Yogyakarta, TRIBRATA TV
Udara sejuk kaki Gunung Merapi seolah ikut terbawa hingga ke jantung Kota Yogyakarta pada Kamis (2/4/2026). Di antara ribuan barisan yang memadati Sumbu Filosofi, nampak rombongan dari Kalurahan Pakembinangun, Kapanewon Pakem, melangkah dengan penuh khidmat.
Mereka bukan sekadar berjalan, melainkan membawa “tanda cinta” dari masyarakat desa untuk sang pengayom, Sri Sultan Hamengku Buwono X, yang genap menginjak usia 80 tahun.
Dengan balutan busana adat Jawa yang rapi, para pamong dan perwakilan warga Pakembinangun bergabung dalam barisan raksasa yang terdiri dari sekitar 10.000 hingga 12.000 orang dari 438 kalurahan se-DIY. Keikutsertaan mereka dalam acara Kirab Mangayubagya Yuswa Dalem ini menjadi simbol kuatnya ikatan batin antara rakyat dan rajanya.
Membawa Hasil Bumi sebagai Simbol Syukur
Rombongan Pakembinangun tidak datang dengan tangan hampa. Seperti halnya semangat sowan ke Kraton, mereka membawa hasil bumi unggulan dari wilayahnya sebagai persembahan sukarela. Sayur-mayur dan buah-buahan segar yang tumbuh subur di tanah Pakem menjadi saksi bisu rasa syukur warga atas kepemimpinan Sultan yang telah membawa keteduhan selama puluhan tahun.
“Ini adalah bentuk nguri-nguri budaya sekaligus ungkapan terima kasih kami. Kami datang dari Pakem untuk mendoakan Ngarsa Dalem agar senantiasa diberikan kesehatan dan kebijaksanaan,” ujar Suranto Lurah Pakem Binangun dengan wajah yang berbinar meskipun matahari mulai menyengat.
Melintasi Malioboro, Menuju Gerbang Kraton
Memulai langkah dari Titik Nol Kilometer, barisan Pakembinangun melintasi kawasan Malioboro yang telah ditutup total demi menghormati jalannya prosesi bersejarah ini. Sepanjang jalan, ribuan pasang mata masyarakat dan wisatawan menyaksikan momen langka ini, di mana batas antara pemimpin dan rakyat seolah melebur dalam harmoni budaya.
Kehadiran Kalurahan Pakembinangun dalam kirab ini menegaskan kembali jati diri mereka sebagai desa yang menjunjung tinggi nilai historis dan kebersamaan.
Bagi warga Pakembinangun, perjalanan jauh dari utara Sleman menuju Kraton bukanlah sebuah beban, melainkan sebuah kehormatan. Di hari ulang tahun ke-80 ini, mereka tidak hanya membawa gunungan hasil bumi, tetapi juga membawa doa-doa tulus agar Yogyakarta tetap menjadi Daerah yang Istimewa, damai, dan sejahtera di bawah naungan Sang Sultan.(Didik)
—————————————
“Apabila ada pihak yang merasa dirugikan dan atau keberatan dengan penayangan artikel dan atau berita tersebut di atas, Anda dapat mengirimkan artikel dan atau berita berisi sanggahan dan atau koreksi, sebagaimana diatur dalam Pasal 1 ayat (11) dan (12) Undang-Undang No. 40 tahun 1999 tentang Pers. Artikel/ berita dimaksud dapat dikirimkan melalui kontak redaksi kami”.
Bergabung dengan SALURAN WA untuk dapatkan berita-berita terbaru TRIBRATA TV Online








