Warga Pandai Sikek Tanah Datar Pasang Baliho Tolak Geothermal

- Editorial Team

Jumat, 26 September 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Tanah Datar, TRIBRATA TV

Warga nagari menghiasi kampung dengan baliho-baliho besar berisi pesan tegas: “Kami Masyarakat Pandai Sikek Menolak Geothermal Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) di Nagari Pandai Sikek”

Baliho itu terpasang di persimpangan jalan utama, depan rumah gadang, hingga di area persawahan, Kamis (26/9/2025). Aksi tersebut menjadi simbol sikap kolektif masyarakat Pandai Sikek yang menempatkan pertanian sebagai prioritas utama dan jalan hidup yang harus dijaga.

Pandai Sikek selama ini dikenal sebagai nagari yang mapan dalam sektor pertanian kawasan ini memiliki tanah subur yang dimanfaatkan untuk menanam padi, bawang merah, sayur-mayur, hingga palawija. Hasilnya tidak hanya memenuhi kebutuhan lokal, tetapi juga dipasarkan ke berbagai daerah di Sumatera Barat.

“Bagi kami, tanah dan sawah adalah harta tak ternilai. Pertanian sudah sejak lama menjadi nafas kehidupan di Pandai Sikek. Kehadiran proyek geothermal dikhawatirkan akan merusak lingkungan, mengancam lahan pertanian, dan menciptakan konflik horizontal. Karena itu, melalui momentum Hari Tani Nasional, kami bersatu menyuarakan penolakan kami,” ujar seorang tokoh masyarakat yang identitasnya disamarkan.

BACA JUGA  Polisi Beri Pengamanan Berlapis pada Debat Paslon Walikota Bukittinggi

Data dari Kabupaten Tanah Datar menunjukkan bahwa sektor pertanian berkontribusi sekitar 29,81 % terhadap PDRB (Produk Domestik Regional Bruto). Lebih dari 70 % penduduk Tanah Datar menggantungkan hidupnya pada pertanian, baik dalam bentuk tanaman pangan, hortikultura, perkebunan, peternakan, maupun perikanan.

Fakta ini menegaskan bahwa pertanian bukan sekadar aktivitas ekonomi, melainkan tulang punggung kesejahteraan daerah.

Dalam tiga tahun terakhir, PDRB Tanah Datar meningkat lebih dari Rp1,40 triliun. Pertumbuhan ini tidak terlepas dari stabilitas sektor pertanian sebagai pilar utama ekonomi daerah. Dengan capaian ini, masyarakat Pandai Sikek semakin yakin bahwa mempertahankan pertanian jauh lebih menjanjikan daripada membuka ruang bagi proyek geothermal.

Seorang petani muda mengungkapkan hal serupa. “Pertanian itu jelas. Sawah yang kami garap hari ini, hasilnya bisa kami nikmati besok. Panen bisa langsung dijual ke pasar, membuka lapangan kerja, dan menghidupi keluarga. Geothermal mungkin menjanjikan pekerjaan, tapi hanya untuk segelintir orang, sementara risikonya bisa menghancurkan tanah yang jadi sumber hidup kami,” katanya.

BACA JUGA  Kapolda Sumbar Pimpin Deklarasi Pelajar Anti Tawuran dan Balap Liar

Warga Pandai Sikek memandang geothermal bukan sekadar proyek energi, melainkan ancaman terhadap keberlanjutan hidup mereka. Proyek ini membutuhkan pemboran, jaringan pipa, dan infrastruktur skala besar yang berpotensi mengganggu aliran air tanah serta merusak struktur tanah subur.

Selain itu, keuntungan dari geothermal cenderung mengalir ke perusahaan besar atau investor, sementara masyarakat lokal hanya menerima dampak lingkungan. Pekerjaan yang disediakan pun terbatas, tidak sebanding dengan ribuan keluarga yang hidup dari pertanian sehari-hari.

“Kalau sawah kami rusak, apa yang bisa kami makan? Apa yang bisa kami wariskan? Pertanian bisa terus ada sepanjang generasi, tapi geothermal hanya proyek sementara. Kami tidak ingin mempertaruhkan masa depan anak-cucu demi keuntungan sesaat,” ungkap seorang bundo kanduang yang ikut memasang baliho.

