Labusel, TRIBRATA TV
Isra Mi’raj Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bukan sekadar kisah perjalanan agung yang diulang saban tahun tanpa getar iman. Perjalanan ini adalah ultimatum langsung dari langit, perintah Ilahi yang diturunkan tanpa perantara bumi:tegakkan sholat atau bersiap menghadapi kehancuran spiritual.
Sebab sholat adalah garis pemisah yang tegas—antara iman dan kelalaian,antara keselamatan dan kebinasaan,antara hamba yang taat dan jiwa yang tersesat.
Pesan keras penuh peringatan inilah yang menggema dalam Peringatan Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW yang digelar Madrasah Aliyah Swasta (MAS) Islamiyah Kota Pinang, Selasa (3/2/2026). Kegiatan berlangsung khidmat,sarat muatan tauhid dan menjelma sebagai tamparan rohani bagi hati yang mulai lalai mengingat Allah,jangan lupa bahwa maut selalu mengintai tanpa aba-aba.
Peringatan tersebut turut dihadiri Ketua Yayasan H.Marhalim Harahap,S.E.,bersama Wakil Yayasan Ustadz H.Barham Siregar, yang memimpin rangkaian kegiatan sebagai ikhtiar menghadirkan kembali ruh keteladanan Rasulullah SAW di tengah tantangan zaman yang kian kompleks dan menggoda iman.
Dalam sambutannya,H.Marhalim Harahap menegaskan Isra Mi’raj bukan peristiwa historis yang cukup dikenang, melainkan peringatan keras agar umat tidak meremehkan sholat dan akhlak. Ia menilai krisis moral yang melanda masyarakat hari ini berakar dari jauhnya manusia terhadap disiplin ibadah dan keteladanan Nabi Muhammad SAW.
“Isra Mi’raj adalah titik perintah.Dari langit Allah mewajibkan sholat,bukan untuk memberatkan, tetapi untuk menyelamatkan manusia dari kehancuran akhlak dan kehampaan iman,”tegasnya.
Sementara itu,Wakil Yayasan,Ustadz H.Barham Siregar, dalam tausiahnya mengajak jamaah menjadikan Isra Mi’raj sebagai momentum muhasabah kolektif.Ia menegaskan bahwa perjalanan Nabi SAW adalah simbol pengangkatan derajat orang beriman yang istiqamah,sabar dan taat menjalankan perintah Allah.
“Jika Rasulullah SAW dimuliakan dengan perjalanan agung, maka umatnya dimuliakan dengan sholat. Barang siapa menjaga sholatnya, Allah akan menjaga hidupnya,”ujarnya dengan penekanan yang menyentuh relung hati jamaah.
Kepala Sekolah MAS Islamiyah Kota Pinang,H.Rahmat Ipan,S.Ag.,dalam sambutannya menegaskan Isra Mi’raj harus menjadi momentum mengembalikan arah umat dan pendidikan Islam ke jalur yang lurus. Menurutnya,sholat bukan sekadar kewajiban formal,melainkan tiang kehidupan yang menentukan nasib manusia di dunia dan akhirat.
“Madrasah ini bukan hanya tempat menimba ilmu, tetapi ladang menanam iman dan akhlak. Ilmu tanpa sholat hanyalah cahaya yang padam,”tegasnya.
Dengan mengusung tema “Meneguhkan Sholat sebagai Tiang Kehidupan”,tausiah utama disampaikan oleh Ustadz Faisal Ahmad. Dengan gaya lugas dan menghentak kesadaran, ia mengajak jamaah menatap satu kepastian hidup yang tak bisa ditawar siapa pun:kematian.
“Kematian itu bukan untuk ditakuti, tetapi dipersiapkan. Setiap ulang tahun bukan tanda umur bertambah panjang, melainkan isyarat bahwa kita semakin dekat ke liang lahat,”ujarnya.
Ustadz Faisal Ahmad menegaskan sholat adalah kebutuhan mutlak manusia,bukan kebutuhan Allah. Sholat tidak bisa diwakilkan, tidak bisa ditunda dan tidak gugur oleh alasan kesibukan dunia.
“Sholat adalah ruang pengaduan terbaik seorang hamba. Tempat Allah membuka pintu solusi. Jangan tinggalkan sholat, seberat apa pun dosa yang kita bawa,” katanya tegas.
Ia juga mengingatkan bahwa sholat tidak boleh dikerjakan asal-asalan. Kesempurnaan wudhu,kesucian pakaian dan menutup aurat adalah bagian tak terpisahkan dari keabsahan ibadah.
“Kalau wudhunya salah,sholatnya cacat. Kalau sholatnya rusak,dengan apa kita berharap rahmat Allah?” ucapnya.
Dalam tausiahnya,Ustadz Faisal meluruskan makna kebahagiaan sejati. Menurutnya,bahagia bukan diukur dari harta dan jabatan,melainkan dari iman dan rasa syukur.
“Ada yang hidup sederhana,naik sepeda, makan sambal terasi,tapi hatinya bahagia. Sementara yang hartanya melimpah justru gelisah.Bahagia itu buah iman,”tuturnya.
Peringatan ini dipertegas dengan firman Allah dalam Al-Qur’an Surat An-Nisa ayat 78,bahwa di mana pun manusia berada, kematian pasti akan mendatanginya,bahkan di balik benteng paling kokoh.Rasulullah SAW pun menegaskan bahwa kematian bagi orang beriman adalah peristirahatan, sementara bagi yang lalai adalah awal penyesalan panjang.
Sebagaimana sabda Nabi Muhammad SAW, sebaik-baik orang beriman adalah mereka yang paling banyak mengingat kematian dan paling siap menghadapi kehidupan setelahnya. Karena ketika manusia wafat, seluruh amal terputus kecuali tiga:sl sedekah jariyah,ilmu yang bermanfaat dan anak saleh yang mendoakan orang tuanya.
Peringatan Isra Mi’raj di MAS Islamiyah Kota Pinang pun menjelma bukan sekadar agenda seremonial,melainkan panggilan iman, peringatan ajal dan seruan perjuangan agar sholat ditegakkan, generasi dibina dan madrasah diteguhkan sebagai benteng peradaban Islam.
Karena hidup bukan tentang apa yang ditinggalkan di dunia,melainkan amal apa yang telah dipersembahkan sebelum pulang menghadap Allah Subhanahu wa Ta’ala. (Jhon Pitra)
—————————————
“Apabila ada pihak yang merasa dirugikan dan atau keberatan dengan penayangan artikel dan atau berita tersebut di atas, Anda dapat mengirimkan artikel dan atau berita berisi sanggahan dan atau koreksi, sebagaimana diatur dalam Pasal 1 ayat (11) dan (12) Undang-Undang No. 40 tahun 1999 tentang Pers. Artikel/ berita dimaksud dapat dikirimkan melalui kontak redaksi kami”.
Bergabung dengan SALURAN WA untuk dapatkan berita-berita terbaru TRIBRATA TV Online









