‎Eks Sekum PGIW-SU Prihatin Ada Pihak Ingin Rebut Gereja: Satu Batupun Tiada dari USU Bangun Itu

- Editorial Team

Selasa, 9 Juni 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Medan, TRIBRATA TV

‎Lagi-lagi fakta baru kembali tersingkap perjalanan panjang terkait gedung Persekutuan Oikumene Umat Kristen (POUK) Gereje Oikoumene – Chapel USU Medan.

Terungkapnya sejarah ini turut mematahkan ‘akal-akalan’ segelintir oknum dan elit yang ngotot untuk mengosongkan gereja dengan dalih renovasi, padahal diduga keras ada niat ‘jahat’ terselubung di dalamnya.

Eks sekretaris Umum Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI) Wilayah Sumut 2 periode 2001-2010 dan 2017, Pdt. Dr. Langsung Sitorus, M.Th turut prihatin dengan cara-cara segelintir oknum dan elit untuk mengambil alih pucuk kepemimpinan Gereja Oikumene Chapel USU.

Pendeta yang sudah sepuh ini menegaskan, bahwa Gereja Oikumene Chapel USU adalah milik masyarakat Kristen Sumatera Utara, bukan milik tujuh orang oknum yang mengklaim sebagai pemegang hak pengelolaan tanah dari USU.

“Jemaat kita disini yang mau direbut oleh beberapa orang untuk dibuat usahanya sendiri, saya sangat prihatin keadaan ini,” ujar Ephorus Huria Kristen Indonesia (HKI) periode 2010–2015 dihadapan para majelis.

Dengan tegas, ia meminta seluruh pelayan, majelis dan jemaat gereja untuk mempertahankannya, karena gereja itu dibangun bukan dengan menggunakan dana Universitas Sumatera Utara, melainkan dengan airmata dan hasil keringat jemaat. Bahkan, kata dia, yang berasal dari luar USU juga turut membantu pembangunannya kala itu.

“Ingat, saya adalah saksi sejarah yang menempatkan Pdt. Gloria Iriany Balle, S.Th.,M.Div untuk melayani di gereja Oikoumene ini,” ujar dia dengan mata berkaca-kaca karena mengingat bagaimana perjuangan orangtua dulu mendirikan gereja di lingkungan kampus USU.

‎”Dan ingatlah kalau bapak/ibu tidak mau mempertahankan (Gereja Oikoumene), maka Tuhan akan marah. Sudah meneteskan air mata dan air dingin orangtua kita mendirikan ini,” ujar Pdt. Langsung Sitorus yang dikenal rendah hati ini.

Dia juga memaparkan riwayat singkat berdirinya Gereja Oikoumune Chapel USU, ujarnya, karena umat Kristen di USU dulu sempat tidak diperbolehkan memakai ruangan-ruangan di USU kebaktian, lalu waktu itu ada tanah kosong disini seluas tempat gereja saat ini.

Para orangtua dulu tanpa melibatkan pihak USU, beberapa dosen bersepakat mendirikan rumah ibadah tanpa surat, sebab dulu hal itu bisa. Dan inilah hasilnya yang sekarang. Ditegaskannya, tidak ada satu batu pun dari institut atau lembaga USU kesini.

“Orangtua kita yang bekerja di USU memulai pergerakan itu, mula-mula namanya Persekutuan Warga Kristen USU. Tapi melihat perkembangan warga jemaat dari non USU yang bukan bekerja di USU bertambah-tambah masuk, dan menambah kekuatan untuk membangun, lalu mereka mengganti nama menjadi Persekutuan Oikoumene Umat Kristen (POUK), atau disebut Gereja Oikoumene atau Chapel USU,” tukas dia.

BACA JUGA  ‎Pertemuan PGI-HKBP dengan Jusuf Kalla, GAMKI: Penting Menghormati Proses Hukum

Dia juga menjelaskan, terkait kenapa memakai nama Chapel, tujuannya agar tidak di pertanhakan surat izinnya. Karena saat itu, Chapel tidak membutuhkan surat izin dari pemerintah.

