IMG-20240501-WA0019
Hukum  

Patroli Gabungan Temukan Beras dan Migor di Jalur Tikus Entikong

IMG-20240409-WA0076

Sanggau, TRIBRATA TV

Tim patroli gabungan optimalisasi fungsi Perkarantinaan di Pos Lintas Batas Negara (PLBN) Entikong, Sanggau menemukan ratusan kilogram beras dan minyak goreng di jalur tikus (perlintasan tidak resmi) perbatasan Indonesia- Malaysia, Rabu (3/4/2024).

IMG-20240227-124711

Komoditas tersebut ditemukan pada dua lokasi yang berbeda di sisi kanan PLBN Entikong.

Pada mulanya, tim gabungan yang dipimpin Kepala Badan Karantina Indonesia, Sahat M Panggabean melakukan penelusuran di jalur tikus sisi kanan PLBN Entikong. Saat melintasi persimpangan jalan ditemukan beberapa tumpukan plastik, tas dan bekas alas kaki yang masih baru ditinggalkan. Setelah diperiksa, isi tas dan kantong plastik tersebut adalah beras dari Malaysia.

Pada saat melewati jalur pulang, tim kembali menemukan dua kardus yang dibungkus plastik hitam dalam semak-semak. Setelah dibuka, kardus tersebut berisi minyak goreng yang bertuliskan “Minyak Masak”, dan diketahui berasal dari wilayah Malaysia.

Dari dua temuan tersebut, diduga komoditas sengaja ditinggalkan sebelum tim patroli gabungan melintas.

“Aktivitas-aktivitas ini nih yang kita hindari, ini bisa jadi pintu masuk bioterorisme, sehingga itulah pentingnya kita bersinergi,” ungkap Sahat di lokasi penemuan media pembawa ilegal di jalur tikus tersebut.

Menurut informasi dari Deputi Bidang Pengelolaan Batas Wilayah Negara BNPP RI, di wilayah Kalimantan Barat setidaknya terdapat 54 jalur tikus yang terbagi di Kabupaten Sambas, Bengkayang, dan Sanggau.

Dalam patroli tersebut, Sahat menekankan untuk mengoptimalkan kinerja di perbatasan, terutama terkait pengawasan karantina, yang perlu dilakukan adalah sinergi antar-instansi.

Menurut Sahat, tujuan patroli bersama tersebut adalah untuk mempererat hubungan dan komunikasi. Dengan demikian bisa memperkuat kolaborasi itu sendiri.

“Karantina itu bukan tentang nilai, sedikit dan banyak barang itu, punya risiko yang sama, sehingga kita harus sama-sama mengetahui hal tersebut,” ungkapnya.

Amdali Adhitama, Kepala Balai Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan Kalimantan Barat yang juga mengikuti rangkaian kegiatan tersebut membenarkan bahwa jalur tikus di perbatasan darat Indonesia Malaysia menjadi permasalahan tersendiri.

Potensi masuk dan tersebarnya hama penyakit melalui komoditas selundupan tersebut sangat potensial. Sehingga pihaknya dalam melakukan pelayanan karantina di PLBN Entikong terus menggandeng semua unsur agar mengerti dan memahami tugas karantina serta turut mendukungnya.

“Komoditas tersebut nanti akan diproses sesuai Undang-Undang Karantina dan tentunya kita terus bersinergi agar hal-hal seperti ini dapat diantisipasi dihari mendatang,” ungkapnya.

Amdali menjelaskan temuan media pembawa dalam patroli gabungan tersebut terdiri dari beras 100 kg (terbagi dalam 10 kantong) dan minyak goreng 75 liter.

Terakhir Kepala Badan Karantina Indonesia, Sahat Manaor Panggabean menginstruksikan kepada pada seluruh jajaran karantina baik yang di pos lintas batas maupun di tempat pemasukan dan pengeluaran lain untuk selalu membina sinergi antarlembaga untuk memperkuat fungsi dan tugas karantina.

IMG-20240310-WA0073