mati,” tegasnya.
Ia bahkan menyebut pergantian pimpinan PLN di Siau tidak membawa perubahan. “Hanya melestarikan pola lama. Padahal kami butuh pemimpin yang bisa menyelesaikan masalah, bukan sekadar menggilir pemadaman,” tambahnya.
Melky Bahaghu, seorang warga Siau Timur mengatakan, mengapresiasi Pemerintah Daerah. Warga mengaku Bupati Chyntia Ingrid Kalangit dan Wakil Bupati Hieronimus Makainas sering menjadi jembatan aspirasi kepada PLN akan tetapi pihak PLN tidak menunjukan perubahan apapun dalam hal ini
Dari sisi teknis, ada pula kritik dari kalangan profesional. Seorang master engine di perusahaan pelayaran menilai mesin PLN tidak dikelola dengan baik. “Mesin kapal bisa awet sampai 50 tahun. Kenapa mesin PLN sedikit-sedikit rusak? Ada apa sebenarnya?” katanya penuh tanya.
Ia mendesak PLN agar memperhatikan manajemen perawatan mesin. “Kalau manajemen bagus, mesin seharusnya bisa bertahan lama. Jangan sampai masyarakat yang jadi korban akibat kelalaian teknis,” tambahnya.
Masyarakat mulai mengaitkan persoalan ini dengan kepercayaan terhadap PLN. Ketika listrik padam berkepanjangan, citra perusahaan pun ikut merosot.
Padahal, listrik kini sudah jadi kebutuhan pokok. Bukan hanya untuk rumah tangga, tapi juga untuk keberlangsungan UMKM, pendidikan, dan pelayanan publik seperti PDAM maupun kesehatan.
“Kami tidak bisa lagi menganggap listrik sebagai kemewahan. Ini kebutuhan dasar. Kalau sering padam, bagaimana kami bisa maju?” tanya seorang ibu rumah tangga di Lehi.
Masyarakat Sitaro menegaskan, mereka tidak anti-pemadaman jika alasannya jelas dan memang darurat. Tetapi bila pemadaman bergilir terus berulang setiap bulan, itu berarti ada yang keliru dalam perencanaan.
Kini, harapan besar ditujukan pada PLN UP3 Tahuna ULP Siau untuk segera menemukan solusi permanen. “Kami tidak butuh janji, kami butuh kepastian listrik menyala,” tutup Masadada dengan nada penuh harap. (Jemi Lahutung)
—————————————
“Apabila ada pihak yang merasa dirugikan dan atau keberatan dengan penayangan artikel dan atau berita tersebut di atas, Anda dapat mengirimkan artikel dan atau berita berisi sanggahan dan atau koreksi, sebagaimana diatur dalam Pasal 1 ayat (11) dan (12) Undang-Undang No. 40 tahun 1999 tentang Pers. Artikel/ berita dimaksud dapat dikirimkan melalui kontak redaksi kami”.
Bergabung dengan SALURAN WA untuk dapatkan berita-berita terbaru TRIBRATA TV Online