Setelah membangun persekutuan tersebut, kemudian ia menempatkan Pdt. Gloria Iriany Balle. Semua disini berjalan baik dan penuh damai sejahtera. Lantas, kenapa para oknum ingin mengosongkan Gereja.

“Saya terkejut mendengar mengapa diganggu. Niatnya saya lihat kurang baik, sudah ada pengalaman kurang baik diantara orang Kristen di Medan ini, yang menganggarkan kuasa dan kedudukan di negara,” ujarnya dengan suara parau karena sedih.

Selain itu, dikutip dari laman media sosial Facebook miliknya, pendeta yang dikenal memiliki latar belakang kepemimpinan dan pendidikan yang kuat di dunia pelayanan Kristen tersebut mempertanyakan, mengapa orang kristen saling menghancurkan?. Ia merujuk yang terjadi di POUK Chapel USU?. Dia menuliskan itu tak lain karena prihatin keadaan di Gereja Oikoumene saat ini.

Diberitakan sebelumnya, permainan tingkat tinggi tengah dimainkan oleh para elit tertentu, guna mendepak pimpinan Gereja dari gedung POUK Gereja Oikoumene Chapel USU, Pdt. Gloris Iriany Balle.

Perlawanan keras muncul dari para majelis dan jemaat. Mereka menegaskan siap untuk martir melawan ketidakadilan dan intimidasi.

Tekanan demi tekanan yang gencar datang dari rektorat USU serta Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia Wilayah Sumatera Utara (PGIW-SU) justru direspons dengan perlawanan yang makin solid.

Bahkan, mereka siap martir untuk mempertahankan hak dasar beribadah di gedung Gereja Oikoimene tersebut. Para majelis dan jemaat tidak gentar terhadap siapapun, karena hanya Tuhan yang pantas ditakuti, bukan para elit yang haus kekuasaan.

“Sekuat apapun tekanan kami tidak takut sedikit pun. Martir pun siap demi mempertanyakan iman dan hak beribadah di Gereja Oikoumene Chapel USU. Kami hanya takut kepada Tuhan,” tegas seorang majelis.

Kini bentuk perlawanan itu tambah panas, pasca terbitnya dua pucuk surat pada tanggal yang sama, bahwa kedua lembaga itu kompak mengusir pimpinan jemaat.

Wakil Rektor Bidang Perencanaan, Infrastruktur, dan Bisnis USU, Muhammad Anggia Muchtar, secara berkala melayangkan surat peringatan ketiga untuk segera mengosongkan gedung gereja.

Surat Ketua Umum PGIW-SU, Pdt. Dr. Victor Tinambunan, yang mengeluarkan surat resmi berlogo PGI Nomor 101/B/PGIW-SU/VI/2026, justru memanaskan situasi. Surat itu secara mengejutkan menyatakan bahwa pimpinan gereja, Pdt. Gloria Iriany Balle, S.Th.,M.Div, bukanlah Pendeta Tenaga Utusan Gereja (TUG) PGIW-SU, sekaligus melarangnya menggunakan atribut persekutuan tersebut.

Keputusan dari kedua lembaga besar itu sangat disayangkan banyak pihak, karena alih-alih meredam situasi, langkah itu justru dapat memicu terjadinya pertikaian antar sesama umat beragama.

BACA JUGA  ‎Kampus USU 'Ikut Campur' Konflik Internal Gereja hingga Penutupan, MUKI Pasang Badan Bela Jemaat

‎Kekompakan manuver itu langsung menuai kecaman keras. Ketua Majelis Umat Kristen Indonesia (MUKI) Sumut, Dedy Mauritz Simanjuntak menilai tindakan berulang dari rektorat sangat berbahaya.

“Mengirim surat pengosongan gedung gereja secara paksa hingga tiga kali, ini sama saja memantik amarah dan perpecahan sesama umat agama Kristen. Mohon kepada rektorat USU lebih bijak dan beradab. Jangan berlindung dengan berjubahkan nama besar USU,” tegas Dedy.