Perayaan Hari Tani Nasional 2025 di Pandai Sikek akhirnya berubah menjadi momen perlawanan sekaligus refleksi. Bagi masyarakat, mempertahankan pertanian bukan hanya soal menjaga profesi, tetapi juga menjaga identitas, budaya, dan keberlanjutan lingkungan.

Selain baliho, peringatan juga diisi dengan diskusi antara generasi tua dan muda mengenai inovasi pertanian, penggunaan pupuk organik, hingga rencana mengembangkan agrowisata berbasis lanskap budaya.

BACA JUGA  Warga Tolak Pengembang PT Duta Mas Sentosa

Hal ini menunjukkan masyarakat Pandai Sikek tidak anti pembangunan, melainkan ingin pembangunan yang sesuai dengan kebutuhan mereka dan berpihak pada rakyat.

“Kami bukan menolak pembangunan. Kami hanya ingin pembangunan yang menjaga tanah dan air, bukan yang mengorbankannya. Pertanian adalah masa depan kami, sekaligus masa depan nagari ini,” tegas seorang pemuda Pandai Sikek. (Rizki ahmad rifandi)

—————————————

Apabila ada pihak yang merasa dirugikan dan atau keberatan dengan penayangan artikel dan atau berita tersebut di atas, Anda dapat mengirimkan artikel dan atau berita berisi sanggahan dan atau koreksi, sebagaimana diatur dalam Pasal 1 ayat (11) dan (12) Undang-Undang No. 40 tahun 1999 tentang Pers. Artikel/ berita dimaksud dapat dikirimkan melalui kontak redaksi kami”.

Bergabung dengan SALURAN WA untuk dapatkan berita-berita terbaru TRIBRATA TV Online

Berita Lainnya

Polres Lhokseumawe Gelar Nonton Bareng Final Piala Dunia 2026, Pererat Kebersamaan Bersama Masyarakat
Perkuat Sinergi Demi Kemajuan Daerah, Plt. Bupati Sitaro Satukan Forkopimda dalam Pertemuan Penuh Keakraban
Harmonisasi Dua Rancangan Perbup, Pemkab Sitaro Matangkan Tata Kelola Arsip dan Arah Pembangunan 2027
Temu Kangen Nelayan Jawa-Bali di Pantai Bulusan: Meriah dengan Lomba Perahu Layar
15.080 Pelari Ramaikan Riau Bhayangkara Run 2026
Kapolres Lhokseumawe Hadiri Pisah Sambut Dandim 0103/Aceh Utara, Tegaskan Komitmen Perkuat Sinergitas TNI-Polri
Nasir Nurdin Nyatakan Siap Maju Kembali sebagai Ketua PWI Aceh Periode 2026–2031
Mahasiswa Universitas Ibrahimmy Genteng KKN di Desa Srateng Cluring

Berita Lainnya

Senin, 20 Juli 2026 - 07:00 WIB

Polres Lhokseumawe Gelar Nonton Bareng Final Piala Dunia 2026, Pererat Kebersamaan Bersama Masyarakat

Minggu, 19 Juli 2026 - 19:37 WIB

Perkuat Sinergi Demi Kemajuan Daerah, Plt. Bupati Sitaro Satukan Forkopimda dalam Pertemuan Penuh Keakraban

Minggu, 19 Juli 2026 - 16:41 WIB

Harmonisasi Dua Rancangan Perbup, Pemkab Sitaro Matangkan Tata Kelola Arsip dan Arah Pembangunan 2027

Minggu, 19 Juli 2026 - 15:26 WIB

Temu Kangen Nelayan Jawa-Bali di Pantai Bulusan: Meriah dengan Lomba Perahu Layar

Minggu, 19 Juli 2026 - 14:10 WIB

15.080 Pelari Ramaikan Riau Bhayangkara Run 2026

Berita Terbaru

Peristiwa

Ledakan di Perumahan Grand Polonia Medan, 5 Rumah Porak Poranda

Senin, 20 Jul 2026 - 14:37 WIB