Sitaro, TRIBRATA TV
Musibah tragis terbakarnya KM Barcelona VA di perairan Kepulauan Talise, Minggu (20/7/2025) lalu, mengguncang nurani banyak pihak. Tak hanya keluarga korban, tapi juga para pemangku kepentingan daerah. Ketua DPRD Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang Biaro, Djon Ponto Janis, SH, angkat bicara dengan nada tegas namun penuh empati atas tragedi yang merenggut tiga nyawa dan nyaris membawa lebih banyak korban jiwa.
“Sangat memprihatinkan. Kita berharap pihak pengelola kapal benar-benar memperhatikan aspek keselamatan, mulai dari kapasitas muatan, jumlah penumpang, hingga kelengkapan life jacket,” ujarnya dalam keterangan kepada wartawan, Rabu (23/7/2025). Ia menegaskan pentingnya komunikasi dan edukasi terhadap penumpang sebagai langkah pencegahan dini.
Tragedi itu menelan tiga korban jiwa, yakni Asna Lapae (50), Zakaria Tindiuling, dan Juliana Humulung (40). Ketiganya merupakan warga Kabupaten Kepulauan Talaud yang sedang dalam perjalanan untuk mendapatkan pelayanan medis di Manado. “Ini bukan sekadar kehilangan pribadi, tapi duka bersama kita semua,” ungkap Djon, menahan keharuan.
Di sisi lain, lima warga Kabupaten Sitaro yang turut dalam pelayaran tersebut berhasil diselamatkan oleh nelayan asal Gangga, Talise, dan masyarakat pesisir Likupang. Mereka di antaranya Hilda Jein Palandung dari KPUD Talaud, Radon Enol Panese sang mekanik, serta Nur Maitun, guru TK di Mabura yang juga ASN.
Dua lainnya, Andrew Darea dari Kampung Mahangiang dan Riko Tamalero dari Kampung Lesah, adalah pekerja di Bank BRI Cabang Talaud. Meski berhasil dievakuasi dalam kondisi lemah, keduanya selamat dari amukan api di laut lepas. Ketua DPRD menyebut para penyintas ini sebagai saksi hidup penting yang bisa memberikan gambaran utuh soal apa yang sebenarnya terjadi di atas kapal.
Menurut Djon, perlu ada evaluasi menyeluruh terhadap sistem pelayaran, terutama di jalur-jalur antarpulau yang selama ini minim pengawasan. Ia juga mendorong agar pemerintah daerah maupun pusat memastikan bahwa standar keselamatan pelayaran diberlakukan dengan ketat tanpa kompromi.
“Kita tidak boleh menunggu musibah berikutnya baru bereaksi,” tegasnya. Ia menilai, aspek keselamatan pelayaran bukan hanya soal regulasi, melainkan soal nyawa manusia. Semua pihak, mulai dari pemilik kapal hingga otoritas pelabuhan, harus bertanggung jawab atas kelalaian sekecil apa pun.
Duka ini menjadi cambuk bagi semua. Ketua DPRD berharap musibah ini bisa menjadi titik balik dalam membenahi sistem pelayaran rakyat. “Jangan ada lagi Asna, Zakaria, atau Juliana yang menjadi korban karena kelalaian yang seharusnya bisa dicegah,” pungkasnya. (Jemi Lahutung)
—————————————
“Apabila ada pihak yang merasa dirugikan dan atau keberatan dengan penayangan artikel dan atau berita tersebut di atas, Anda dapat mengirimkan artikel dan atau berita berisi sanggahan dan atau koreksi, sebagaimana diatur dalam Pasal 1 ayat (11) dan (12) Undang-Undang No. 40 tahun 1999 tentang Pers. Artikel/ berita dimaksud dapat dikirimkan melalui kontak redaksi kami”.
Bergabung dengan SALURAN WA untuk dapatkan berita-berita terbaru TRIBRATA TV Online