Dalih renovasi dan penataan gedung yang selama ini didengungkan olek rektorat USU dinilai banyak pihak hanya sebuah akal-akalan belaka untuk mendepak Pdt. Gloria Iriany Balle dari kursi kepemimpinan POUK Gereja Oikoumene Chapel USU.

‎Disisi lain, fakta di lapangan menunjukkan kualitas dan kuantitas fisik bangunan Gereja Oikoumene Chapel USU, masih sangat kokoh, utuh, dan jauh dari kata tidak layak. Oleh karena itu, tidak ada urgensi mendesak dilakukannya renovasi dan revitalisasi.

Wacana renovasi itu diduga kuat menjadi dalih untuk memuluskan perebutan kursi kepemimpinan POUK Gereja Oikoumene oleh oknum elit pengurus Persekutuan Iman Warga Kristen (PIWK) baru yang legal standingnya masih dipertanyakan, dan disinyalir tidak sesuai mekanisme AD/ART.

Diketahui, kekisruhan berkepanjangan ini memiliki akar sejarah yang panjang. Pada tahun 1986, Rektor USU kala itu, Prof. Dr. AP. Parlindungan, S.H resmi mengeluarkan SK penetapan lahan seluas 750 meter persegi bagi PIWK Kampus USU, dengan status hak pakai untuk aktivitas kerohanian.

Namun belakangan diketahui bahwa seluruh biaya pembangunan POUK Gereja Oikoumene Chapel USU murni merupakan swadaya serta biaya jemaat sendiri.

‎Jemaat menyebut konflik murni bermula dari mandeknya regenerasi kepengurusan majelis yang mayoritas diisi para profesor pendiri yang telah lanjut usia.

Niat untuk meregenerasi pengurus harian justru berujung penolakan oleh majelis lama. Situasi makin meruncing ketika kelompok majelis baru yang mengaku pengurus PIWK, secara sepihak membawa masalah itu ke ranah rektorat USU, yang berujung munculnya tindakan intimidatif dan tak manusiawi yang dilakukan, seperti penutupan paksa gedung gereja dengan menggunakan seng, menggembok, serta pemasangan spanduk pelarangan seluruh aktifitas peribadatan.

Menghadapi rentetan tindakan diskriminatif yang terus merongrong pelayanan pimpinan gereja yang telah mengabdi selama puluhan tahun itu, maka para majelis dan jemaat menolak untuk tunduk. Mereka berkumpul di dalam ruang ibadah dan menyatukan tekad dan suara menggema melalui deklarasi resmi pertanda siap melawan ketidakadilan

‎Dalam pernyataan sikap itu, seluruh majelis dan jemaat secara lantang menyuarakan komitmen untuk mendukung sepenuhnya kepemimpinan dan pelayanan Pdt. Gloria Iriany Balle, S.Th.,M.Div sebagai Tenaga Utusan Gereja di POUK Gereja Oikoumene Chapel USU.

BACA JUGA  ‎Pertemuan PGI-HKBP dengan Jusuf Kalla, GAMKI: Penting Menghormati Proses Hukum

Selanjutnya, mereka menegaskan kembali status historis bahwa POUK Gereja Oikoumene Chapel USU merupakan murni gereja di bawah binaan PGI Wilayah Sumatera Utara. Hal itu dibuktikan dengan dokumen resmi yang disepakati.

Berikut kutipan pernyataan sikap dan deklarasi mereka yang dikutip media ini dari video :

‎Shalom.

‎Kami dari Jemaat POUK Chapel USU Gereja Oikoumene menyatakan:

‎1. Tetap mendukung ibu Pendeta Gloria I Balle sebagai Tenaga Utusan Gereja di POUK Chapel USU Gereja Oikoumene ini.

‎2. POUK Chapel USU Gereja Oikoumene merupakan Gereja dibawah binaan PGI Wilayah Sumatera Utara.

‎3. Kami tetap beribadah di POUK Chapel USU Gereja Oikoumene, Jalan Dr. Sumarsono No 66, Medan. Tuhan Yesus Memberkati, Shalom.

Dikonfirmasi terpisah, Ketua Umum PGIW-SU, Pdt. Dr. Victor Tinambunan, menjelaskan bahwa keputusan pencabutan dukungan pada awal Juni itu diambil melalui Rapat MPH demi mencari solusi terbaik, menyusul ketidakhadiran Pdt. Gloria setelah beberapa kali diundang.

Pdt. Victor menambahkan, bahwa PGI-SU  tidak menerbitkan SK, karena Pdt Gloria tidak pernah menerima SK dari PGIW-SU dan Pdt. Gloria Iriany Balle tidak diperkenankan menggunakan logo PGI karena beliau tidak ada hubungan dengan PGIW SU lagi. Victor juga menyebut jemaat dapat beribadah di ruangan sementara yang disediakan kampus USU.

Disinggung mengenai apakah Ketua Umum PGIW-SU mengetahui sejarah pembangunan gedung, Pdt. Victor menyebut kurang mengetahui sejarahnya, dan hanya mengetahui lahan itu milik USU.

Sementara itu, dikonfirmasi ulang ketidak hadirannya pada rapat undangan PGIW-SU, Pdt Gloria Iriany Balle menyampaikan bahwa PGIW-SU tidak mengakomodir permohonan para majelis dan jemaat.

“Sudah seyogianya hasil rapat yang kami berikan ke PGIW-SU agar pengurus yang telah terpilih dalam rapat dilantik. Sudah dua kali kami berikan surat, tapi tidak ditindaklanjuti, malah mengabaikan, urusan kami tidak itu saja, jadi kami fokus pada pelayanan,” pungkas Pdt. Gloria I Balle. (red)

—————————————

Apabila ada pihak yang merasa dirugikan dan atau keberatan dengan penayangan artikel dan atau berita tersebut di atas, Anda dapat mengirimkan artikel dan atau berita berisi sanggahan dan atau koreksi, sebagaimana diatur dalam Pasal 1 ayat (11) dan (12) Undang-Undang No. 40 tahun 1999 tentang Pers. Artikel/ berita dimaksud dapat dikirimkan melalui kontak redaksi kami”.

Bergabung dengan SALURAN WA untuk dapatkan berita-berita terbaru TRIBRATA TV Online

Berita Lainnya

OTT KPK di Muara Enim: Bupati Edison Ditangkap, Kantor Pemkab Disegel
Skandal Pembangkangan!, DPRD Labuhanbatu ‘Diludahi’
‎Seorang Jurnalis di Sumut Raih Gelar Doktor, Disertasinya Terkait Citra Polri
Majelis-Jemaat Gereja Oikoumene USU Siap Martir Melawan Ketidakadilan
Serah Terima 70 Kunci Huntap Dolok Nauli: Pemkab Taput Minta Warga Jaga Kekompakan dan Kebersihan
Sinergi Pemerintah dan Gereja, Bupati Taput Ajak Umat Katolik Jadi Garam dan Terang Masyarakat
Pengusaha Galian C di Palembang Aniaya Sopir, Ternyata Ini Penyebabnya
Usai Viral, Ini Pengakuan Korban dan Kordinator SPPG Asahan

Berita Lainnya

Selasa, 9 Juni 2026 - 14:56 WIB

‎Eks Sekum PGIW-SU Prihatin Ada Pihak Ingin Rebut Gereja: Satu Batupun Tiada dari USU Bangun Itu

Selasa, 9 Juni 2026 - 11:19 WIB

OTT KPK di Muara Enim: Bupati Edison Ditangkap, Kantor Pemkab Disegel

Selasa, 9 Juni 2026 - 01:41 WIB

‎Seorang Jurnalis di Sumut Raih Gelar Doktor, Disertasinya Terkait Citra Polri

Senin, 8 Juni 2026 - 23:11 WIB

Majelis-Jemaat Gereja Oikoumene USU Siap Martir Melawan Ketidakadilan

Senin, 8 Juni 2026 - 20:45 WIB

Serah Terima 70 Kunci Huntap Dolok Nauli: Pemkab Taput Minta Warga Jaga Kekompakan dan Kebersihan

Berita Terbaru

Opini

Mencuci Uang di Negeri Sendiri

Selasa, 9 Jun 2026 - 14:33 WIB